Perempuan Dalit Kristen memperjuangkan hak-hak mereka

27/02/2017

Perempuan Dalit Kristen memperjuangkan hak-hak mereka thumbnail

Para perempuan Dalit Kristen membentuk jaringan bertujuan mengakhiri diskriminasi dalam masyarakat dan Gereja 13 Februaru di Bengaluru, India.

 

Perempuan Dalit Kristen di India telah membentuk jaringan guna mengatasi kekerasan fisik dan seksual, memperkuat kepemimpinan dan mempromosikan pendidikan bagi kaum perempuan.

“Ini merupakan jaringan perempuan Dalit Kristen pertama untuk mengungkapkan keprihatinan mereka tentang diskriminasi dan ketidakadilan,” kata Isabella Xavier, ketua Perempuan Dalit Kristen untuk Perubahan yang baru dibentuk kepada ucanews.com 24 Februari.

Dia merujuk pada 40 perempuan Dalit Kristen seluruh India yang berkumpul di kota Bengaluru, India bagian selatan, 13 Februari, untuk mendirikan organisasi baru ini di level nasional. Pertemuan itu diselenggarakan oleh Komisi Dalit dan Masyarakat Adat Konferensi Waligereja India.

“Warga Dalit, terutama perempuan, tidak memiliki identitas apapun. Kami dipandang rendah sebagai orang-orang tersisih termasuk dalam Gereja,” kata Xavier.

Dalit berarti “tak tersentuh” dalam bahasa Sansekerta dan digunakan menunjukkan kelompok yang disebut “paria” yang berada di luar empat sistem kasta di India.

Warga tak tersentuh ini terus mengalami diskrimiasi dalam berbagai bentuk dan orang-orang Dalit tidak diizinkan berbagi sumber air, tempat umum dan ruang ibadah. Sejumah paroki di India bagian selatan dilaporkan telah membatasi ruang untuk orang Dalit di gereja-gereja dan pemakaman.

India memiliki sekitar 27 juta orang Kristen dan setidaknya 60 persen dari mereka berasal dari Dalit atau latar belakang suku yang berjuang secara sosial dan ekonomis.

Dalit Kristen terus menderita karena pemerintah menyangkal mereka dan bantuan negara untuk Dalit Hindu. Hukum India memungkinkan kuota pekerjaan dan pendidikan untuk Dalit Hindu, tapi mengabaikan orang Kristen dan Muslim dengan alasan bahwa agama mereka tidak mengakui sistem kasta.

Xavier mengatakan bahwa situasi perempuan Dalit lebih rumit dalam masyarakat India yang patriarki yang mengabaikan perempuan dan membuat mereka rentan terhadap penyalahgunaan. Perempuan tidak memiliki kepemimpinan atau berbicara untuk hak-hak atau pendidikan mereka. Oleh karena itu kaum perempuan Dalit Kristen di semua 180 keuskupan di India perlu membangun program kepemimpinan.

Pastor Z. Devasagayaraj, sekretaris Komisi Dalit dan Masyarakat Adat Konferensi Waligereja India, mengatakan “sudah saatnya” bahwa isu-isu perempuan Dalit Kristen diutamakan, tetapi ia menambahkan bahwa jaringan baru itu akan menjadi “entitas terpisah dan independen “serta tidak menjadi bagian dari kantor uskup.

“Tapi, kami akan mempromosikan dan mendukung mereka,” katanya.

Menurut Jaringan Solidaritas Dalit Internasional, pengalaman perempuan Dalit yang didiskriminasi karena kasta mereka, situasi ekonomi dan gender mereka. Perempuan Dalit sering bekerja dalam perbudakan modern dan merupakan target utama perdagangan.

Sekitar 98 persen dari mereka dipaksa kerja secara tak manusiawi membersihkan kotoran manusia dengan tangan dan sekitar 70 persen perempuan Dalit buta huruf di pedesaan.

“Perempuan Dalit menjadi target mudah bagi kekerasan seksual dan kejahatan lainnya, karena para pelaku hampir selalu lolos dalam kasus itu,” menurut situs jaringan itu yang melakukan advokasi untuk hak asasi manusia Dalit secara nasional dan internasional.

Sumber: ucanews.com

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online