UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

26 orang dijatuhi hukuman berat di pengadilan Banglades

Januari 18, 2017

26 orang dijatuhi hukuman berat di pengadilan Banglades

Para anggota Pasukan Reaksi Cepat mengadakan patroli di Dhaka.

 

Pejabat Gereja Katolik Banglades dan para aktivis HAM telah memuji putusan pengadilan sebagai “puncak penghakiman” dalam salah satu kasus pembunuhan paling sensasional di negara itu.

Sebuah pengadilan di distrik Narayanganj dekat Dhaka menjatuhan hukuman mati kepada 26 orang pada 16 Januari, termasuk mantan pemimpin Partai Liga Awami yang berkuasa dan tiga mantan anggota Pasukan Reaksi Cepat (satuan elit polisi), selama tujuh tahun terkait pembunuhan bermotif politik. Pengadilan juga menjatuhkan hukuman kepada sembilan orang lain selama 7-17 tahun penjara.

Kebanyakan terpidana adalah anggota dari pasukan itu, yang dibentuk tahun 2004 sebagai pasukan anti-teror. Salah satu pejabat, mantan Komandan Tareque Sayeed adalah mantu dari Menteri Penanggulangan Bencana saat ini, Mofazzal Hossain Chowdhury.

Meski dielu-elukan karena mereka adalah pasukan anti-teror dan anti-militansi, anggota Pasukan Reaksi Cepat ini juga telah dituduh puluhan penculikan bermotif politik, pembunuhan di luar hukum dan penghilangan paksa.

Ini adalah pertama kalinya para anggota Pasukan Reaksi Cepat (RAP)  itu dijatuhi hukuman mati.

Pada 27 April 2014 tujuh orang diculik di dekat sebuah stadion kriket di Narayanganj pada puncak perebutan kekuasaan di kota itu. Tiga hari kemudian mayat mereka ditemukan mengambang di Sungai Shitalakshya di dekatnya.

0118gAnggota Pasukan Reaksi Cepat di Dhaka tahun 2014.

 

Di antara yang meninggal adalah Nazrul Islam, seorang pemimpin lokal dari Partai Liga Awami dan Chandan Sarker, seorang pengacara terkemuka.

Anggota Pasukan Reaksi Cepat itu dipecat dan ditahan setelah kemarahan publik atas tuduhan bahwa seorang politisi Liga Awami, Nur Hossain telah membayar mereka untuk membunuh saingannya. Hossain melarikan diri ke India, namun kemudian dipulangkan dan diadili.

Theophil Nokrek, sekretaris eksekutif Komisi Keadilan dan Perdamaian Konferensi Waligereja Banglades memuji putusan itu.

“Sebagai seorang Katolik saya tidak boleh mendukung hukuman mati, tapi saya pikir ini adalah luar biasa, vonis yang memberikan keadilan. Ada kurangnya kepercayaan dalam sistem peradilan pidana di negara itu dan saya pikir putusan ini akan membantu memulihkan kepercayaan masyarakat,” kata Nokrek.

“Untuk membangun demokrasi yang baik, aturan hukum dan keadilan harus ditegakan. Saya berharap putusan¬† ini akan menjadi langkah maju bagi bangsa,” tambahnya.

Nur Khan, direktur eksekutif Ain-O-Salish Kendra, sebuah organisasi HAM berbasis di Dhaka, mengatakan bahwa putusan itu untuk mengurangi ketidakpercayaan terhadap sistem peradilan.

“Orang-orang meragukan apakah kasus ini akan membawa hasil, meskipun mereka telah terbukti bersalah. Namun, saya tidak habis pikir peradilan bisa mendapatkan kepercayaan penuh dari orang-orang dengan satu kasus yang luar biasa,” kata Khan.

Selina Islam, istri dari Nazrul Islam mengatakan ia puas dengan kinerja pengadilan.

“Saya senang dengan putusan tersebut, tetapi saya tidak akan mengacungkan tanda ‘V’ sampai pelaksanaan putusan,” kata Selina kepada para wartawan.

Namun, Muhammad Sultanujjaman, seorang pengacara untuk mantan pejabat RAB, Tareque Sayeed menyatakan kecewa.

“Kami akan mengajukan banding ke pengadilan yang lebih tinggi,” katanya kepada The Daily Star setelah putusan itu.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi