UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup ‘patriotik’ Tiongkok wafat sebelum pengakuan Vatikan

Januari 10, 2017

Uskup ‘patriotik’ Tiongkok wafat sebelum pengakuan Vatikan

Mendiang Uskup Anthony Tu Shihua

 

Vatikan dalam proses negosiasi, yang kini sedang berjalan, untuk mengampuni delapan uskup di Tiongkok yang ditunjuk oleh Beijing tanpa pengakuan Paus, setelah uskup tertua Mgr Anthony Tu Shihua, 98, meninggal akibat serangan jantung pada 4 Januari. Dgn meninggalnya Mgr Tu maka hambatan dalam proses negosiasi telah berkurang satu.

Mgr Tu, Uskup Puqi, ditahbiskan tahun 1959, tetapi meskipun diakui Asosiasi Patriotik Katolik Tiongkok (CCPA), ia menghabiskan puluhan tahun jauh dari keuskupannya oleh karena, menurut pengamat, ia merasa gelisah dengan statusnya.

Umum diketahui di kalangan katolik bahwa Paus Fransiskus menyatakan akan mengampuni dia dan tujuh uskup lainnya pada Tahun Kerahiman Allah yang ditutup pada 20 November 2016.

Langkah ini dipandang sebagai isyarat dari ketulusan terhadap Tiongkok sebagai bagian dari pembicaraan yang telah dipercepat selama setahun terakhir terkait kesepakatan pengangkatan uskup – bahwa mereka semua memiliki persetujuan Paus.

Sebagai bagian dari negosiasi yang terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, Tiongkok telah menuntut Vatikan mengampuni semua uskup yang tidak diakui termasuk beberapa uskup yang telah diekskomunikasi dan memiliki pasangan dan anak, serta Takhta Suci memberi mereka wewenang untuk mengelola keuskupan.

Namun, pengamat Gereja Tiongkok Pastor Jeroom Heyndrickx mengatakan kepada ucanews.com pada November bahwa Vatikan hanya siap mengampuni beberapa uskup.

Laporan media di paruh kedua tahun 2016 menyebut hanya empat uskup yang Vatikan sedang mempersiapkan untuk menyetujui, termasuk Uskup Tu dan Uskup Joseph Ma Yinglin, ketua Konferensi Waligereja Tiongkok, yang terpilih kembali.

Tahun lalu, delegasi Vatikan bertemu dengan Uskup Tu di Beijing untuk memverifikasi ketulusan permintaannya untuk memperoleh pengampunan dari Paus Fransiskus, seperti yang dilaporkan ucanews.com.

“Karena legitimasi delapan uskup terlarang terkait dengan perjanjian dengan Tiongkok, sayangnya, kesepakatan itu belum ditandatangani,” kata sebuah sumber yang dekat dengan Vatikan, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya. Jadi proses untuk dia belum sampai selesai, meskipun Takhta Suci telah menerima permohonannya dan melihatnya secara positif.

Uskup Tu lahir pada 22 November 1919 di Mianyang, Provinsi Hubei bagian tengah, dan ditahbiskan sebagai imam tahun 1944 dan menjadi Uskup Puqi tanpa mandat Paus tahun 1959.

Dia adalah wakil ketua CCPA selama 24 tahun, wakil ketua Konferensi Waligereja Tiongkok selama enam tahun dan penasihat untuk dua badan Gereja nasional itu yang diakui pemerintah selama 12 tahun. Dia juga wakil rektor Seminari Nasional (1983-1992).

Pendukung setia Gereja independen

CCPA dan Konferensi Waligereja Tiongkok memuji uskup itu karena sikap tak tergoyahkan dengan prinsip mengelola “Gereja independen” dan dukungannya untuk kepemimpinan Partai Komunis.

Namun seorang imam diosesan di Tiongkok, yang mengenal uskup itu, mengatakan ia telah lama merefleksikan statusnya dan menahan diri untuk melaksanakan tugasnya sebagai uskup.

“Ia tinggal di Beijing sejak 1982 dan hanya kembali dan tinggal di keuskupan itu selama setahun di tahun 2010. Sebuah tahbisan imam di keuskupan itu tahun 2014, yang pertama sejak 1923, dipercayakan kepada Mgr Gan Jinqiu, uskup Guangzhou,” kata imam itu.

Namun, uskup itu tidak populer di kalangan umat Katolik Tiongkok oleh karena dia adalah pembela Gereja independen dari Vatikan, dan komunitas Gereja bawah tanah terang-terangan senang dengan wafatnya, dengan omongan bahwa « dia telah pergi menghadap pengadilan Tuhan.

Kalau membaca bukunya, sangat terasa bahwa lepasnya Gereja Tiongkok dari Roma adalah yang benar » kata P. Anthony, imam dari komunitas gerejani terbuka, menekankan bahayanya tulisan-tulisan uskup itu.

Misa requiem untuk mendiang uskup itu diadakan di katedral Beijing pada 9 Januari dengan sekitar 500 orang hadir. Pemakamannya diadakan di Pemakaman Revolusioner Babaoshan pada 10 Januari. Pejabat-pejabat senior pemerintah diperkirakan hadir menghormatinya.

Baca selengkapnya: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi