Tahun gelap untuk hak asasi manusia di Filipina

05/01/2017

Tahun gelap untuk hak asasi manusia di Filipina thumbnail

 

Filipina gagal dalam kinerjanya terkait hak asasi manusia (HAM) tahun 2016. Sebuah budaya kematian telah membawa suasana menakutkan.

Bulan-bulan terakhir masa Presiden Benigno Aquino melihat kegagalannya untuk melaksanakan janji sosial kepemimpinannya, reformasi ekonomi, tata pemerintahan yang baik, HAM, serta keadilan dan perdamaian.

Aquino turun tanpa menyelesaikan kasus penyiksaan dan penghilangan paksa meskipun perintah administratif yang seharusnya membentuk sebuah badan untuk menyelidiki berbagai kasus pelanggaran HAM.

Antara kasus-kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan adalah pembunuhan dan eksodus besar-besaran orang suku yang terlantar akibat operasi pertambangan.

Tentang penghilangan paksa, enam tahun permohonan oleh keluarga orang hilang agar Aquino menandatangani Konvensi PBB tentang Penghilangan Paksa tidak didengarkan.

Kecewa dengan janji Aquino untuk “meluruskan jalan” pemerintahan, 16 juta orang Filipina memilih Rodrigo Duterte, yang berjanji untuk membawa perubahan, dengan segala kekuatan.

Duterte menjadi presiden dan sekitar 1.000 korban eksekusi di kota asalnya Davao, yang mungkin akan bertambah 10.000 korban eksekusi.

“Anda akan melihat bahwa ikan di Manila Bay akan menjadi gemuk. Aku akan melemparkan Anda dari luar sana,” kata Duterte memperingatkan para pengedar dan pengguna narkoba.

Dalam pidato kenegaraan pertama, presiden baru itu mengatakan, “hak asasi manusia harus bekerja untuk mengangkat martabat manusia.”

“Tapi, hak asasi manusia tidak dapat digunakan sebagai perisai atau alasan untuk menghancurkan negara,” tambahnya.

Untuk membuktikan kata-katanya, lebih dari 6.000 orang telah tewas, dengan rata-rata 38 pembunuhan setiap hari sejak ia mengambil alih kantor presiden enam bulan lalu.

Lebih buruk lagi, mayoritas kongres menyelesaikan dengan cepat pengesahan undang-undang yang mengusulkan penurunan usia pidana dari 15 menjadi sembilan tahun dan menerapkan hukuman mati.

Sekutu Duterte akan memastikan Filipina menjadi satu-satunya negara telah menghapuskan hukuman mati dan menerapkan lagi meskipun pihaknya telah menandatangani Protokol Tambahan Kedua Kovenan Internasional Tentang Hak-Hak Sipil Dan Politik dengan tujuan penghapusan hukuman mati dan Protokol Opsional Kedua Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik dengan tujuan penghapusan hukuman mati.

Jangan sampai kita lupa, di puncak impunitas, sembilan dari 15 hakim agung memilih mendukung pemakaman mantan diktator Ferdinand Marcos di Taman Makam Pahlawan negara itu.

Keputusan kontroversial itu merupakan pemenuhan janji kampanye Duterte untuk keluarga Marcos dan ini telah memecah belah  bangsa, menghantar kembali ribuan tua dan muda turun ke jalan-jalan untuk melakukan aksi protes terhadap pemakaman yang berlangsung pada November tersebut.

Bagi korban pelanggaran HAM, penguburan diktator di pemakaman itu  berarti matinya akan kebenaran dan keadilan.

Masyarakat internasional telah bersuara, tapi tetap tak didengarkan.

“Saya sangat mengecam dukungan  tentang pembunuhan di luar hukum, pembunuhan ilegal serta melanggar hak-hak dasar dan kebebasan,” kata Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Duterte menepis seruan tersebut seraya menyatakan bahwa PBB adalah “bodoh dan mengintervensi urusan republik ini.”

Fatou Bensouda, seorang jaksa di Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag, juga mengecam pembunuhan tersebut, tetapi Duterte menanggap sebagai “tidak berguna.”

Gereja Katolik telah menambahkan suara kecaman tersebut.

Uskup Broderick Pabillo menandatangani petisi online agar Duterte  diselidiki atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Awal Desember, lonceng di sejumlah gereja di seluruh negeri itu dibunyikan untuk memprotes pembunuhan.

Dalam homili Natal yang disiarkan di televisi nasional, Uskup Teodoro Bacani menyatakan tanda bahaya atas pembunuhan terkait narkoba yang menyasar kepada orang-orang miskin. Para pastor paroki di berbagai provinsi menyerukan pembunuhan segera dihentikan.

Dalam sebuah pernyataan, Uskup Agung Socrates Villegas, ketua presidium Konferensi Waligereja Filipina, mendesak warga Filipina untuk “benar-benar bersatu” dan berpihak pada isu-isu pro-life.

Menentang malam gelap kematian maka suara-suara harus digemakan dari paroki-paroki untuk menyatukan suara kenabian.

Memperkuat suara kenabian Gereja di negara mayoritas Katolik  di Asia ini adalah sangat penting.

Mary Aileen Bacalso adalah sekjen Asian Federation Against Involuntary Disappearances. Atas komitmennya terhadap HAM, pemerintah Argentina memberikan Emilio Mignone International Human Rights Prize tahun 2013.

Sumber: ucanews.com

 

 

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Paus meminta para kardinal agar menjadi ‘kakek yang baik’
  2. Keuskupan Dili ingatkan partai politik agar mengutamakan kesejahteraan rakyat
  3. Umat ​​Katolik khawatir dengan meningkatnya tindakan ekstremis di Goa
  4. Vatikan buka suara tentang uskup China yang dibawa paksa
  5. Vatikan tetapkan Pastor Adrianus Sunarko OFM sebagai uskup Pangkalpinang
  6. Umat Kristen mengutuk serangan teror saat Idul Fitri di Sumatra Utara
  7. Vietnam mengusir seorang aktivis Katolik ke Prancis
  8. Akhiri mogok makan biarawati China tetap menuntut kompensasi
  9. Imam Filipina yang ditawan teroris terlihat masih hidup
  10. Paus ingatkan orang Kristen agar tidak bergantung pada ramalan
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online