Filipina akan menyelidiki laporan Amnesty International

03/02/2017

Filipina akan menyelidiki laporan Amnesty International thumbnail

Para anggota Amnesty International di Filipina membuat laporan tentang pembunuhan terkait narkoba di negara itu pada 1 Februari.

 

Penyelidikan akan dilakukan terkait laporan Amnesty International yang menduga polisi Filipina “membunuh dan membayar orang lain untuk membunuh ribuan pengguna dan bandar narkoba” yang disebut eksekusi di luar hukum dalam enam bulan terakhir.

Sebuah resolusi sedang diajukan di Senat Filipina untuk menyelidiki “tuduhan serius” yang dibuat oleh pengawas HAM internasional itu dalam laporannya berjudul “If you are poor you are killed: Extrajudicial Executions in the Philippines’ War on Drugs.”

Rincian laporan itu mengungkapkan bahwa polisi menargetkan sebagian besar orang miskin di seluruh negeri itu, dengan merekrut pembunuh bayaran, menculik orang-orang yang mereka bunuh, dan memalsukan laporan kejadian.

“Ini adalah tuduhan serius dari badan internasional itu dan kita harus mencari tahu apakah mereka memiliki dasar atau tidak,” kata Senator Francis Escudero, ketua Komite Senat tentang Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.

Senator itu mengatakan ia ingin Amnesty International menjelaskan temuan dan menyajikan sumber-sumber informasi di legislatif. Dia mengatakan penyelidikan juga akan memberikan polisi kesempatan untuk menyajikan versi mereka.

Escudero menjamin keselamatan dan keamanan sumber-sumber dari Amnesty International dan semua saksi lain yang akan diundang untuk penyelidikan.

“Senat siap menerima saksi rahasia untuk menjamin keselamatan mereka,” katanya.

Para anggota lain dari Senat juga telah meminta Amnesty International untuk menyajikan bukti laporan mereka.

Pembunuh bayaran

Laporan itu menduga polisi Filipina membayar pembunuh untuk membunuh lebih dari seribu orang per bulan di bawah kedok kampanye nasional untuk memberantas narkoba.

Setidaknya 7.000 pengguna dan bandar narkoba yang dicurigai telah tewas sejak Presiden Rodrigo Duterte menjabat presiden tujuh bulan lalu. Para pejabat polisi telah mengakui bahwa setidaknya 2.500 pelaku narkoba tewas dalam operasi polisi.

Laporan Amnesty International menyatakan bahwa dokumen-dokumen penyelidikan secara rinci terhadap 33 kasus melibatkan pembunuhan 59 orang.

Dokumen itu melaporkan bagaimana polisi, bekerja sesuai daftar diverifikasi dari orang yang diduga menggunakan atau menjual narkoba, menyerbu ke rumah-rumah dan menembak orang hingga tewas, termasuk mereka yang siap untuk menyerah.

“Jenazah diperlakukan tidak manusiawi oleh polisi Filipina,” kata Tirana Hassan, direktur Crisis Response Amnesty International.

Dia mengatakan orang tewas “sebagian besar adalah orang termiskin dalam masyarakat dan termasuk anak-anak.”

Dia memperingatkan bahwa “jika tindakan tegas tidak dilakukan segera,” masyarakat internasional harus beralih ke Pengadilan Pidana Internasional untuk melakukan penyelidikan pendahuluan terkait pembunuhan tersebut.

Duterte mengumumkan penghentian perang anti-narkoba pemerintah pada 30 Januari setelah pembunuhan seorang pengusaha asal Korea Selatan yang diculik dan dibunuh oleh polisi anti-narkoba.

0203dSeorang imam merayakan Misa setelah dua korban pembunuhan terkait narkoba di Manila.

 

Patut ‘disayangkan’

 

Seorang uskup Filipina menggambarkan laporan Amnesty “patut disayangkan.”

“Mereka mungkin benar, tapi pasti tidak menyajikan catatan yang baik bagi warga kami,” kata Uskup Agung Lipa Mgr Ramon Arguelles.

“Tapi setidaknya kita tidak dituduh membunuh jutaan bayi yang tidak berdosa sebelum kelahiran,” kata prelatus itu, seraya menambahkan bahwa “apakah mereka orang dewasa atau anak-anak, yang tidak berdosa atau penjahat, semua memiliki hak untuk hidup.”

Wakil Presiden Leonora Robredo mengatakan dia telah menerima laporan bahwa operasi polisi palsu anti-narkotika telah menyasar ke warga Tionghoa di negara ini.

Dia mengatakan beberapa anggota komunitas Tionghoa di distrik Binondo, Manila, telah mengajukan bukti-bukti, termasuk rekamanĀ  “operasi polisi”, tapi diabaikan oleh otoritas.

Juru bicara presiden Ernesto Abella mengatakan negara “tidak membenarkan pembunuhan di luar hukum.”

Ketua DPR Pantaleon Alvarez menuduh Amnesty International mencampuri urusan internal Filipina.

“Kami adalah negara berdaulat. Mereka seharusnya tidak ikut campur,” katanya.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Misionaris lansia di India terancam dideportasi
  2. Uskup Korea bandingkan janji kampanye presiden dengan ajaran Gereja
  3. Pendeta asal Taiwan ditangkap karena nyanyikan lagu kebaktian
  4. Renungan Minggu Paskah III, 30 April 2017
  5. Cina melarang bayi Muslim menggunakan nama-nama berikut
  6. Pemimpin Muslim berusaha agar pejuang Abu Sayyaf menyerahkan diri
  7. Salib di Kerala dihancurkan pemerintah Komunis
  8. Hati yang tertutup sulit menemukan arti kebangkitan
  9. Kelompok militan desak agar Asia Bibi segera digantung
  10. Pemerintah di Mindanao adopsi program rehabilitasi narkoba Gereja
  1. Wajar saja kalau timbul kekhawatiran di kalangan minoritas karena kelompok radik...
    Said Aan Monterado on 2017-04-21 12:14:35
  2. Salut tuk kerja keras tim, tapi kritik utk peran pastor/suster, tetep aja yg kat...
    Said andreas jacob on 2017-04-17 14:16:16
  3. Menurut saya jika kita melihat dengan kondisi bangsa saat ini lebih bagus waktu ...
    Said Nick on 2017-04-15 10:04:04
  4. Saya harap juga setiap gereja di Jakarta dipersiapkan keamanannya.....
    Said Jenny Marisa on 2017-04-12 13:14:03
  5. Artikel ini bisa membantu para mahasiswa/i yang sedang membuat tugas....
    Said Natalino de Araujo Salsinha on 2017-04-11 15:21:13
  6. Kami salut dengan prinsip gereja yang dipertahankan oleh para Uskup di Filipina,...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-04-10 16:48:31
  7. salam saja...
    Said njlajahweb on 2017-04-10 00:17:06
  8. Sangat membanggkan akhirnya ada pulah Perhatian Pemerintah yang sangat besar bag...
    Said Beby on 2017-04-08 20:13:11
  9. Luar biasa n profisiat Mgr. Agust Agus Pr. untuk keputusan ini. Terima kasih bua...
    Said Bius Galmin on 2017-04-07 19:22:15
  10. Puji dan sukur kepada Tuhan yang maha esa telah ada sekolah tinggi katolik nege...
    Said mbah kung on 2017-04-07 14:26:01
UCAN India Books Online