UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Seorang misionaris di antara para ‘keluyuran malam’

Pebruari 23, 2017

Seorang misionaris di antara para ‘keluyuran malam’

 

Waktu telah melewati pukul 12.00 malam saat telepon berdering. Ada jenazah lain, mungkin korban eksekusi, telah ditemukan di salah satu lorong gelap di Manila.

Para wartawan dan fotografer bergegas keluar melalui pintu sempit kantor pers kepolisian. Mereka ingin menuju tempat kejadian perkara (TKP) sebelum polisi melakukan penyelidikan.

Ada setidaknya sepuluh kendaraan dalam konvoi kendaraan media dengan lampu nyala berkedip guna melewati setiap lampu merah secara bebas.

Para jurnalis foto, yang telah dijuluki sebagai “keluyuran malam” menghabiskan setiap malam selama tujuh bulan terakhir mendokumentasikan perang pemerintah melawan narkoba, akhirnya mencapai tujuan mereka.

Di bawah jembatan, para fotografer berbaris. Tak seorang pun berbicara. Tidak ada yang ingin bicara kecuali bunyi jepretan kamera dan cahayanya mengusir kegelapan malam.

Tiga orang tewas dengan sejumlah luka tembak di kepala dan badan. Mereka adalah para pengedar narkoba, kata polisi. “Ini adalah operasi rahasia,” tambah petugas lain.

Bruder Ciriaco Santiago, terlibat dalam “keluyuran malam”, yang dikenal sebagai Bruder Jun, tidak mengambil foto. Kameranya masih tergantung di lehernya. Ia berdiri di dekat salah satu jenazah dan berlipat tangan, menutup mata lalu berdoa.

Setelah beberapa saat hening, Bruder Jun, seorang jurnalis foto, mengangkat kameranya dan mulai membidik setiap jenazah tersebut.

Malam-malam selama tujuh bulan telah dilewati Bruder Jun, yang juga ketua komisi kerasulan sosial dari Kongregasi Penebus Mahakudus di Manila.

Ia menghabiskan hari-harinya menjangkau orang-orang di “pinggiran.” Ia melakukan perjalanan ke desa-desa, tinggal bersama masyarakat adat, dan berkunjung ke tempat kumuh.

Dia melihat “kehidupan dan keindahan itu” dalam kisah setiap orang. Dia telah melihat orang sakit disembuhkan dan bagaimana mereka terus berpegang teguh pada iman mereka.

Sejak Presiden Filipina Rodrigo Duterte terpilih tahun lalu, Bruder Jun telah dihadapkan dengan “orang tewas mengenaskan.”

Dia harus pergi keluar setiap malam untuk mencari korban “perang habis-habisan” terhadap narkoba, banyak dari mereka adalah orang miskin.

Bruder Redemptoris itu mulai masuk ke dalam “aspek teologis” untuk membenarkan apa yang dia lakukan.

“Ini biasa dan sederhana. Ada yang salah dengan kampanye pemerintah. Ini mempengaruhi orang miskin. Ini melanggar hak, dan menghancurkan martabat kehidupan,” katanya.

“Kita tidak perlu mencari alasan lainnya untuk bertindak. Hidup itu sendiri sudah cukup bagi kita untuk memperjuangkan kehidupan manusia dan hak asasi manusia,” kata Bruder Jun.

Iman dan misinya membuat dia berbeda dari wartawan lain yang berlomba setiap malam untuk mencari orang tewas.

Bruder Jun tidak hanya mengambil foto. Dia tidak hanya berdoa.

Pada 28 Desember, orang-orang bersenjata menembak dan menewaskan tujuh remaja, termasuk seorang wanita hamil muda.

Sedih dengan berita itu, Bruder Jun memobilisasi para pekerja Gereja keesokan harinya untuk mencari keluarga korban.

Di sebuah rumah di ujung gang di pinggiran Manila, salah satu keluarga ditemukan sedang berkabung tanpa jenazah. Keluarga miskin itu tidak memiliki sarana untuk mengklaim jenazah dari kamar mayat.

Pihak penglola kamar mayat meminta biaya minimal 1.000 dollar AS per jenazah.

“Mereka bahkan tidak memiliki makanan untuk dimakan,” kata Dennis, salah satu misionaris awam bekerja dengan Bruder Jun.

Bruder misionaris itu mengatakan dia memahami rasa sakit dari mereka yang tertinggal dan “ketidakberdayaan dan keputusasaan”.

“Sedikitnya mengizinkan mereka untuk menguburkan orang mati,” katanya.

Bruder Jun mulai mengumpulkan dana. Dia juga mendesak keluarga korban bernegosiasi dengan pihak pengelola kamar mayat untuk menurunkan harga.

Akhirnya, remaja itu diberikan pemakaman yang layak.

Bruder Jun terus pergi keluar setiap malam, mencari jenazah yang ditinggalkan.

Setiap malam dia menunggu, bersama-sama dengan para “keluyuran malam,” untuk mendengar panggilan yang memacu mereka untuk menerobos setiap lampu merah di kota itu.

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi