UCAN Indonesia Catholic Church News

Filipina berdebat terkait penerapan kembali hukuman mati

06/02/2017

Filipina berdebat terkait penerapan kembali hukuman mati thumbnail

Uskup Auksilier Broderick Pabillo dari keuskupan agung Manila memimpin doa untuk menghormati kehidupan dan HAM serta menolak hukuman mati di Filipina.

 

Seorang anggota parlemen Filipina mengutip orang kudus dan kitab suci untuk membenarkan hukuman mati ketika berdebat dalam pleno tentang penerapan kembali hukuman mati bagi kejahatan keji dan narkoba yang memanas di Kongres.

Wakil Ketua parlemen Fred Castro mengutip St. Thomas Aquinas untuk mendukung argumennya yang kontroversial.

“(Jika) seorang pria berbahaya dan menular kepada masyarakat karena sejumlah dosa, itu adalah terpuji dan menguntungkan bahwa ia dibunuh dalam rangka menjaga kebaikan bersama,” kata Castro mengutip Summa Theologica St. Thomas Aquinas.

Legislator itu berpendapat bahwa orang kudus dan teolog ini mendukung pembunuhan seorang kriminal “jika hal ini diperlukan untuk kebaikan seluruh masyarakat.”

Penerapan kembali hukuman mati adalah salah satu janji kampanye Presiden Rodrigo Duterte untuk mencegah kejahatan.

Ajaran Katolik

Kardinal Luis Antonio Tagle, uskup agung Manila mengeluarkan pernyataan pada 2 Februari mengemukakan argumen oleh para pemimpin Gereja Katolik terhadap RUU itu.

Dia mengatakan penelitian di seluruh dunia menunjukkan bahwa hukuman mati tidak mengurangi kejahatan.

“Pendekatan terbaik adalah mengatasi akar kejahatan secara positif dan komprehensif di mana pelanggar mungkin akan menjadi korban itu sendiri,” kata kardinal.

Di antara “akar” itu, katanya, adalah hilangnya nilai-nilai moral, ketidakadilan, ketimpangan, kemiskinan, kurangnya akses ke makanan, pendidikan, pekerjaan dan perumahan,  narkoba, pornografi, dan hilangnya rasa hormat terhadap seksualitas.

Dia mengatakan Gereja dan negara “perlu melindungi dan memperkuat unit dasar masyarakat yakni keluarga.”

Kardinal Tagle juga memperingatkan bahwa hukuman mati “mungkin melegitimasi penggunaan kekerasan untuk menangani setiap kesalahan,” seraya menambahkan bahwa korban kejahatan perlu “keadilan dan pemulihan.”

“Kita perlu mereformasi institusi sehingga mereka dilindungi dengan bertindak adil sementara mencegah penyebaran budaya kekerasan,” katanya.

Sistem peradilan cacat

Kelompok hak asasi manusia (HAM) dan keluarga korban pelanggaran juga menyuarakan penentangan mereka terhadap proposal itu di Kongres.

“Hukuman mati pada dasarnya adalah keinginan legislatif untuk serentetan pembunuhan di luar hukum … sebagian besar akan mempengaruhi orang miskin yang memiliki jauh lebih sedikit atau tidak ada akses ke sumber daya untuk membela diri di pengadilan,” kata Cristina Palabay, sekjen kelompok HAM Karapatan.

Dia mengatakan di bawah sistem peradilan cacat terkait hukuman mati adalah “pelanggaran hak untuk hidup dan larangan mutlak penyiksaan dan perlakuan kejam, tidak manusiawi atau merendahkan.”

Palabay mengatakan hukuman mati juga akan berdampak kepada pembela HAM, aktivis dan pembangkang politik, ketika mereka yang berkuasa “mengkriminalisasi keyakinan dan tindakan politik.”

Dia mencatat bahwa hampir semua tahanan politik telah didakwa dengan rekayasa pelanggaran pidana seperti pembunuhan, penculikan, dan bahkan tuduhan berkaitan dengan narkoba.

Karapatan melaporkan bahwa setidaknya 249 dari 392 tahanan politik didakwa dengan “tuduhan pembunuhan palsu” serta ditangkap dan ditahan melalui “surat perintah.”

Senator bersuara menolak

Sejumlah anggota Senat Filipina berjanji menghapus pasal-pasal yang diusulkan.

“Saya menolak hukuman mati, saya akan memilih menentangnya, dan saya akan meminta orang lain untuk tidak mendukungnya,” kata Senator Francis Escudero.

Setidaknya sembilan senator telah bersumpah memberikan suara terhadap penerapan kembali hukuman mati.

Filipina menandatangani moratorium hukuman mati tahun 2001 dan lima tahun kemudian menurunkan hukuman dari 1.230 terpidana mati menjadi penjara seumur hidup.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Pastor China Dipenjara Kasus Pencurian, Umat Mengatakan Dia Dijebak
  2. Diduga Karena Tekanan, Pemerintah Menutup Sebuah Misi Katolik di India
  3. Gempa Meksiko Menewaskan 11 Orang Saat Acara Pembaptisan
  4. Renungan Hari Minggu XXV Tahun A – 24 Sept 2017
  5. Partai Khunto Mundur, Timor-Leste Dipimpin Koalisi Minoritas
  6. Mgr Adrianus Sunarko Ditahbiskan Uskup Pangkalpinang Akhir Pekan Ini
  7. Paus Ingatkan Uskup Jepang agar Tidak Melupakan Martir
  8. Tidak Diperhatikan, Milisi Ancam Tutup Perbatasan RI-Timor Leste
  9. Uskup Hong Kong Beberkan Cara Menghadapi China
  10. Pastor Salesian Ini Mengisahkan Penangkapan dan Pembebasannya
  1. Terima kasih atas masukannya Romo. Salam hangat...
    Said cnindonewsletter on 2017-09-18 16:37:16
  2. Koreksi: Sejak Oktober 2016, Superior Generale CDD bukan lagi R.P. Jhon Cia, ...
    Said Yustinus CDD on 2017-09-18 11:19:22
  3. Suster, perkenalkan saya Dame. Saya berumur 25 tahun dan saya sudah baptis katol...
    Said Parningotanna Dameria Siahaan on 2017-09-15 14:17:52
  4. kalau ada pohon yang tumbang sebab angin kencang, maka jangan salahkan angin yan...
    Said mursyid hasan on 2017-09-13 00:02:54
  5. Salam Kenal Sahabat seiman, Nama sy Antonius, tinggal di Jakarta Indonesia. Sy...
    Said Antonius on 2017-09-10 21:25:14
  6. Selamat siang Romo Indra Sanjaya. Di Wahyu 13:1 kitab deuterokanonik ada salah t...
    Said agus eko on 2017-09-10 14:04:11
  7. Infonya sangat bermanfaat. Semoga umat Katolik makin mencintai kitab suci.......
    Said Deo Reiki on 2017-09-07 08:31:09
  8. Selamat siang, Jika boleh saya meminta nomer telp ibu Angelic Dolly Pudjowati...
    Said Cornellia on 2017-09-04 15:26:00
  9. sejarah masa lalu, yang masih belum jelas keputusan dari Pemerintah, dan belum j...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:16:52
  10. religius sendiri sangat erat kaitannya kepada seluruh kegiatan umat termasuk lin...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:04:35
UCAN India Books Online