UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Anak gubernur yang dibunuh menghadapi ancaman pembunuhan

Januari 5, 2017

Anak gubernur yang dibunuh menghadapi ancaman pembunuhan

Shaan Taseer menyalakan lilin pada 15 Maret 2015 untuk mengungkapkan solidaritas dengan komunitas Kristen setelah serangan teroris di gereja di Lahore.

 

Anak seorang gubernur Pakistan yang dibunuh telah menerima ancaman pembunuhan setelah mengkritik Undang-Undang (UU) Penghujatan negara itu dalam pesan Natal pada forum media sosial.

Dalam pesan video, Shaan Taseer menyebut UU Penghujatan tidak manusiawi dan mendesak warga Pakistan mengenang dalam doa-doa mereka untuk Asia Bibi dan Nabeel Masih yang dihukum mati.

Taseer adalah putra Salman Taseer, yang ditembak mati di Islamabad oleh pengawalnya Mumtaz Qadri saat menjabat sebagai gubernur Punjab  pada 4 Januari 2011.

Penembakan itu terjadi hari-hari setelah ia bertemu Asia Bibi di penjara dan menyerukan amandemen UU Penghujatan.

Bibi, seorang Katolik dan ibu dari lima anak, dijatuhi hukuman mati tahun 2010 karena diduga menghina Nabi Muhammad, namun dia membantah.

“Saya meminta Anda untuk berdoa bagi orang-orang yang telah mengalami penganiayaan agama terutama Asia Bibi, Nabeel Maish, keluarga mereka, dan semua orang Pakistan yang telah menjadi korban oleh UU yang tidak manusiawi ini. Kita harus mengenang mereka dalam doa-doa kita sehingga penderitaan mereka berakhir,” kata anak gubernur itu dalam pesan video 33 detik.

Video itu mendapat respon marah dan ancaman pembunuhan dari kelompok Islam garis keras Pakistan yang sangat menentang setiap seruan untuk perubahan UU Penghujatan.

Kelompok ini segera mengajukan keluhan kepada polisi, sementara ulama juga mengeluarkan fatwa, menyerukan Taseer harus dibunuh.

Namun, Taseer tetap menantang dan berjanji akan melanjutkan kampanyenya agar UU tersebut diubah.

Dalam pesan Facebook dalam menanggapi keluhan kelompok Muslim garis keras itu, ia mengatakan, “Ini hanya memperkuat tekad saya …. UU Penghujatan harus dirundingkan dan perdebatan ini tidak boleh dibungkam dengan senjata.”

Sementara itu, kelompok Islam tersebut mengatakan akan mengadakan protes di Islamabad untuk menuntut penangkapan Taseer dan memberi sumbangan dana untuk ayah pembunuh Mumtaz Qadri.

“Kami akan memberikan dukungan kepada Mumtaz Qadri atas tindakannya yang berani dan memperluas dukungan terhadap UU Penghujatan ini,” kata Naeem Raza, juru bicara Sunni Tehreek Pakistan, kepada ucanews.com.

Seruan perubahan UU Penghujatan merupakan isu sensitif di Pakistan di mana pelakunya akan menghadapi kekerasan.

Mereka yang dibunuh karena menentang penyalahgunaan UU Penghujatan adalah Menteri Federal Kristen Shahbaz Bhatti. Dia tewas beberapa minggu setelah Gubernur Taseer.

Puluhan orang telah dibunuh akibat tuduhan penghujatan sejak UU itu disahkan tahun 1987, menurut kelompok HAM.

Penghujat Nabi Muhammad menghadapi hukuman mati wajib di Pakistan. Negara itu tidak melakukan eksekusi bagi mereka yang dihukum, tetapi sejumlah orang tewas, beberapa di penjara atau sebelum sidang mereka berakhir. Penghujat Alquran dihukum dengan hukuman penjara seumur hidup.

Pemimpin Gereja telah lama menuduh bahwa UU itu disalahgunakan untuk kepentingan pribadi dan ekstremis agama melanjutkan agenda mereka dengan menyalahgunakan UU tersebut.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi