Biarawati Katolik melawan stigma terhadap orang kusta

08/02/2017

Biarawati Katolik melawan stigma terhadap orang kusta thumbnail

Suster Suso Kottirikal bersama seorang teman di distrik Bharwani, Madhya Pradesh. Biarawati itu tinggal di sebuah desa bersama orang kusta.

 

Suster Suso Kottirikal memasuki sebuah desa di Negara Bagian Madhya Pradesh, India,  tahun 1994 di mana warga di sana terkena penyakit kusta dan sepuluh tahun ia menyaksikan bagaimana para penderita kusta mengalami diskriminasi.

Sebelum pindah ke Asha Gram (Desa Harapan), dia bekerja sebagai ketua asrama di sekolah yang dikelola Gereja. Tahun 1984, ia melihat staf dari sekolah itu mengusir anak-anak dari para penderita kusta.

“Mereka hanya ingin beberapa ruang untuk duduk dan belajar, tapi tidak bisa bergabung dengan kelas reguler karena mereka tidak diperbolehkan untuk duduk bersama anak-anak lain,” katanya, seraya mengenang bagaimana guru dan siswa melemparkan batu ke arah mereka.

“Itu adalah syok dalam hidup saya, saya tidak akan pernah melupakannya,” katanya.

Pelayanan sebagai solusi

Dia harus menunggu hingga tahun 1994 sebelum dia bisa memulai sebuah sekolah dasar untuk anak-anak dari para penderita kusta. Sekolah ini terletak di desa itu di mana penderita kusta hidup dan dia tahu anak-anak itu tidak akan diizinkan untuk belajar di sekolah normal.

Dia segera pindah dari biara dan pergi ke desa itu untuk melayani orang-orang kusta dengan lebih baik. Daerah yang dihuni oleh orang kusta itu ditentukan oleh pemerintah negara bagian itu tahun 1983 dan para kusta itu dibantu oleh dua biarawati Katolik. Kedua suster ini bekerja di sana kemudian membantu pengobatan kepada para pasien tersebut. Saat itulah Suster Kottirikal menyadari “bahkan para dokter dan perawat” enggan mendekati pasien kusta karena takut tertular.

Segera ia membantu orang-orang seperti Sunita Nagrawe, seorang wanita berusia 25 tahun, yang lulus tes masuk pegawai pemerintah karena memenuhi syarat untuk menjadi seorang staf keuangan.

Nagrawe, lahir dan dibesarkan di desa itu, yakin keberhasilannya sepenuhnya untuk Suster Kottirikal.

“Saya tidak akan pernah melihat sekolah jika suster tidak membantu saya,” katanya kepada ucanews.com.

Melebihi stigma

Mahali, ibu dari Nagrawe, mengatakan suster itu luar biasa. “Dia tinggal bersama kami seperti salah satu dari kami, membalut luka-luka kami dan memberikan bantuan bila dibutuhkan,” katanya.

Ia menambahkan bahwa biarawati itu mengumpulkan anak-anak mereka dan mengajar mereka di bawah pohon karena tidak ada fasilitas yang tersedia.

Suster Kottirikal juga pergi ke desa-desa setempat menjelaskan bahwa penyakit kusta bukan turunan dan tidak bisa ditular melalui sentuhan, dan sebagai bukti ia tinggal bersama orang kusta di desa itu.

Suster Kottirikal mengatakan bahwa beberapa siswa kelompok pertama tidak melakukannya dengan baik, tapi generasi baru melakukan lebih baik. Saat ini, 110 anak belajar di sekolah, 80 dari mereka adalah perempuan, termasuk dari desa-desa tetangga.

Anil Dodwe, siswa kelas III  teknik mesin mengatakan kepada ucanews.com bahwa ia “tidak akan bersekolah di sana tanpa bantuan dari suster itu.” Sekarang, dia ingin membantu anak-anak lain seperti dirinya setelah ia menyelesaikan studinya.

Nagrawe juga berharap ia tidak mendapatkan stigma setelah mendapatkan pekerjaan sebagai staf keuangan.

Suster Kottirikal mengatakan kusta “tidak menular jika salah satu orang terkena kusta sudah diobati. Ini benar-benar disembuhkan dalam waktu enam bulan jika pengobatan dan perawatan rutin dilakukan.”

Dia mengatakan ketidaktahuan adalah akar penyebab diskriminasi terhadap orang yang terkena kusta. Kesadaran lebih dibutuhkan bagi seluruh masyarakat di India guna membantu orang-orang dengan penyakit itu dan anak-anak mereka untuk menjalani hidup normal.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, sekitar seperempat juta orang kusta di seluruh dunia, sebagian besar kasus ini dilaporkan berasal dari India. Kusta dapat disembuhkan dengan Multi Drug Therapy (MTD).

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Otoritas Cina menggerebek Misa komunitas bawah tanah
  2. Gereja Indonesia dan aktivis mencari cara melindungi anak dari pornografi
  3. Misionaris Filipina menjadi pemimpin Konferensi Yesuit Asia Pasifik
  4. Pemimpin Partai Kristen Pakistan tidak diijinkan berobat dalam tahanan
  5. Kardinal Bo minta tokoh agama Myanmar aktif berdialog
  6. Survei: Umat Katolik di Hong Kong tidak paham tugas diakon
  7. Kehadiran umat di gereja Filipina cendrung menurun
  8. Orang Kristen menjadi kelompok teraniaya paling banyak di dunia
  9. FPI: Penyampaian dakwah jelang Pilkada DKI Jakarta efektif
  10. Petani Asia menolak uji coba padi hasil rekayasa
  1. Riset Wahid Foundation dan Kemenag Mei 2016 dan riset terpisah oleh Forum Keruku...
    Said fred on 2017-04-27 09:10:22
  2. Setuju Grace. Patut disayangkan dana sebesar itu "hanya" untuk membangun sesuatu...
    Said fred on 2017-04-27 08:34:15
  3. Admin, nggak salah tu orang kristen paling teraniaya. orang islam kali yg paling...
    Said Yesi on 2017-04-27 08:15:21
  4. Secara pribadi....sebaiknya bagi calon pemimpin jangan didukung oleh ormas agama...
    Said Ansel on 2017-04-26 14:41:04
  5. Terlalu bombastis dananya, lebih baik untuk kesejahteraan rakyat. Bisa jadi mala...
    Said Setyo on 2017-04-26 11:54:30
  6. Menurut saya, idenya sih boleh boleh saja tapi agak berlebihan. Duit sebanyak i...
    Said Grace on 2017-04-25 15:08:34
  7. Wajar saja kalau timbul kekhawatiran di kalangan minoritas karena kelompok radik...
    Said Aan Monterado on 2017-04-21 12:14:35
  8. Salut tuk kerja keras tim, tapi kritik utk peran pastor/suster, tetep aja yg kat...
    Said andreas jacob on 2017-04-17 14:16:16
  9. Menurut saya jika kita melihat dengan kondisi bangsa saat ini lebih bagus waktu ...
    Said Nick on 2017-04-15 10:04:04
  10. Saya harap juga setiap gereja di Jakarta dipersiapkan keamanannya.....
    Said Jenny Marisa on 2017-04-12 13:14:03
UCAN India Books Online