Program kesehatan memberi kehidupan bagi bayi di Papua

20/03/2017

Program kesehatan memberi kehidupan bagi bayi di Papua thumbnail

Salah satu keluarga sedang memasak di dalam rumah tradisional Papua di desa Kimbim, Jayawijaya. Rumah yang kekurangan ventilasi di wilayah Pegunungan Tengah Papua menyebabkan infeksi paru-paru bahkan meninggal bagi banyak balita. (Foto: Alex Japalatu)

Bagaimana bayi laki-lakinya meninggal pada Oktober 2006 masih segar dalam ingatan Nelce Wandikbo.

Dia baru saja melahirkan anak kedua di Tumun, sebuah desa kecil di Kabupaten Jayawijaya Papua, dengan bantuan bidan tradisional, yang digunakan hanya batu yang dipanaskan untuk memotong tali pusar bayi.

Tapi tiga hari kemudian pusar bayi membengkak, dan mulai kejang-kejang.

“Aku bergegas membawanya ke klinik, tetapi mereka tidak bisa menyelamatkan bayi laki-laki saya,” kata Wandikbo.

“Dokter mengatakan ia meninggal disebabkan infeksi karena batu yang digunakan untuk memotong tali pusar tidak steril, dan juga karena kekurangan gizi,” katanya.

tingkat kemiskinan yang tinggi dan kebersihan yang buruk di Tumun telah membuat tingkat kematian lebih tinggi daripada tingkat kelahiran.

Kurangnya pengetahuan dasar tentang kesehatan juga telah memberikan kontribusi terhadap penyebaran penyakit menular dan pernapasan di dataran tinggi tengah Papua.

Memasak di rumah tidak berventilasi adalah salah satu contohnya praktek yang tidak sehat yang mengancam kesehatan anak-anak, demikian dikatakan para ahli kesehatan.

Pada bulan Desember 2015, 35 bayi dan tiga orang dewasa meninggal di Kabupaten Nduga akibat komplikasi yang ditimbulkan oleh pneumonia.

Filandy Pai, seorang dokter di Wollo Clinic di Wamena, kota terbesar di dataran tinggi, katanya diare dan pneumonia merupakan penyakit utama yang paling banyak menyebabkan kematian bayi di wilayah tersebut.

“Sanitasi di sini sangat minim, dan puskesmas, rumah sakit yang jauh dari desa,” katanya. Ia menambahkan bahkan dalam keadaan darurat, pasien harus dibawa dengan berjalan kaki selama berjam-jam.

Menurut UNICEF, 147.000 anak meninggal di Indonesia pada tahun 2015 sebelum mereka mencapai usia lima tahun. Tingkat kematian  tertinggi terjadi di Papua, dimana mereka mengalami kekurangan akses terhadap air bersih dan buang air besar di tempat terbuka.

Angka ini turun lebih dari setengah dari yang tercatat pada tahun 1990, di mana diperkirakan 395.000 bayi meninggal, tapi UNICEF mengatakan ini masih tinggi.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Dokter Aloysius Giyai, mengatakan cakupan pelayanan kesehatan di Papua adalah yang terburuk di Indonesia.

“Hal ini membuat angka kematian anak dan ibu sangat tinggi dihampir semua kabupaten di Papua,” katanya.

Hati untuk sesama

Dalam upaya untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak, Wahana Visi Indonesia (WVI), sebuah organisasi non-profit yang berfokus pada pendidikan dan kesehatan anak-anak, bekerja sama dengan UNICEF dan pemerintah daerah telah menjalankan program berbasis masyarakat untuk mengatasi penyakit yang menimpah anak-anak.

Targetnya desa-desa terpencil di mana akses ke fasilitas kesehatan minim.

“Kami mempekerjakan dan melatih kader di desa-desa,” kata Sonya Tadoe, koordinator kesehatan WVI untuk kabupaten Jayawijaya, Tolikara dan Lanny Jaya Papua.

Program ini memiliki sedikitnya 35 relawan terlatih di kabupaten Jayawijaya, yang kebanyakan adalah anggota Gereja lokal yang direkomendasikan oleh pendeta atau imam.

Yusup Yalella Hisage, seorang relawan dari desa Waima mengatakan ia telah belajar untuk mengobati bayi yang sakit.

“Ketika bayi menderita diare mereka harus mengambil solusi rehidrasi oral,” katanya.

“Ketika bayi tidak mau menyusui atau menunjukkan tanda-tanda infeksi, saya langsung merujuk mereka ke klinik terdekat,” katanya.

Para relawan tidak hanya mengidentifikasi gejala awal dari penyakit, tetapi juga mendidik masyarakat tentang makanan bergizi dan hidup sehat.

“Saya menanam buncis, wortel, ubi jalar, labu, sebagai taman gizi percontohan, untuk memberi makan anak balita,” kata Andina Lengka, kader kesehatan, yang juga seorang katekis lokal.

Karyanya meliputi beberapa desa di Kabupaten Jayawijaya, yang harus ia capai dengan berjalan kaki.

Andri Lumi, Area Manager Wahana Visi Indonesia, mengatakan para relawan hanya warga biasa dan beberapa dari mereka belum menyeselesaikan pendidikan tingkat dasar.

“Mereka adalah orang-orang sederhana yang sangat peduli dengan orang lain. Mereka tulus dan bersemangat untuk membantu, meskipun mereka tidak dibayar,” katanya.

Ia mengatakan para relawan mendapatkan pelatihan rutin dari bidan dan dokter dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya.

Program WVI telah membantu mengurangi angka kematian anak di Jayawijaya menurut Tinggal Wibisono, Kepala Dinas Kesehatan Jayawijaya.

Melkias Himan, salah satu relawan, mengatakan bahwa di satu desa, hanya satu bayi meninggal pada tahun 2016, turun dari rata-rata enam bayi dalam beberapa tahun terakhir. Angka kematian juga turun tajam di desa-desa di daerah lain, tambahnya.

Link: Health program gives Papuan children the gift of life




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Sri Lanka batal mengikuti Asian Youth Day di Indonesia
  2. Uskup Pakistan menuntut tindakan tegas pada teroris
  3. Ratusan katekis belajar cara berbicara tentang seks kepada remaja
  4. Perempuan Katolik Bangladesh akhirnya mendapat jabatan tinggi
  5. Delegasi India ingin berbagi pengalaman iman di AYD Yogyakarta
  6. Surat Dari Roma: Pemecatan prefek Kongregasi Ajaran Iman
  7. Aktivis kecam Jokowi terkait perintah menembak penyelundup norkoba
  8. PM Singapura ingatkan ancaman kelompok ekstrimis
  9. Warga Timor-Leste inginkan koalisi pemerintahan yang pro-rakyat
  10. Kardinal Zen kritik pengadilan yang mendiskualifikasi anggota parlemen
  1. Semoga masalah ini cepat selesai....
    Said meldy on 2017-07-27 08:51:19
  2. Setuju Aurel....Gereja semestinya menjadi teladan dalam transparansi dan akuntab...
    Said puji astuti on 2017-07-26 15:28:50
  3. Biarin aja dah bapak pastor terhormat. Gk usa ikut campur. Langakh yang bagus ka...
    Said Narfin on 2017-07-26 15:12:19
  4. Sebagai awam Katolik saya sangat prihati dengan kemelut yang tengah terjadi di ...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-07-26 07:00:27
  5. Syalom, semua saudara. Tolong baca baik-baik, Pal Alex Marwata tidak mengatakan ...
    Said Aurel on 2017-07-24 16:04:09
  6. KPK ingin audit Gereja ? Gak salah, ada udang dibalik batu, ada unsur politik bs...
    Said Bonbon on 2017-07-23 21:19:37
  7. KPK tentunya tak berwenang mengaudit keuangan lembaga agama seperti gereja karen...
    Said Willy Nggadas on 2017-07-23 16:22:59
  8. Apapun undang-undangnya, soal perbuatan baik dalam hal ini gereja bebas korupsi...
    Said Alexander on 2017-07-23 07:02:14
  9. Good morning...
    Said Bienvenhu on 2017-07-23 05:19:23
  10. Pandangan yg rasional bila keterbukaan itu di mulai dari Gereja Katolik seperti ...
    Said Matias on 2017-07-22 21:51:12
UCAN India Books Online