Seorang imam memilih tinggal bersama para penderitaan

09/01/2017

Seorang imam memilih tinggal bersama para penderitaan thumbnail

Pastor Rha (tengah) merayakan Misa untuk para pekerja Ssangyong Motors tahun 2013.

 

Sehari sebelum pesta perak pentahbisannya, Pastor Rha Seoung-goo dari Seoul bergabung dengan keluarga korban tragedi kapal feri Sewol dalam aksi mogok makan di Gwanghwamun Square.

Pada 17 Agustus 2016 Komite Keluarga Sewol memulai mogok makan menuntut penyelidikan penyebab sebenarnya tragedi feri tersebut tahun 2014. Pada 22 Agustus 2016 Pastor Rha bergabung dalam aksi mogok makan tersebut.

Ketika mogok makan berakhir pada 5 September 2016, Pastor Rha berbicara dengan ucanews.com bahwa mogok makan selama 15 hari itu lebih berharga ketimbang hadiah lainnya yang ia terima untuk pesta 25 tahun imamatnya tersebut.

“Kita beriman kepada Yesus Kristus, tetapi tampaknya bahwa kita tidak percaya pada ajaran-ajaran-Nya,” katanya.

Pastor Rha mengatakan bahwa cara ini menuntut dia merefleksikan hakekat imannya.

Pastor Rha ditahbiskan pada 23 Agustus 1991. Ketika seorang frater, dia sangat dipengaruhi oleh Pastor Mun Jeong-hyeon, seorang imam Korea Selatan yang mengunjungi Korea Utara tahun 1989. Pastor Mun memberikan inspirasi kepada dia terkait dampak perpecahan bangsa, Pastor Rha menyadari bahwa “unifikasi adalah inti dari semua masalah yang kita hadapi.”

Sepanjang 25 tahun imamatnya, ia melayani sebagai pastor paroki, pastor pemdamping Federasi Mahasiswa Katolik Seoul, anggota Asosiasi Imam Katolik untuk Keadilan (CPAJ). Selain itu is juga menjadi advokasi untuk unifikasi dan penghapusan Undang-Undang Keamanan Nasional, serta menanggapi isu-isu keadilan sosial lain.

Tahun 2009, ia mulai tinggal bersama orang-orang yang menderita. Penduduk di distrik Yongsan menolak proyek pembangunan. Lima korban penggusuran dan satu polisi tewas dalam kerusuhan.

“Kematian begitu dekat dan kami takut bahwa lebih banyak orang akan mati,” kata Pastor Rha.

Pada 15 Februari, setelah pertemuan nasional, CPAJ menggelar aksi demontrasi dengan berbaris mulai dari Myeongdong menuju Yongsan dan mendirikan tenda di sana. Selama enam bulan berikutnya, mereka tinggal di jalan bersama korban penggusuran. “Kami pikir hidup adalah penting, meskipun di bawah ancaman.”

Pengalaman ini mengajarkan Pastor Rha, “Apa yang harus kita lakukan adalah tidak hanya bersuara bagi penderitaan orang tertindas, tetapi hidup bersama mereka. Selain memecahkan masalah mereka, kita harus bersama mereka, menjadi kekuatan mereka, dan mencegah mereka kehilangan hidup mereka.”

Pastor Rha memperpanjang solidaritas ketika ia tampil di Ssangyong Motors untuk korban tragedi Sewol 2014, dan baru-baru ini untuk para petani Katolik dan aktivis, Baek Nam-ki, yang meninggal setelah koma selama 316 hari dihantam meriam air dalam jarak dekat.

Tahun 2013, dengan dukungan Uskup, Pastor Rha beralih kepada warga berpenghasilan rendah. Parokinya saat ini berada di antara mereka melalui Komite Pastoral Urban Miskin Katolik sedang membantu.

Pastor Rha berpendapat bahwa populasi Katolik Korea Selatan bertumbuh, dan meningkatnya kebutuhan untuk sumber daya mendukung lebih banyak paroki, telah menyebabkan pengaruh tumbuh dari kelas kaya dan menengah di banyak paroki.

“Jika kita menuntut sesuatu yang baru,” kata Pastor Rha, “mereka berpikir kami membuat kekacauan. Mereka mempertanyakan imam aktivis sosial itu ‘mengapa Anda berbicara tentang politik? Apakah kamu komunis?'”

Imam itu telah berbicara tentang keadilan sosial di paroki-paroki mereka, sementara suasana ketidakpedulian terhadap masalah sosial menyebar di dalam Gereja.

“Seorang imam yang melayani di paroki hampir tidak bisa pergi ke luar,” katanya.

Di tengah-tengah krisis politik Presiden Park Geun-hye, Pastor Rha mengatakan tidak hanya presiden baru yang dapat melakukan pekerjaan yang lebih baik, tetapi “dunia sedikit lebih baik, sedikit lebih dekat kepada Kerajaan Allah, dan keluarga Sewol mendesak: keamanan yang lebih bagi warga Korea”.

“Sebuah bangsa adalah negara yang melindungi, memelihara dan menghormati rakyatnya. Tidak seperti karyawan Ssangyong Motors atau pekerja lain yang diusir dan diabaikan, pekerja harus diperlakukan agar orang sangat merasa berharga. Mereka yang disebut minoritas seksual, mahasiswa dan tak berdaya semua dianggap orang yang paling berharga. Mereka harus menerima bantuan dan berbagi dalam kebaikan bersama.”

“Jika kita bisa berjalan langkah demi langkah menuju dunia seperti itu,” kata Pastor Rha, “itu lebih penting ketimbang siapa yang menjadi presiden. Jika semua proses berlangsung melalui diskusi, dialog dan berbagi hati yang penuh kasih, maka sistem yang kita buat tidak dapat dikendalikan oleh satu orang atau kelompok kekuasaan.”

Baca selengkapnya: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Sri Lanka batal mengikuti Asian Youth Day di Indonesia
  2. Uskup Pakistan menuntut tindakan tegas pada teroris
  3. Ratusan katekis belajar cara berbicara tentang seks kepada remaja
  4. Perempuan Katolik Bangladesh akhirnya mendapat jabatan tinggi
  5. Delegasi India ingin berbagi pengalaman iman di AYD Yogyakarta
  6. Surat Dari Roma: Pemecatan prefek Kongregasi Ajaran Iman
  7. Aktivis kecam Jokowi terkait perintah menembak penyelundup norkoba
  8. PM Singapura ingatkan ancaman kelompok ekstrimis
  9. Warga Timor-Leste inginkan koalisi pemerintahan yang pro-rakyat
  10. Kardinal Zen kritik pengadilan yang mendiskualifikasi anggota parlemen
  1. Semoga masalah ini cepat selesai....
    Said meldy on 2017-07-27 08:51:19
  2. Setuju Aurel....Gereja semestinya menjadi teladan dalam transparansi dan akuntab...
    Said puji astuti on 2017-07-26 15:28:50
  3. Biarin aja dah bapak pastor terhormat. Gk usa ikut campur. Langakh yang bagus ka...
    Said Narfin on 2017-07-26 15:12:19
  4. Sebagai awam Katolik saya sangat prihati dengan kemelut yang tengah terjadi di ...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-07-26 07:00:27
  5. Syalom, semua saudara. Tolong baca baik-baik, Pal Alex Marwata tidak mengatakan ...
    Said Aurel on 2017-07-24 16:04:09
  6. KPK ingin audit Gereja ? Gak salah, ada udang dibalik batu, ada unsur politik bs...
    Said Bonbon on 2017-07-23 21:19:37
  7. KPK tentunya tak berwenang mengaudit keuangan lembaga agama seperti gereja karen...
    Said Willy Nggadas on 2017-07-23 16:22:59
  8. Apapun undang-undangnya, soal perbuatan baik dalam hal ini gereja bebas korupsi...
    Said Alexander on 2017-07-23 07:02:14
  9. Good morning...
    Said Bienvenhu on 2017-07-23 05:19:23
  10. Pandangan yg rasional bila keterbukaan itu di mulai dari Gereja Katolik seperti ...
    Said Matias on 2017-07-22 21:51:12
UCAN India Books Online