UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik di India mengabaikan ajaran Gereja tentang kontrasepsi

Pebruari 6, 2017

Umat Katolik di India mengabaikan ajaran Gereja tentang kontrasepsi

Kardinal Telesphore Toppo menjadi moderator dalam sebuah diskusi pada sidang pleno Konferensi Waligereja India ritus Latin di Bhopal, 1 Februari.

 

Sebagian besar umat Katolik di India mengabaikan ajaran Gereja mengenai penggunaan kontrasepsi yang menjadi kekhawatiran bagi hirarki, kata para pejabat Gereja pada konferensi tahunan para uskup India.

Uskup Dharmapuri Mgr Lawrence Pius Dorairaj, ketua Komisi Keluarga Konferensi Waligereja India, menyatakan keprihatinan ketika ia menyajikan laporannya kepada 130 uskup pada sidang pleno ke-29 Konferensi Waligereja India ritus Latin.

Para uskup memulai pertemuan delapan hari di Bhopal pada 30 Januari. Mereka berfokus pada cara untuk merevitalisasi keluarga Katolik di India, berpijak pada Amoris Laetitia (Sukacita Cinta) dari Paus Fransiskus tahun 201.

Konferensi Waligereja India adalah badan nasional para uskup ritus Latin negara itu dan berbeda dengan Konferensi Waligereja India, badan nasional untuk para uskup dari tiga ritus – Siro-Malabar, Siro-Malankara dan Latin. Dari 172 keuskupan di India, 132 milik ritus Latin.

Tahun 2015, Gereja Katolik di India melakukan survei mengidentifikasi berbagai masalah yang dihadapi oleh keluarga Katolik, termasuk pandangan mereka tentang ajaran Gereja mengenai pernikahan, keluarga berencana (KB) dan kontrasepsi.

“Lebih dari 90 persen umat Katolik mengabaikan ajaran Gereja tentang keluarga berencana dan kontrasepsi. Sebagian mengikuti keyakinan mereka daripada Gereja,” kata Uskup Dorairaj.

Terkait peraturan kelahiran, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan umat Katolik untuk mengikuti metode KB alami berdasarkan “pada observasi dan penggunaan masa subur” yang “sesuai dengan kriteria moralitas,” katanya.

Ketika mayoritas Katolik mengabaikan ajaran Gereja adalah sebuah “keprihatinan serius bagi Gereja dan kami akan berupaya mencari solusi untuk itu,” kata Uskup Dorairaj.

Gereja menentang “semua metode kontrasepsi buatan” karena metode ini tidak mempromosikan kehidupan sebagai karunia dari Allah, kata Uskup Chacko Thomttumarickal dari Indore.

Uskup Thomttumarickal mengatakan cara terbaik untuk mengatasi situasi ini adalah “menciptakan kesadaran di kalangan umat Katolik menghindari menggunakan metode KB buatan.” Keuskupannya mengelola kelas khusus untuk pasangan membuat mereka sadar akan dampak negatif dari kontrasepsi.

“Lebih sering kurangnya pemahaman yang tepat menyebabkan kebingungan dan orang mengambil metode buatan,” katanya.

Namun, itu bukan masalah bagi umat Katolik suku, kata Kardinal Telesphore P. Toppo, uskup agung Ranchi, dianggap sebagai kepala komunitas Katolik suku di negara bagian – Bihar, Jharkhand, dan Chhattisgarh.

“Umat Katolik suku menghidupkan iman Katolik dengan mengikuti ajaran Katolik dan oleh karena itu tidak ada pertanyaan tentang menggunakan alat kontrasepsi untuk membatasi¬† kehidupan,” kata Kardinal Toppo kepada ucanews.com.

Masyarakat suku pada umumnya tidak mengadopsi metode kontrasepsi karena mereka “cinta memiliki lebih banyak anak-anak. Hal ini sangat umum dalam keluarga suku memiliki lebih dari lima anak di India meskipun kemiskinan, penyakit, keterbelakangan dan kekurangan lainnya,” katanya.

Data pemerintah yang dikeluarkan pada April lalu menunjukkan jumlah orang Kristen suku sekitar 10,03 juta tahun 2011 atau sekitar 10 persen dari total 104 juta orang suku. Sekitar 40 persen dari 27 juta orang Kristen adalah orang suku.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi