UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Kesenjangan kaya-miskin di India menantang Gereja

Januari 27, 2017

Kesenjangan kaya-miskin di India menantang Gereja

 

Kesenjangan di antara kaya dan miskin di India meningkat dengan cepat menurut sebuah studi baru-baru ini yang telah mendorong para pemimpin Gereja kembali berupaya membantu orang miskin.

Kelompok advokasi anti-kemiskinan Oxfam baru-baru ini menemukan bahwa hanya 1 persen dari 1,2 miliar penduduk India menikmati 58 persen kekayaan negara itu. Dalam laporan, yang dirilis 16 Januari, Oxfam mengatakan bahwa 57 miliarder di India memiliki jumlah kekayaan yang sama.

“India menjadi berita utama dunia untuk banyak alasan, tapi India¬† adalah salah satu negara yang paling tidak setara di dunia dengan tingkat sangat tinggi dan tajam terkait pendapatan dan kekayaan,” kata Nisha Agrawal, ketua Oxfam India, dalam sebuah pernyataan.

Namun, anggaran India untuk 2017-2018 memberikan peluang besar untuk membalikkan tren “dan dimasukkan ke dalam kebijakan di mana pajak akan dinaikan guna dialokasikan di bidang pendidikan dan perawatan kesehatan dasar,” kata Agrawal.

Sebuah isu global

Laporan 48 halaman berjudul “An Economy for the 99 Percent” menunjukkan bahwa kesenjangan di seluruh dunia antara kaya dan miskin jauh lebih besar daripada yang telah ditakuti.

Perusahaan nirlaba itu mengatakan bahwa data baru dan perbaikan tentang distribusi kekayaan global – terutama di India dan Tiongkok – menunjukkan bahwa setengah orang termiskin di dunia menikmati sedikit kekayaan alam dari yang telah diperkirakan sebelumnya. Delapan orang memiliki kekayaan yang sama dengan 3,6 miliar orang, kata Oxfam tentang temuan laporan itu.

Direktur eksekutif Oxfam International Winnie Byanyima mengatakan bahwa kekayaan “begitu banyak namun dinikmati sedikit orang karena 1 dari 10 orang hidup dengan kurang dari 2 dolar AS per hari.”

Dia menambahkan bahwa ketidaksetaraan yang menjebak ratusan juta orang dalam kemiskinan, memperburuk masyarakat kita dan merusak demokrasi.

India perlu merespons

Pemimpin Kristen di India mengatakan laporan itu menantang berbagai denominasi mereka atas upaya mereka untuk membantu orang miskin.

“Laporan ini menunjukkan bahwa globalisasi ekonomi baru belum membahas keprihatinan masyarakat miskin. Pemerintah India perlu mengakui dan merespon ketidaksetaraan yang bertumbuh,” kata Samuel Jayakumar dari Persekutuan Gereja-gereja di India.

Dia mengatakan kepada ucanews.com bahwa Gereja-gereja di India perlu melakukan lebih banyak pekerjaan dalam bidang pendidikan di pedesaan.

“Meskipun berbagai Gereja telah melakukan pekerjaan di bidang ini, situasi saat ini muncul sebagai tantangan,” kata Jayakumar.

John Dayal, seorang tokoh awam Katolik dan anggota Dewan Integrasi Nasional pemerintah India, mengatakan bahwa Gereja telah gagal dalam melakukan pengawasan sosial yang lebih besar. Ini melawan orang miskin dan telah gagal dalam perannya.

“Ini melalaikan tugas setiap kelompok agama jika tidak berbicara kepada masyarakat biasa. Perbedaan besar hanya diukur dengan indeks. Penderitaan beragam dan Gereja perlu memahami penderitaan dan bukan angka,” kata Dayal yang juga anggota dewan direksi dan kontributor ucanews.com.

Mengungkapkan keprihatinan atas implikasi ketimpangan antara kaya dan miskin, Dayal mengatakan konsekuensi situasi ini akan¬† “sangat serius.”

“Sejumlah orang kaya tidak hanya mengontrol sumber daya alam, tetapi mereka mengendalikan pemerintahan, alokasi sumber daya masa depan, kebijakan dan hukum. Kita tidak hanya melihat statistik. Kita juga perlu melihat implikasi,” katanya.

“Semua agama, khususnya Katolik, adalah penjaga hati nurani. Gereja di India memiliki peran kembar menjadi pengawas moral dan dapat memberitahu pemerintah di mana untuk menggunakan energi,” katanya.

Dayal menambahkan bahwa Gereja hanya pergi ke pengadilan ketika hak dilanggar, tetapi tidak mendekati hukum ketika hak-hak dasar orang terkena dampak.

A.C. Michael, koordinator Forum Kristen Amerika Serikat dan seorang Katolik, mengatakan kepada ucanews.com bahwa India selalu kekurangan kebijakan bagi masyarakat miskin.

“Tidak hanya pemerintah, tapi kita semua, termasuk Gereja, harus bertanggung jawab atas ketidaksetaraan ini,” katanya.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi