Trauma masih terus menghantui korban gempa Aceh

14/02/2017

Trauma masih terus menghantui korban gempa Aceh thumbnail

Warga lokal dan polisi bersiap untuk mengikuti solat Jumat di masjid yang runtuh di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, 9 Desember 2016.

 

Pada 7 Desember, Muhammad Yusuf Ismail sedang tidur di rumahnya di Kuta Pangwa, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh ketika tiba-tiba goncangan hebat terjadi dan membuat rumahnya roboh.

Saat itu, ada 10 orang di rumahnya, termasuk anak-anak dan cucunya.

Sementara yang lain selamat, putrinya beserta cucunya yang berusia 7 bulan dihantam reruntuhan tembok.

“Goncangannya sangat keras, durasinya singkat. Rumah kami seperti terangkat, lalu terbanting lagi.“

Ia sempat berupaya menyelamatkan anaknya yang berteriak memohon pertolongan saat setengah badannya sudah tertindih tembok.

Namun, naas, karena tiba-tiba bagian lain dari tembok itu jatuh lagi dan menutupi seluruh tubuh mereka.

“Sebagian runtuhan itu menghantam pundak saya. Saya hanya bisa menangis saat menyadari anak saya sudah tidak bisa diselamatkan lagi,” katanya.

Setelahnya, ia keluar rumah.

Akibat runtuhan itu, Ismail mengalami cedera di bagian bahu dan harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari.

Kini, bersama dengan isterinya Ramla, ia tinggal di sebuah rumah darurat.

Kampung mereka adalah salah satu lokasi terparah akibat gempa berkekuatan 6.5 SR yang terjadi pada pukul 05.00 subuh, yang menyebabkan 104 orang meregang nyawa di tiga kabupaten, yakni Pidi, Bireuen dan Pidie Jaya.

Gempa itu juga menyebabkan 857 orang luka-luka dan 45.000 lebih orang mengungsi. Kerusakan infrastruktur juga tidak dapat dihindari, seperti rumah ibadah dan sekolah.

Hal yang membuat ketakutan warga Aceh menjadi-jadi terhadap gempa itu adalah bayangan akan terjadinya lagi tsunami seperti pada 2004, ketika 130.000 meninggal dan lebih dari setengah juta warga mengungsi.

Letak lokasi gempa yang dekat dengan laut membuat mereka panik, meski kemudian tsunami tidak terjadi karena gempa itu berpusat di darat.

“Hanya beberapa menit setelah gempa, semua orang langsung keluar rumah, memadati jalan dan lari menuju ke arah bukit yang jaraknya sekitar dua km dari pemukian,” kata Bahni Sulaiman, 50, yang bekerja sebagai guru sekolah dasar.

“Susah rasanya menerima situasi dimana hanya dalam hitungan detik, semuanya hancur,” kata Darmiyati Rusli, 42.

Rumah ibu empat orang anak ini di kampung Mee Pangwa ikut roboh.

 

Bantuan

Merespon bencana itu, bantuan baik dari pemerintah, NGO, maupun lembaga Gereja berdatangan.

Pemerintah pun menargetkan membangun 2.202 rumah sederhana.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dana rehabilitasi dan rekonstruksi mendekati Rp1 triliun, di mana dimanfaatkan untuk pembangunan sarana ibadah, sekolah, rumah warga, dan jalan yang rusak.

Sementara itu, Gereja Katolik melalui organisasi seperti Vivat Internasional, Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan ikut menyalurkan bantuan.

“Selain mengagendakan pembuatan rumah darurat, kami juga fokus memberi bantuan pada ibu hamil dan bayi,” kata Pastor Paul Rahmat SVD dari Vivat Internasional.

Kini, proses recovery sedang berjalan.

Di Kuta Pangwa, personel TNI sibuk membangun rumah-rumah. Muda Setyawan, kepala staf Kodim di Pidie mengatakan, mereka menangani 500 rumah, di mana pengerjaannya melibakan 400 personel dari berbagai satuan.

“Kami diberi target 40 hari selesai, hingga Februari ini. Satu rumah ditargetkan selesai dalam 8 hari,” katanya.

10Sejumlah aparat TNI sedang membantu membangun rumah darurat.

 

Korupsi

Sementara itu, di tengah proses ini, muncul polemik lantaran para korban menduga ada ketidakadilan dan praktek manipulatif dalam penyaluran bantuan.

“Rumah-rumah rusak berat yang seharusnya mendapat bantuan tapi banyak yang tidak ada dalam data pemerintah,” kata Bustami Afan, 36, warga kampung Mee Pangwa.

Anta Bungsu Rumpak dari Jaringan Relawan Kemanusiaan mengatakan, memang ada yang didata salah.

“Sebagian korban rumahnya tidak terlalu rusak, tapi didata mengalami rusak berat. Begitu juga sebaliknya,” katanya.

Di samping itu, laporan adanya korupsi terhadap dana bantuan mencuat.

Media lokal melaporkan bahwa sumbangan untuk korban gempa bumi di Pidie Jaya dari Dewan Perwakilan Daerah misalnya diduga ditilep, di mana harusnya bantuan senilai Rp 409 juta. Namun dana yang diterima hanya Rp 350 juta.

Berang dengan hal itu, Askhalani, kordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh meminta agar pelaku korupsi dana itu dihukum berat.

“Bagaimanana bisa, saat orang sedang dalam keadaan musibah ada pihak yang meraup keuntungan pribadi. Hukuman mati menjadi solusi untuk memberikan efek jera,” katanya.

Trauma

Kini, dua bulan pasca gempa itu, warga terlihat menjalankan aktivitas sepeti biasa. Restoran dan kedai kopi kembali ramai. Para petani pun mulai bekerja di lading-ladang mereka.

Namun, trauma masih terus menghantui warga, terutama para korban.

“Kami hanya bisa bertahan di tenda,” kata Darmiyati Rusli.

Jamaludin Sulaiman, warga Tampui, Kecamatan Trenggadeng yang mengalami luka di kepala dan badan juga mengatakan hal serupa.

“Saya tidak berani memasuki rumah, begitu juga anak-anak. Ini pertama kali saya merasakan gempa yang dahsyat,” katanya.

“Ketika tsunami pada 2003, ada getaran, tetapi tidak sekuat gempa saat ini,” katanya.

Muhammad Yusuf Ismail pun masih susah melupakan anak dan cucunya.

“Saya selalu ingat ketika anak saya berteriak meminta tolong. Dan saya begitu kecewa karena saya tidak bisa menyelamatkan mereka,” katanya.

Ryan Dagur, Banda Aceh

Sumber: ucanews.com

 

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Ulang tahun ke-60, Kardinal Tagle berbicara tentang kemunafikan
  2. Menciptakan peradaban cinta di Keuskupan Agung Semarang
  3. Muslim Indonesia mengecam serangan militan di Marawi
  4. Umat ​​Katolik Laos siap mengikuti AYD di Yogyakarta
  5. Tidak ada perdamaian di Kashmir, bahkan selama Ramadan
  6. Kardinal Quevedo mengaitkan konflik dengan kemiskinan
  7. HRW tuduh polisi Filipina memalsukan data ‘pembunuhan perang narkoba’
  8. Gereja dan LSM di NTT membantu orang dengan HIV
  9. Uskup Macau bertemu dengan uskup China yang tidak diakui Vatikan
  10. Biarawati China mogok makan menuntut kompensasi setelah tarekat dibubarkan
  1. Memang perang itu lebih membuat susah perempuan dan anak-anak. Tapi menghadapi p...
    Said Matheus Krivo on 2017-06-17 07:15:48
  2. kehidupan problema kehidupan, diera kini jauh berbeda dari era sebelumnya. sehin...
    Said Antera Jaya on 2017-06-14 23:40:08
  3. Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positi...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 13:41:55
  4. Terimakasih Bapak Paus Fransiskus, yang selalu menghidupkan kembali pesan Firman...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-09 07:58:40
  5. maksud saya sulit membedakan.. dst....
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:22:59
  6. Agak (kadang sangat)membedakan mana Muslim yang asli dan mana yang masuk teroris...
    Said Jenny Marisa on 2017-06-08 14:21:57
  7. Kata gubernur dan masyarakat muslim di Marawi mengungkapkan kebenaran hakiki bah...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-08 13:49:07
  8. Gereja sudah betul mengeluarkan surat gembala untuk umat, namun maaf penyakit ko...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-06-06 14:25:46
  9. Informasi tentang pulau Buru sangat membantu untuk memahami keadaan masyarakat d...
    Said DR. Bele Antonius, M.Si. on 2017-06-02 06:30:56
  10. Dalam sejarah dunia, bangsa penjajah yang pernah menjajah banyak negara adalah R...
    Said ROTE on 2017-06-02 01:05:49
UCAN India Books Online