UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Program Raskin ‘gagal mengurangi kemiskinan’

Pebruari 10, 2017

Program Raskin ‘gagal mengurangi kemiskinan’

Pejabat Bulog Merauke menguji beras subsidi sebelum disalurkan kepada rakyat di Papua.

 

Program “Beras untuk Rumah Tangga Miskin” (Raskin), yang diluncurkan hampir dua dekade lalu, tidak efektif untuk mengurangi kemiskinan dan menciptakan ketergantungan pada bantuan pemerintah, kata seorang imam di Keuskupan Agung Merauke, Papua.

Program ini diluncurkan oleh pemerintah tahun 1998 untuk mensubsidi keluarga miskin di seluruh tanah air, menyusul krisis ekonomi tahun 1997 yang menimpa negara-negara di Asia.

Baru-baru ini, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, yang mengawasi program ini, mengatakan bahwa Raskin bertujuan meningkatkan kualitas hidup keluarga miskin.

Raskin ini merupakan upaya negara untuk mempertahankan kedaulatan pangan di tingkat keluarga dan nasional, tambahnya.

Namun, menurut Pastor Anselmus Amo, ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan Keuskupan Agung Merauke, program ini tidak mendidik masyarakat.

“Pemerintah harus mengevaluasi kembali program ini karena membuat orang tergantung pada subsidi beras, mengabaikan kemampuan mereka (yang dianugerahkan Allah),” kata Pastor Amo.

“Jika memungkinkan, pemerintah harus menghentikan program ini dan fokus pada peningkatan produktivitas petani lokal,” katanya.

 

0210cPastor Anselmus Amo dari Keuskupan Agung Merauke, Papua.

 

Papua dan wilayah lainnya memiliki sumber daya alam yang berlimpah, namun petani tidak mendapatkan bantuan yang cukup dari pemerintah untuk memaksimalkan potensi daerah mereka masing-masing. Misalnya, Papua dan Maluku memiliki sagu, jagung, pisang, dan produk lainnya, dan pemerintah harus membantu petani mengolah sumber daya ini, kata Pastor Amo.

Imam itu juga menyalahkan pemerintah yang berfokus pada agro-industri, seperti memberikan konsesi kepada perusahaan perkebunan, yang rusak jutaan hektar hutan, menyebabkan kepunahan spesies dan menciptakan konflik dalam masyarakat akibat perebutan tanah.

Remisius Kaize dari desa Nasem, Kabupaten Merauke, setuju dengan imam itu bahwa pemerintah harus lebih fokus pada pemberdayaan petani lokal dalam jangka panjang.

Namun, dia akan terus membeli beras bersubsidi, meskipun kualitasnya rendah, karena harganya lebih murah dibandingkan dengan harga pasar reguler.

Kaize hanya menghabiskanĀ  sekitarĀ  3 dollar AS untuk 15 kilogram beras, sebagian kecil dari harga di pasar lokal.

Sementara orang-orang di desa bisa menanam singkong, pisang, dan sagu di ladang mereka. Mereka juga membutuhkan beras dan program Raskin pemerintah dipilih karena harga murah, kata Kaize.

Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mengatakan bahwa sekitar 15,5 juta keluarga menerima Raskin tahun 2016. Setiap keluarga menerima 15 kilogram Raskin setiap bulan dengan harga lebih murah.

Tahun lalu lebih dari 2,5 juta ton beras disalurkan kepada keluarga-keluarga miskin oleh Badan Usaha Logistik (Bulog) di seluruh Indonesia.

Menurut Haryo Nugroho Broto, Kepala Bulog Merauke, pemerintah telah mengalokasikan sekitar 15.400 ton untuk sejumlah kabupaten – Merauke, Mappi, Boven Digoel dan Yahukimo.

Eman Riberu, Merauke, Papua

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi