UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja marah terkait pembebasan pelaku dalam kasus pemerkosaan biarawati

Januari 12, 2017

Gereja marah terkait pembebasan pelaku dalam kasus pemerkosaan biarawati

Para biarawati Katolik dan umat awam di New Delhi mengelar protes menentang pemerkosaan seorang suster di Raipur.

 

Para pejabat Gereja di India marah terkait pembebasan dua orang yang dituduh memperkosa seorang biarawati Katolik dan sedang menunggu tanggapan dari pihak pemerintah Negara Bagian Chhattisgarh sebelum mengambil langkah hukum lebih lanjut.

Pengadilan di negara bagian India bagian timur itu membebaskan Dinesh Dhurv, 19, dan Jitendra Pathak, 25, pada 5 Januari. Kedua pria ini dituduh memperkosa seorang biarawati Katolik berusia 48 tahun di sebuah klinik yang dikelola Gereja di Raipur, ibukota negara bagian itu pada 20 Juni 2015.

Pengadilan mengatakan para penyidik telah gagal memberikan bukti cukup untuk menetapkan kejahatan tersebut. Hakim Nidhi Sharma juga mengkritik “kelalaian serius” oleh polisi dalam menyelidiki kasus ini.

Putusan pengadilan juga dikritik oleh Gereja. Dua bulan penyelidikan, pejabat Gereja dan Komnas HAM India menuduh polisi dan pejabat pemerintah terkait kesalahan penanganan penyelidikan.

Pastor Sebastian Poomattam, vikjen Keuskupan Raipur, mengatakan kepada ucanews.com bahwa mereka sedang menunggu dan melihat apa tindakan pemerintah yang akan dilakukan untuk memastikan keadilan bagi korban.

Mereka juga ingin melihat apakah negara akan bertindak terhadap aparat kepolisian yang tidak menangani kasus ini dengan baik, kata imam itu.

Dia mengatakan bahwa para pejabat senior polisi menolak untuk menerima biarawati itu diperkosa dan berupaya meloloskan kasus kriminal tersebut.

“Kami sangat sedih dan sangat prihatin tentang perkembangan tersebut,” kata Pastor Poomattam.

Polisi, bekerja di bawah kontrol pemerintah pro-Hindu sehingga tidak menangani serius kasus ini,” katanya.

Menurut Rajesh Chand, seorang pengacara, langkah berikutnya harus berasal dari negara bagian itu.

“Karena itu adalah kasus pidana, pemerintah negara bagian itu adalah lembaga penuntutan dan karena itu adalah tugas pemerintah negara bagian itu untuk memutuskan tentang masa depan pelaku,” kata Chand kepada ucanews.com.

Namun, jika korban menemukan bahwa pemerintah “tidak melakukan cukup, dia bisa juga melakukan banding di Pengadilan Tinggi, mengadakan sidang ulang.”

Pastor Poomattam mengatakan jika pemerintah tidak bertindak, “kami akan melakukan apa pun yang kami bisa untuk mendapatkan keadilan bagi korban.”

Suster itu mengatakan dia sedang tidur di klinik ketika dua pria bertopeng menerobos masuk sekitar pukul 01:30, mengikat tangan dan kakinya ke tempat tidur dan membius dia sebelum mereka memperkosa.

Polisi awalnya meremehkan insiden itu, dengan mengatakan dua orang telah merusak dan menganiaya biarawati itu. Namun, berbagai protes dimulai dari kelompok Kristen dan partai-partai oposisi, kemudian polisi menginterogasi sekitar 200 orang dan menahan dua.

Para pemimpin Kristen, termasuk Pastor Poomattam mengatakan umat mereka di Chhattisgarh menghadapi gelombang serangan dari kelompok Hindu sayap kanan, terutama setelah Bharatiya Janata Party (BJP), partai pro Hindu berkuasa pada Mei 2014.

Negara Bagian Chhattisgarh telah diperintah oleh BJP sejak tahun 2003, namun dalam beberapa bulan terakhir situasi “telah aman” di lima negara bagian karena pemilu diadakan tahun ini, kata Pastor Poomattam.

“Mungkin mereka tidak ingin memusuhi agama-agama minoritas untuk sementara menjelang pemilu,” katanya.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi