Kebangkitan musik Gereja di Tiongkok dimulai

30/01/2017

Kebangkitan musik Gereja di Tiongkok dimulai thumbnail

Sebuah koor menampilkan lagu-lagu rohani Gereja setelah Misa Malam Natal di Gereja Xizhimen di Beijing tahun 2016.

 

Tiongkok telah mengalami peningkatan terkait lagu-lagu liturgi produksi dalam negeri. Bukti tersebut bisa dilihat di website mereka yang mendaftarkan berbagai lagu rohani di seluruh Tiongkok, dan seorang imam telah merilis albumnya sendiri tahun 2016.

Kemudian Keuskupan Sanyuan di Provinsi Shaanxi di barat laut negara itu dan Keuskupan Xianxian di Provinsi Hebei bagian utara, mengadakan festival musik liturgi pada akhir 2016 di mana banyak paduan suara menyanyikan lagu-lagu bernuansa religius.

“Musik liturgi di Tiongkok masih dalam tahap pemula, tapi itu menyenangkan bahwa orang-orang antusias tentang hal itu,” kata Pastor John Baptist Zhao dari Hebei, yang adalah imam Tiongkok pertama yang lulus dari Institut Kepausan Musik Liturgi di Roma sejak kegiatan keagamaan dihidupkan kembali di Tiongkok tiga dekade lalu.

“Namun, Gereja Tiongkok tidak memiliki standar lagu rohani. Ada juga kurangnya komponis musik liturgi dan lagu rohani. Dengan demikian, banyak lagu sebenarnya tidak memenuhi persyaratan liturgi,” kata Pastor Zhao kepada ucanews.com.

Pastor Zhao mengatakan bahwa Gereja Katolik di Tiongkok harus mengembangkan musik liturgi sendiri sesuai Konsili Vatikan II. Namun, sebagian besar formasi musik di Tiongkok sekarang “tidak memiliki konsep yang benar tentang musik liturgi,” katanya.

Menciptakan lagu rohani membutuhkan pengetahuan teologis

Bagi Vansie Kwok, yang memenangi Veritas Cup tentang lomba cipta lagu rohani 2014, bagian yang paling menantang adalah isi dari lagu tersebut.

“Gereja Katolik sangat ketat karena pesan yang disampaikan dalam lagu-lagu itu harus memiliki unsur teologis yang benar,” kata Kwok.

“Orang-orang hebat dalam bidang musik mungkin tidak baik dalam bidang teologi atau sebaliknya. Hal ini tidak mudah untuk menemukan seseorang yang baik untuk kedua bidang tersebut dan sangat sedikit formasi yang tersedia untuk menghubungkan mereka bersama-sama,” kata wanita itu.

Kwok merasa ia beruntung menerima latihan spiritual Ignasian, yang katanya sangat penting bagi pertumbuhan rohaninya.

Selain doa dan meditasi, Pastor Zhao juga menekankan perlunya belajar tradisi Gereja dan menghindari sikap ad hoc dalam menyusun musik liturgi.

Masalah lain untuk musik Gereja modern adalah kritik karena tidak cukup sakral dan menampilkan terlalu banyak budaya pop yang menurunkan kesakralan liturgi.

Pastor Zhao mengatakan bahwa musik Gereja modern, bahkan liriknya bernilai religius, tidak cocok untuk liturgi bila hanya menunjukkan semangat.

“Tentu saja, untuk menulis musik non-liturgi untuk pertemuan-pertemuan Gereja masih dihargai,” tambahnya.

Lomba yang sukses

Tahun 2014, Veritas Cup menerima lebih dari 182 lagu rohani asli dari Tiongkok, Hong Kong, Taiwan, Macau, Singapura, Malaysia, Kanada, AS dan Eropa. Sekarang, Radio Veritas Asia Biro Tiongkok menyelenggarakan lomba kedua dan menerima masukan hingga 31 Mei.

“Setelah lomba pertama tahun 2014, kami menerima ratusan surat dari pendengar. Lomba tersebut benar-benar menjadi platform bagi komponis musik Gereja untuk berbagi karya-karya mereka,” kata Pastor John, direktur RVA seksi Tiongkok, kepada ucanews.com.

Vansie Kwok mengatakan acara tersebut memberikan kesempatan bagi orang untuk melayani Tuhan dengan menciptakan lagu rohani.

“Saya bertemu dengan banyak peserta lokal dan luar negeri di acara terakhir dan melalui lomba itu lebih banyak orang harus mengetahui tentang musik liturgi Katolik, AMDG,” kata Kwok. “AMDG” singkatan dari “Ad Majorem Dei Gloriam,” yang berarti “Demi Kemuliaan Tuhan yang Lebih Besar”.

AMDG diundang untuk tampil atau menulis tema lagu acara keuskupan di Hong Kong, seperti Hari Kaum Muda Sedunia 2016 dan Tahun Luar Biasa Kerahiman Allah. Mereka juga merilis album pertama mereka.

“Orangtua mengatakan kepada saya bahwa anaknya terus menyanyikan lagu-lagu saya siang dan malam. Saya benar-benar tersentuh bahwa anak-anak bisa lebih dekat dengan Tuhan melalui musik Gereja,” tambah Kwok.

Masalah bahasa

Tiga lagu rohani meraih Veritas Cup 2014 dalam bahasa Kanton atau Konghu, dialek yang digunakan di Hong Kong dan Provinsi Guangdong selatan, dan dialek lainnya, sehingga sulit mempromosikan mereka ke dalam bahasa Mandarin, kata Pastor John.

Meski begitu, ia yakin bahwa musik Gereja lokal adalah penting sebagai bagian dari gerakan inkulturasi, yang berusaha beradaptasi ajaran Gereja dengan budaya lokal.

“Musik dapat membantu masyarakat Katolik di Tiongkok lebih mengekspresikan iman mereka, tetap dekat bersama-sama dan menginjili,” katanya.

Ketika merencanakan lomba Veritas Cup kedua, Kwok mengatakan AMDG sedang mempertimbangkan menyusun lagu rohani dalam bahasa Mandarin sehingga mereka dapat menjangkau umat Katolik di Tiongkok. Selain musik liturgi, Kwok mengatakan bahwa Gereja membutuhkan lebih banyak lagu rohani untuk pertemuan-pertemuan Gereja, pembinaan umat dan anak-anak.

“Kami mungkin memiliki lagu Gregorian atau musik religius tradisional. Tapi, saya percaya harus ada spektrum yang lebih luas bagi masyarakat untuk memuji Tuhan,” katanya.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  2. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  3. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  4. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  5. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  6. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  7. Gereja dibakar, darurat militer diumumkan di Mindanao
  8. Calon imam SVD mengajar di Pondok Pesantren
  9. Uskup Filipina menyamar jadi petani untuk melihat kegiatan paroki
  10. Umat Katolik Pakistan marah atas pembatasan media sosial
  1. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  2. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  3. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  4. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  5. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  6. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  7. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  8. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
  9. Ingat kita di Indonesia. Semua mayoritas dan minoritas. Ketika ada pihak mengkla...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:43:38
  10. Pro Ecclecia et patria! Demi bangsa kita juga harus tegas menghadapi kekuatan ra...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:35:34
UCAN India Books Online