Gereja Katolik tidak mengkonversi warga Hindu, kata Kardinal Gracias

03/02/2017

Gereja Katolik tidak mengkonversi warga Hindu, kata Kardinal Gracias thumbnail

Para uskup dan imam mulai pertemuan tahunan Konferensi Waligereja India ritus Latin di Bhopal, India.

 

Peran Paus dalam mengangkat para uskup bukan merupakan campur tangan Vatikan dalam urusan internal negara, kata Kardinal Oswald Gracias, Presiden Federasi Konferensi-konferensi Waligereja Asia (FABC).

Kardinal, juga ketua Konferensi Waligereja India, menanggapi pertanyaan saat konferensi pers di Bhopal pada 30 Januari menjelang rapat pleno Konferensi Waligereja India di kota India bagian tengah ini.

“Tidak ada hal seperti itu,” katanya, menanggapi pertanyaan yang menanyakan apakah Paus mengangkat para uskup di India bisa campur tangan dari Vatikan.

Kardinal Gracias, Uskup Agung Bombay, termasuk sembilan kardinal yang ditugaskan Paus Fransiskus untuk membantu mereformasi Kuria Romawi dan pemerintahan Gereja Katolik.

Kardinal Gracias mengatakan bahwa Paus hanya memilih dari tiga kandidat yang dikirim kepadanya oleh Gereja lokal. Tiga kandidat yang dipilih tersebut melalui sebuah komite dari para pemimpin Gereja setelah musyawarah dengan semua pemangku kepentingan, katanya.

“Paus sering tidak tahu calon dan karena itu, tidak ada pertanyaan apapun terkait interfensi,” katanya.

Pertanyaan dan pernyataan kardinal itu muncul dari propaganda pro-Hindu di India bahwa hirarki Gereja Katolik dan para misionaris secara diam-diam bekerja untuk menjalankan agenda kepausan untuk mengkonversi umat Hindu dan mempengaruhi politik India.

Selama beberapa dekade, kelompok Hindu itu telah menuduh umat Katolik di India, termasuk Santa Teresa dari Kalkuta, bekerja untuk melaksanakan agenda Vatikan – mengkonversi umat Hindu dan orang miskin, warga kasta rendah.

Pernyataan kardinal itu juga muncul pada saat pembicaraan Vatikan-Tiongkok terkait pengangkatan uskup di Tiongkok dan pemerintah Tiongkok menilai bahwa hal itu adalah gangguan.

Kardinal Gracias, ketua wilayah Gereja India dengan jumlah umat Katolik terbanyak, mengatakan bahwa misi Gereja tidak memiliki agenda politik.

“Kami berada di sini untuk menyebarkan pesan cinta dan perdamaian, bukan untuk konversi agama. Kami tidak dan tidak pernah memaksa siapa pun untuk mengkonversi, kami ingin semua orang mengikuti agama mereka dengan teguh,” katanya.

Konferensi pers itu berlangsung pada malam pembukaan pleno para uskup. Lebih dari 130 uskup ritus Latin di India mulai pertemuan delapan hari pada 31 Januari untuk menemukan cara-cara untuk meningkatkan peran Gereja Katolik di negara itu.

Sidang pleno Konferensi Waligereja India ke-29 akan mencari cara “merevitalisasi keluarga” karena “itu adalah salah satu kebutuhan yang paling mendesak bagi Gereja,” kata Kardinal Gracias.

Konferensi Waligereja India adalah sebuah badan nasional dari para uskup ritus Latin di negara itu dan berbeda dengan Konferensi Waligereja India, badan nasional untuk para uskup dari ketiga ritus – Siro-Malabar, Siro-Malankara, dan Latin. Dari 172 keuskupan di India, 132 milik ritus Latin.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  2. Menciptakan peradaban cinta di Keuskupan Agung Semarang
  3. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  4. Umat ​​Katolik Laos siap mengikuti AYD di Yogyakarta
  5. Tidak ada perdamaian di Kashmir, bahkan selama Ramadan
  6. Kardinal Quevedo mengaitkan konflik dengan kemiskinan
  7. HRW tuduh polisi Filipina memalsukan data ‘pembunuhan perang narkoba’
  8. Gereja dan LSM di NTT membantu orang dengan HIV
  9. Uskup Macau bertemu dengan uskup China yang tidak diakui Vatikan
  10. Biarawati China mogok makan menuntut kompensasi setelah tarekat dibubarkan
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online