UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Gereja bantu warga menghadapi kekurangan air

Maret 17, 2017

Gereja bantu warga menghadapi kekurangan air

Dua pekerja sedang berjalan melintasi danau yang kering di pinggiran Yangon. Suhu selama musim kemarau kali ini bisa mencapai lebih dari 40 derajat selsius. (Foto: Stephen Shaver/AFP)

Tahun lalu El Nino memperburuk musim kemarau tapi kali ini pemerintah dan LSM sedang bersiap menghadapi kelangkaan air di setidaknya 500 desa yang terkena dampak musim kemarau dan berencana untuk mendistribusikan 14 juta galon air untuk daerah yang terkena dampak.

Departemen Pembangunan Pedesaan yang berada di bawah Departemen Pertanian juga berencana untuk menggali sumur dan memperbaiki lebih dari 1.000 sumur dengan bekerja sama organisasi-organisasi non-pemerintah.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan LSM dengan berbagi informasi tentang bagaimana menanggapi kekurangan air,” Kata direktur jendral, Khant Zaw, kepada ucanews.com pada tanggal 15 Maret.

“Kami telah mempersiapkan diri dengan mengambil pelajaran dari pengalaman 2016 dan kami punya cukup uang dari anggaran untuk meghadapi hal itu,” kata Khant Zaw.

Lebih dari 2.000 desa menghadapi kekurangan air di seluruh negeri pada tahun 2016 karena El Nino melanda Myanmar mulai  akhir 2015 hingga Juni 2016.

Fenomena El Nino menimbulkan malapetaka dengan cuaca dan kondisi ekstrim seperti banjir atau kekeringan yang pada gilirannya dapat menyebabkan masalah lain seperti gagal panen, kebakaran hutan, penyakit, serta kekurangan makanan dan  air.

Pada bulan April 2016, suhu di wilayah Magwe  mencapai 46 derajat Celcius, tertinggi dalam dua dekade.

Khin Moe War, anggota parlemen dari kota Tharbaung, menurutnya beberapa desa di Delta Irrawaddy telah menghadapi kekurangan air minum sejak Februari.

Dia mengatakan bahwa pihak berwenang setempat telah menggali sumur dan siap untuk mendistribusikan air melalui tangki air ke desa-desa yang terkena dampak sebagai rencana jangka pendek.

Tapi di beberapa desa tidak dtemukan sumber air bawah tanah untuk dijadikan sumur “jadi kita perlu mempertimbangkan rencana jangka panjang,” kata Khin Moe War kepada ucanews.com.

Penduduk desa di Delta Irrawaddy secara tradisional mendapatkan  sumber air minum dari air hujan, yang berasal dari kolam bersamadan sumur karena kebanyakan desa tidak memiliki akses ke pipa air.

Pastor Henry Eikhlein, direktur Karuna (Caritas) Myanmar, mengatakan mereka sedang  memantau situasi. Proyek gereja yang sedang berjalan, penggalian 30 sumur dan menyediakan sistem pemurnian air di kota Tharbaung  di Delta Irrawaddy baru-baru ini.

“Tujuan utama kami adalah untuk mendapatkan air minum dan menggali sumur untuk digunakan pada kedua musim kering dan hujan,” kata Pastor Eikhlein kepada ucanews.com.

Meteorolog terkemuka Myanmar, Tun Lwin  memperingatkan bahwa negara perlu mempersiapkan diri menghadapi kekurangan air dan kekeringan dimusim kemarau ini karena suhu cenderung meningkat ke lebih dari 40 derajat Celsius di Magwe, Mandalay, Rakhine, Delta Irrawaddy, Bago dan wilayah Yangon.

Myanmar tidak asing dengan kekeringan dan kekurangan air sepanjang tahun bisa terjadi di Delta Irrawaddy, dan di daerah zona kering yang terdiri dari 58 kota-kota di Mandalay, Magwe dan Sagaing selama Maret-Mei musim kemarau.

Myanmar adalah negara yang paling rentan kedua di dunia untuk perubahan iklim menurut Indeks Risiko Iklim global.

Link: Myanmar prepares for water shortage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi