UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Warga diminta tetap tenang di tengah ketegangan di Kalimantan Barat

Januari 19, 2017

Warga diminta tetap tenang di tengah ketegangan di Kalimantan Barat

Seorang warga Dayak mendemonstrasikan kekuatannya dengan golok selama festival Dayak di Jakarta pada 28 April 2013.

 

Pejabat Gereja dan para aktivis Katolik di Kalimantan Barat telah meminta seluruh warga untuk tetap tenang di tengah meningkatnya ketegangan setelah warga Dayak marah memaksa ulama Muslim membatalkan kunjungannya menyusul protes di bandara pekan lalu.

Tengku Zulkarnain, wakil sekretaris umum Majelis Ulama Indonesia, meninggalkan bandara Sintang, Kalimantan Barat pada 12 Januari karena diprotes warga Dayak sehingga pertemuannya dengan umat Muslim setempat dibatalkan.

Warga Dayak mengatakan bahwa Zulkarnain telah menghina mereka dengan menyebut mereka “orang-orang kafir, tidak layak untuk masuk surga, dan lebih buruk dari binatang,” meskipun sebagian dari warga Dayak juga adalah Muslim.

Tidak jelas mengapa Zulkarnain membuat komentar seperti itu.

Sekelompok umat Muslim menanggapi pernyataan tersebut dengan mengadakan protes di Pontianak pada hari berikutnya mengancam melakukan kerusuhan jika polisi tidak menangkap pelaku.

Bruder Kris Tampajara MTB, ketua Komisi Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Pontianak, mengatakan ketegangan telah menimbulkan ketakutan tidak hanya di kalangan umat Kristiani, tetapi juga umat Muslim.

“Saya sudah mendesak pihak-pihak terkait untuk duduk bersama menyelesaikan masalah ini agar tidak menimbulkan konflik yang lebih besar,” katanya pada 17 Januari.

Bruder Tampajara juga mendorong umat Kristiani untuk berkomunikasi dengan saudara-saudara mereka yang Muslim “karena mereka juga khawatir bahwa jika tidak diselesaikan dengan baik maka konflik dapat meningkat.”

Yorist Maskendari, ketua Pemuda Katolik Cabang Kalimantan Barat,  mendesak warga Dayak untuk berhati-hati agar tidak merusak kerukunan dalam masyarakat.

“Ini merupakan reaksi yang normal terhadap pidato kebencian. Namun, orang harus bereaksi secara bijak dan penuh cinta,” katanya.

Menurut Kristianus Atok, seorang pengamat sosial, konflik tersebut tidak murni berdasarkan agama tapi lebih mungkin bermotif politik karena terkait Pilkada bulan depan.

Dialog yang baik dapat meredakan ketegangan, katanya.

Eusabinus Bunau, dari Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) memperingatkan warga untuk tetap tenang karena sebelumnya Kalimantan pernah dilanda konflik mematikan.

Pada Februari 2001, konflik terjadi di Kalimantan antara etnis Dayak dan etnis Madura menewaskan sekitar 500 orang.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi