Umat Kristiani di Banglades berupaya meningkatkan persatuan

27/01/2017

Umat Kristiani di Banglades berupaya meningkatkan persatuan thumbnail

Umat Katolik berdoa di Gereja Rosario Suci di Dhaka.

 

Umat Kristiani di Banglades telah mengadakan doa khusus dan pertemuan untuk menandai Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani, 18-25 Januari, untuk memprioritaskan dan meningkatkan persatuan di kalangan denominasi Kristen.

Umat Kristiani Banglades merupakan minoritas kecil: kurang dari setengah persen dari 160 juta penduduk di negara mayoritas Muslim itu. Dari sekitar 500.000 orang Kristen, mayoritas atau sekitar 350.000 beragama Katolik.

Sejak akhir 1960-an, setelah Konsili Vatikan II, para uskup Banglades meningkatkan dialog antaragama dan ekumene melalui Komisi Persatuan Umat Kristiani dan Dialog Antaragama.

Sementara itu, Persekutuan Gereja-gereja di Banglades, sebuah koalisi 15 Gereja Protestan, juga meningkatkan persatuan dan persaudaraan.

Konferensi Waligereja Banglades dan Gereja Protestan membentuk forum umum tahun 2011: Forum Serikat Gereja yang menarik wakil-wakil dari semua anggota asosiasi.

Di garis depan forum umum ini adalah Uskup Agung Dhaka Mgr Patrick D’Rozario, sekarang kardinal pertama negara itu.

Sunrise Easter Prayer-2011Umat Kristiani mengambil bagian dalam Program Paskah ekumenis di depan gedung Parlemen Nasional di Dhaka pada 2011.

 

‘Sesuatu yang indah’

 

“Para pemimpin Gereja telah merasakan pentingnya hubungan antar-denominasi yang baik karena kita percaya bahwa kita semua adalah satu, dibaptis dalam nama Tuhan yang sama,” kata Pastor Ajit Victor Costa OMI, sekretaris eksekutif Komisi Persatuan Umat Kristiani dan Dialog Antaragama Konferensi Waligereja Banglades.

“Para pemimpin Protestan dan umatnya bergabung dalam doa dan pertemuan kami dan kami bergabung dengan program mereka. Kami berjalan dan bekerja bersama-sama. Ini adalah hal yang indah,” kata Pastor Costa.

Di tengah kebangkitan baru-baru ini di mana militansi Islam menargetkan penulis sekuler, aktivis liberal dan minoritas agama, umat Kristiani harus lebih bersatu, katanya.

“Kita bisa melawan intoleransi jika kita bersatu dan diberdayakan,” kata Pastor Costa.

Selama masa bencana alam, gejolak politik dan krisis nasional, Katolik dan Protestan telah bekerja bergandengan tangan, kata Pendeta David A. Das, dari Gereja Baptis Banglades.

“Kami telah bekerja sama dan memprotes ketika komunitas Kristen menghadapi represi – baik itu masalah pengambilan properti atau serangan bermotivasi agama,” kata Pendeta Das kepada ucanews.com.

Pendeta Das mengatakan bahwa Gereja-gereja di Banglades sedang melobi pemerintah menentang amandemen UU Regulasi Sumbangan Asing 2011 yang diusulkan.

Di antara persyaratan hukum adalah proses persetujuan memberatkan untuk organisasi non-pemerintah yang menuntut beberapa izin untuk proyek-proyek yang didanai asing, kurangnya waktu yang jelas untuk menyetujui proyek-proyek.

UU itu bermaksud untuk menjadikan Gereja sebagai LSM, yang bisa membuat hal-hal yang berbahaya bagi Gereja-gereja di Banglades, karena hampir semua dari mereka bergantung pada sumbangan asing.

“Gereja adalah organisasi keagamaan, bukan organisasi sosial atau LSM. Jadi, kita bekerja sama untuk memastikan bahwa Gereja diperlakukan secara terpisah dan memungkinkan untuk menikmati kebebasan dan hak,” tambah Pendeta Das.

Proselitisasi adalah ancaman bagi persatuan

Proselitisasi yang agresif dan tidak etis oleh sekte-sekte kecil dan kelompok evangelis menimbulkan bahaya bagi orang Kristen dan mengancam persatuan di antara Gereja-gereja, kata para pejabat Kristen.

Meskipun Islam adalah agama negara, konstitusi Banglades menetapkan negara itu sebagai negara sekuler. Piagam ini juga melindungi hak untuk memeluk, praktek dan menyebarkan agama secara bebas, tapi melarang proselitisasi.

“Ada beberapa Gereja kecil yang mengkonversi orang dengan memikat mereka dengan uang. Ini adalah tren yang berbahaya, yang memecah belah komunitas Kristen dan membuat Kristen menjadi target kaum fundamentalis,” kata Pendeta Philip Biswas, dari Gereja Banglades.

“Gereja-gereja Kristen harus lebih sadar dan bersatu melawan praktek-praktek ilegal,” tambahnya.

Pastor Ajit Victor Costa memiliki pengalaman serupa.

“Hanya beberapa kelompok yang terlibat dalam upaya evangelis yang berani dan agresif yang membuat citra buruk bagi seluruh komunitas Kristen di Banglades. Ini tidak bisa diterima dan kita harus malu,” kata imam itu.

Hambatan

Meskipun relatif harmonis antara Gereja-gereja di Banglades, ada hambatan terhadap persatuan Kristen di negara itu.

Salah satu isu adalah pernikahan antar-Gereja di antara Katolik dan Protestan. Gereja Katolik mengikuti sistem sendiri untuk melangsungkan upacara pernikahan antar-denominasi.

“Jika seorang Protestan ingin menikah dengan seorang Katolik, mereka harus mengikuti peraturan Gereja Katolik. Mereka harus menerima pernikahan secara Katolik. Situasi seperti ini menimbulkan hubungan tidak baik antara Katolik dan Protestan di negeri ini,” kata pendeta Biswas, dari Gereja Banglades.

Pendeta Biswas juga mencontohkan bahwa tuduhan seperti konversi paksa dan penyimpangan keuangan beberapa Gereja Protestan juga menciptakan kecurigaan dan perpecahan di antara umat Kristen.

“Jika kita ingin menjadi benar-benar bersatu, kita perlu memecahkan hambatan ini agar kita kembali berada dalam persekutuan dan solidaritas,” katanya.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  2. Menciptakan peradaban cinta di Keuskupan Agung Semarang
  3. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  4. Umat ​​Katolik Laos siap mengikuti AYD di Yogyakarta
  5. Tidak ada perdamaian di Kashmir, bahkan selama Ramadan
  6. Kardinal Quevedo mengaitkan konflik dengan kemiskinan
  7. HRW tuduh polisi Filipina memalsukan data ‘pembunuhan perang narkoba’
  8. Gereja dan LSM di NTT membantu orang dengan HIV
  9. Uskup Macau bertemu dengan uskup China yang tidak diakui Vatikan
  10. Biarawati China mogok makan menuntut kompensasi setelah tarekat dibubarkan
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online