UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Umat Katolik Sri Lanka menentang amandemen UU aborsi

Pebruari 27, 2017

Umat Katolik Sri Lanka menentang amandemen UU aborsi

Sebagai bagian dari protes menentang aborsi, para demonstran membawa boneka janin berusia tiga bulan di Rio de Janeiro, Brasil. Gereja Katolik Sri Lanka menolak amandemen UU aborsi.

 

Para pejabat Gereja telah mendesak umat Katolik di Sri Lanka menyuarakan oposisi mereka terkait rencana pemerintah meringankan hukuman bagi pelaku aborsi di negara itu melalui amandemen undang-undang (UU) aborsi.

Di negara itu aborsi adalah ilegal, kecuali menyelamatkan nyawa ibu. Konferensi Waligereja Sri Lanka mengatakan mereka khawatir terkait laporan media bahwa pemerintah berencana memperbaiki undang-undang mengenai aborsi.

Sebuah laporan di portal berita Sri Lanka, Hiru News, pada 1 Februari menyatakan bahwa Kementerian Kehakiman negara itu berusaha melegalkan aborsi saat kehamilan akibat perkosaan, inses, atau perempuan berada di bawah usia 16 tahun, atau ketika ada gangguan janin serius.

Konferensi Waligereja Sri Lanka mengatakan umat Katolik harus menentang upaya tersebut dan politisi Katolik menghalangi langkah tersebut.

Mgr Uskup Valence Mendis, Uskup Chilaw, sekjen Konferensi Waligereja Sri Lanka, mengatakan dia pertama mengetahui langkah mengubah UU tersebut pada pertengahan tahun lalu.

“Konferensi Waligereja Sri lanka menandatangani surat bahwa kami menentang langkah tersebut,” kata Uskup Mendis dalam sebuah pernyataan resmi.

“Kami mengharapkan doa-doa dari umat agar tidak melegalkan (aborsi), termasuk kasus perkosaan dan inses,” kata uskup.

Pastor Ashok Priyantha Perera, ketua Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Chilaw, menegaskan Gereja Katolik menolak dan mendesak umat Katolik juga menentang langkah tersebut.

“Tidak ada yang memiliki hak moral mengambil nyawa orang lain, itu adalah dosa,” kata Pastor Perera.

“Kami mengadakan berbagai program peningkatan kesadaran di tingkat paroki, kursus persiapan perkawinan, konseling dan khotbah,” kata imam itu.

Ikatan Dokter Katolik menulis surat kepada Asosiasi Medis Sri Lanka pada 19 Februari tentang amandemen UU aborsi yang diusulkan.

“Ini adalah landasan dasar dari setiap agama yang tidak dapat diganggu gugat dan melindungi kehidupan adalah penting,” kata mereka dalam surat itu.

“Kami menyerukan kepada para pejabat untuk menyampaikan kepada pihak berwenang bahwa aborsi adalah membunuh dan hal itu melanggar prinsip dasar kesucian hidup,” lanjut surat itu.

Diperkirakan 600 aborsi ilegal terjadi di Sri Lanka setiap hari, kata K.K. Karunathilake dari Unit Ilmu Sosial Universitas Kelaniya, dalam konferensi yang diselenggarakan di kantor Biro Pendidikan Kesehatan pada Mei.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa “kehidupan manusia harus dihormati dan dilindungi benar-benar dari saat pembuahan” dan “saat pertama keberadaannya, manusia harus mengakui sebagai memiliki hak-hak seseorang – di antaranya adalah hak yang tak diganggu gugat.”

Sumber: ucanews.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi