UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pejabat Tiongkok dituduh mengambil organ pengikut Falun Gong dan Kristen ‘bawah tanah’

Pebruari 16, 2017

Pejabat Tiongkok dituduh mengambil organ pengikut Falun Gong dan Kristen ‘bawah tanah’

Para praktisi Falun Gong menggelar protes di Hong Kong menuntut mantan Presiden Tiongkok Jiang Zemin dibawa kepengadilan.

 

Dua pejabat kesehatan Tiongkok kontroversial menghadiri pertemuan di Vatikan pekan lalu tentang perdagangan organ dan telah menuduh para ahli medis mengambil organ secara paksa.

Dalam sebuah langkah kontroversial yang menarik perhatian media, para mantan pejabat Tiongkok, Huang Jiefu, mantan wakil menteri kesehatan Tiongkok, dan Wang Haibo, bertanggung jawab untuk database transplantasi organ di Tiongkok, menghadiri KTT yang berlangsung 7-8 Februari di Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan, Vatikan.

Kedua pria itu banyak terlibat dalam pengambilan organ dari para tahanan di Tiongkok, kata Wang Zhiyuan, seorang dokter Tiongkok.

“Kami memiliki banyak bukti bahwa (kedua pejabat) itu terlibat dalam pengambilan organ ilegal,” kata Wang Zhiyuan, ketua Organisasi Penyelidikan Penganiayaan Falun Gong Internasional (WOIPFG) dan seorang ilmuwan penelitian di Harvard Medical School.

Huang, seorang ahli bedah hati, adalah juru bicara resmi untuk sistem transplantasi organ di Tiongkok, mengatakan bahwa panen organ itu dilakukan terhadap para terpidana mati, minoritas agama dan etnis seperti warga Uighur, Tibet, Kristen “bawah tanah” dan terutama Falun Gong.

Wang Zhiyuan mengatakan kepada ucanews.com bahwa selama operasi transplantasi hati tahun 2005, Huang memerintahkan dua hati cadangan sebagai ekstra. Operasi tersebut menggunakan waktu hampir 40 jam.

Menurut teknologi klinis, transplantasi hati harus dilakukan dalam waktu 15 jam. Jika mereka dapat disediakan hingga 40 jam, itu berarti organ-organ lain juga diambil dari orang-orang yang hidup, jelas Wang Zhiyuan.

Klaim Huang didukung dalam sebuah editorial yang ditulis bersama oleh Profesor Wendy Rogers, seorang pakar etika klinis dari Universitas Macquarie Australia, dan Dr. Jacob Lavee, ahli bedah transplantasi dari Israel, yang dipublikasikan secara online oleh jurnal medis otoritatif pada 7 Februari ketika pembicaraan tersebut dimulai di Vatikan.

Sebagai anggota komite inkumben Konferensi Konsultatif Politik Rakyat Tiongkok, badan penasehat utama Beijing, Huang adalah pejabat tinggi Tiongkok pertama berpartisipasi dalam pertemuan di Vatikan itu.

“Ini adalah sebuah penghinaan bahwa pertemuan Vatikan telah menjadi alat bagi Tiongkok untuk menutupi kejahatannya,” kata Wang Zhiyuan yang merupakan mantan dokter militer yang melarikan diri ke AS tahun 1995.

WOIPFG mengirim surat mendesak Paus Fransiskus tidak mengizinkan partisipasi Tiongkok dalam acara tersebut. Surat itu mengatakan bahwa Huang membantu mendirikan pusat transplantasi organ di Tiongkok, seraya menyatakan bahwa ahli bedah hati itu adalah salah satu pembedah terkenal telah secara langsung berpartisipasi dalam pengambilan organ secara paksa.”

Dokter lain menyuarakan keprihatinan

Enver Tohti, seorang etnis Uighur yang melarikan diri ke Inggris setelah ia mengambil bagian dalam pengambilan organ sebagai dokter bedah di barat Tiongkok selama 1990, adalah salah satu tanda tangan dari surat lain dari 10 ahli etika medis dan profesional menentang kehadiran Huang dalam pertemuan Vatikan.

“Kini pengambilan organ begitu merajalela di Tiongkok karena mereka dapat mengambil ginjal dalam empat jam,” kata Enver Tohti kepada ucanews.com.

Dia mengatakan bahwa KTT itu telah memberikan Tiongkok kesempatan untuk menghindari tuduhan pengambilan organ.

“Tiongkok menggunakan kekuatan ekonominya untuk memaksa negara lain untuk tunduk padanya, bahkan termasuk Paus. Ini tidak dapat diterima,” kata Enver Tohti.

Tanggapan Uskup

Uskup Marcelo Sanchez Sorondo, kanselir Akademi Ilmu Pengetahuan Kepausan, membela partisipasi Tiongkok dalam KTT yang dihadiri oleh hampir 80 dokter, aparat penegak hukum dan perwakilan organisasi kesehatan pemerintah dan non-pemerintah.

“Apakah benar mereka melakukan transplantasi organ ilegal di Tiongkok? Kita tidak bisa mengatakan itu. Tapi kita ingin memperkuat gerakan untuk perubahan,” kata uskup itu seperti dikutip media.

Kontroversi itu muncul pada saat Beijing dan Vatikan telah melakukan pembicaraan rahasia tentang pengangkatan uskup di negara komunis itu.

Beijing mengeluarkan peraturan pertama perdagangan melarang organ tahun 2007, namun perdagangan itu tetap merajalela karena negara itu menderita kekurangan drastis organ tubuh untuk disumbangkan.

Praktek menggunakan organ terpidana mati ‘untuk transplantasi dilarang tahun 2015.

Pada Juni tahun lalu, AS mengeluarkan resolusi yang mendesak pemerintah Tiongkok untuk menghentikan perampasan organ napi, dan mengakhiri penganiayaan terhadap Falun Gong.

Sumber: ucanews.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi