Yesuit Filipina menemukan sukacita dalam misi di Kamboja

16/01/2017

Yesuit Filipina menemukan sukacita dalam misi di Kamboja thumbnail

Pastor Totet Banaynal SJ dari Filipina mengunjungi gerja Katolik di Siem Reap.

 

Totet Banaybal, seorang mahasiswa Yesuit dari Filipina, harus belajar banyak hal ketika ia pertama kali pergi ke Kamboja tahun 1994.

“Itu tidak mudah,” kenangnya. Semuanya tidak seperti apa yang dia lakukan di negaranya, seperti melepas sepatu sebelum masuk rumah seseorang.

Hidangan makanan seperti goreng nanas dan mentimun tumis yang dicampur dengan mie dan nasi adalah sesuatu yang asing bagi imam muda itu. Hal serupa juga dengan musik dan puisi.

Setelah satu tahun, ia kembali ke Filipina untuk menyelesaikan studinya. Ia ditahbiskan menjadi imam tahun 1999, dan beberapa bulan kemudian ia kembali ke Kamboja sebagai misionaris.

Dia tinggal dengan orang-orang yang pulih dari tahun-tahun gelap Khmer Merah.

Di Prefektur Apostolik Battambang, Pastor Banaynal menemui warga yang kehilangan anggota tubuh mereka akibat ranjau darat.

Hampir setiap orang yang ia temui telah kehilangan orang yang dicintai.

Ia mengatakan bahwa belajar bahasa negara itu “sangat mudah.”

Imam itu mengatakan ia menjalani “proses pembinaan ulang.” Dia mengabaikan menjadi warga Filipina.

“Saya harus menjadi salah satu dari mereka, melayani mereka dengan lebih baik, dan pergi dengan misi saya.”

Misi

Pastor Banaynal menjadi kepala Paroki St. Yohanes di Siem Reap untuk melayani sekitar 600 umat Katolik dan sekitar 400 non-Kristen yang melayani di gereja sebagai relawan.

Di sebuah kota dengan populasi sekitar satu juta jiwa di mana agama Buddha telah menjadi agama negara sejak abad ke-13, para Yesuit muda menghitung misinya tidak dengan angka pembaptisan.

“Karya kami adalah mendampingi masyarakat,” katanya.

Beberapa meter dari gereja terdapat sebuah rumah kayu tua di mana Bopha Chey, pedagang berusia 40 tahun, berdoa di altar dengan cara Buddha, dengan membakar dupa.

Lima tahun lalu, Bopha mulai menghadiri kelas agama dan Misa. Itu rasa ingin tahu yang mendorong dia ke gereja.

Dia mengatakan dia tidak punya “cerita kehidupan yang menarik untuk diceritakan” tentang dia pergi ke gereja Katolik. “Saya senang. Saya merasa didengarkan. Saya merasa memiliki,” katanya.

Bopha belum dibaptis Katolik, tetapi dia selalu menghadiri Misa.

Pastor Banaynal mengatakan tidak mudah menjadi seorang Katolik di Kamboja. “Kami di sini bukan untuk mengubah budaya mereka, tetapi menunjukkan kepada mereka kebaikan Gereja kita,” katanya.

Imam itu mengatakan dia tidak mengundang orang untuk dibaptis. “Jika kita menunjukkan kepada mereka bahwa umat Katolik baik, mereka sendiri akan mencari untuk itu,” katanya.

0116cGereja Katolik yang dibangun dari kayu di Siem Reap menampilkan arsitektur tradisional Kamboja.

 

Cinta inklusif

Gereja di Siem Reap tidak memiliki gerbang. Setiap orang dipersilahkan untuk masuk. “Kasih Allah tidak memiliki batas,” kata Pastor Banaynal.

Dekat pintu masuk ke gereja adalah gambar ukiran batu Bunda Maria sedang menggendong bayi Yesus bersama anak-anak mengelilingi mereka.

Satu anak memegang buku yang melambangkan kebijaksanaan, sementara anak lain memainkan flute, sebuah tradisi mereka memuji Allah.

Satu anak dengan kursi roda, memegang merpati, yang mewakili perdamaian, sementara satu lagi memegang bunga.

“Bunga adalah simbol cinta yang merupakan perintah Allah yang terbesar, untuk mencintai satu sama lain,” jelas Pastor Banaynal.

“Dengan jalan bertongkat dan kursi roda, martabat mereka dipulihkan kembali dan membuat persekutuan antara kaum difabel dan non-difabel,” tambahnya.

Pastor Banaynal mengatakan gambar mewakili Gereja Katolik di Kamboja.

0116dPastor Totet Banaynal SJ berpose dengan gambar Maria Cinta Inklusif di Gereja Katolik St. Yohanes di Seam Reap.

 

Berbagi memelihara gereja

Di ibukota Phnom Penh, Arvin Samson Mamhot, seorang pekerja migran Filipina yang mengajar bahasa Inggris, telah bergabung dengan Couples for Christ, sebuah gerakan Katolik yang dimulai di Filipina tahun 1981.

Arvin mengatakan ia dan istrinya mendirikan kelompok itu sebagai kerinduan mereka kepada Filipina. “Merasakan seperti rumah sendiri di sini,” katanya.

Sukacita yang ia terima dari kelompok itu bahwa ia juga berbagi dengan orang lain.

Selama perjalanan setiap hari dari rumah ke sekolah tempat ia mengajar, Arvin bertemu pengemudi tut-tuk, Chamnan Dong.

Arvin berbagi kisah dengan Chamnan tentang Filipina dan Gereja Katolik.

Chamnam mendengarkan cerita guru itu tentang perayaan keagamaan Filipina, mengenang perayaan Pekan Suci dan Natal di Filipina, dan perayaan Black Nazarene.

Satu Minggu kemudian, Chamnam datang mengetuk pintu Arvin.

“Saya tidak masuk kelas hari ini,” kata Arvin kepada temannya.

“Saya datang ke sini untuk pergi bersama Anda untuk pertemuan tersebut,” kata sopir.

Sejak saat itu, Chamnam, seorang Buddhis, menghadiri pertemuan Couples for Christ.

“Saya juga ingin mengalami Tuhan di hadapan teman-teman saya dari Filipina,” katanya.

“Kami berada di sini berbagi kisah kami sendiri, Gereja, dan Kristus,” kata Pastor Banaynal.

Dia mengatakan misi Gereja Katolik di Kamboja “untuk mengetahui bahwa orang-orang di sini juga orang-orang suci.”

Imam Yesuit mengatakan warga Filipina tinggal di luar negeri harus menyadari bahwa mereka juga dapat menjadi “misionaris… yang harus merangkul orang-orang terlepas dari budaya dan agama mereka.”

Sekitar 10,2 juta warga Filipina tinggal atau bekerja di luar Filipina.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Dampak ‘Buruk’ Poligami Bagi Wanita Bangladesh
  2. Dua Kardinal Asia Protes atas Penahanan Politikus Muda Hong Kong
  3. OMK Harus Menumbuhkan Nilai-nilai Kemanusiaan
  4. Peresmian Pemerintah Baru Timor-Leste Tertunda
  5. Katolik dan Muslim di Purwokerto Bertekad Memerangi Hoax
  6. Prihatin dengan Kondisi Filipina, Kardinal Tagle Tawarkan Dialog Nasional
  7. Uskup Kirim Tim untuk Melindungi Warga dari Pembunuhan
  8. Pemerintah China Perintahkan Pemakaman Berbeda untuk Dua Uskup Ini
  9. Ketika Upaya Damai Dibayangi Ketakutan akan Perang Nuklir
  10. Uskup Militer Ajak Anggota TNI/POLRI Katolik Wujudkan Nilai-nilai Kristen
  1. Dengan hormat, Bisakah saya mendapatkan nomor telepon untuk menghubungi Ibu P...
    Said Djatu on 2017-08-21 15:55:06
  2. Lau kita selalu di teror sama roh jahat kita tidak perlu takut untuk melawan roh...
    Said Tuhan besertaku on 2017-08-19 22:15:11
  3. Di dalam alkitab tidak ada tertulis bahwa salib mempunyai kuasa..yang benar hany...
    Said Tuhan besertaku on 2017-08-19 22:00:45
  4. Saya ingin dapatkan versi Bahasa Indonesia buku panduan Legionis Maria( Legion o...
    Said Maria Ithaya Rasan on 2017-08-15 14:22:31
  5. Visitator Apostolik itu tugasnya adalah mengunjungi pihak-pihak yang dianggap me...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-14 11:40:48
  6. Ada asap PASTI karna ada api... Tontonlah film 'Spotlight' yg brdasarkn kisah n...
    Said RESI Kurniajaya on 2017-08-12 22:38:30
  7. Teman-teman saudara-saudariku yang ada di dan berasal dari Keuskupan Ruteng. Saa...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-12 15:12:04
  8. Berita menggembirakan, shg para imam tak memberi eks komunikasi bagi yang berce...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 20:10:43
  9. Permasalahan di Keuskupan Ruteng sampai mencuat seperti ini, tentu tidak main ma...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 16:19:26
  10. Keberadaan uskup bukan seperti presiden hingga kepala desa, yang dilakukan melal...
    Said aloysius on 2017-08-11 10:53:19
UCAN India Books Online