UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Polisi disoroti terkait kematian pemuda Papua

Januari 18, 2017

Polisi disoroti terkait kematian pemuda Papua

Frits Ramandey, dari Komnas Papua mengatakan kematian Edison Matuan, adalah akibat penganiayaan polisi.

 

Kerabat dari seorang pemuda yang diduga dipukuli hingga tewas oleh lima polisi di Papua pekan lalu telah menuntut keadilan kepada kepala kepolisian daerah (Kapolda) Papua.

Edison Matuan, 21, diduga dipukuli dan disiksa hingga tewas oleh para aparat tersebut pada 11 Januari di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Para aparat itu mengatakan Matuan ditangkap karena perampokan.

“Mereka menangkap saudara kami pada 11 Januari malam dan bahkan menyiksa dia ketika ia sedang dirawat di rumah sakit,” kata Theo Hesegem, salah satu kerabat korban, kepada ucanews.com.

“Polisi terus memukuli dia, ketika ia dirawat di sebuah rumah sakit di Wamena, dan menekan para perawat,” katanya menduga.

Salah satu perawat yang merawat Matuan yang hanya ingin menyebut namanya sebagai Mely, mengatakan pemuda itu menderita luka parah pada bagian belakang kepalanya.

“Saya ingin menjahit luka, namun polisi terus memukul dia,” katanya.

Matuan meninggal segera setelah itu, kata staf rumah sakit.

Otopsi kemudian dilakukan di rumah sakit polisi di Jayapura. Hasil otopsi diumumkan pada 14 Januari, dan dikonfirmasikan bahwa Matuan telah disiksa.

Paulus Waterpauw, kepolda Papua menerima hasil tersebut dan berjanji bahwa keluarganya akan menerima keadilan.

“Anggota kami telah melakukan kekerasan …. Mereka akan dihukum dan akan dipecat,” katanya.

Frits Ramandey, dari Komisi Hak Asasi Manusia Papua, meminta kapolda untuk bertindak tegas terhadap anggotanya.

Dia mengatakan penyiksaan yang menyebabkan kematian Matuan telah memburuk situasi HAM di Papua.

“Ini hanya menunjukkan bahwa polisi tidak berupaya menegakkan hak asasi manusia di Papua,” katanya kepada ucanews.com.

Menurut Pastor John Djongga, seorang imam dari Keuskupan Jayapura, polisi di Papua sering bertindak seolah-olah mereka berada di atas hukum dan mengabaikan standar prosedur dalam menangani kasus-kasus pidana.

“Mereka bertindak sewenang-wenang, sesuai dengan kehendak mereka sendiri,” katanya.

Pastor Yulianus Pawika OFM dari Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Fransiskan Papua (SKPKC FP) mengatakan tindakan penyiksaan polisi terhadap masyarakat setempat akan berdampak negatif dalam provinsi yang telah melihat pemberontakan tingkat rendah terhadap pemerintahan Indonesia selama beberapa dekade.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi