Kekhawatiran atas kemenangan Anies Baswedan

20/04/2017

Kekhawatiran atas kemenangan Anies Baswedan thumbnail

Gubernur terpilih Jakarta Anis Baswedan dan wakil Sandiaga Una berpegangan tangan selama konferensi pers di Jakarta 19 April. (Adek Berry/AFP)

Agama telah berhasil menjadi pusat politik Indonesia dengan kemenangan Anies Baswedan yang mendapat dukungan dari Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan kelompok radikal, mengalahkan Gubernur Basuki Tjahaja Purnama.

Pemilih dari kelompok minoritas -termasuk Kristen- mengungkapkan kekhawatiran bahwa kemenangan tersebut bisa menciptakan ketidakpastian bagi kelompok minoritas.

Retno Setyawati, seorang Katolik berusia 53 tahun, yang memilih Ahok mengatakan bahwa ia kecewa karena Ahok telah menjadikan Jakarta lebih baik selama kepemimpinannya.

“Apa yang bisa saya lakukan? Saya harus menerima hasil pemilihan,” kata Retno. Ia juga masih ragu apakah Anies bisa mewujudkan janjinya untuk Jakarta yang lebih baik.

“Saya khawatir dia akan lebih memperhatikan pendukungnya dan radikalisme akan tumbuh di Jakarta,” katanya.

Berdasarkan hitungan cepat (quick count) dari berbagai lembaga survei Anies memimpin sekitar 57 persen suara di atas Ahok 43 persen. Perhitungan resmi komisi pemilihan Jakarta akan diumumkan pada 1 Mei.

Para pendukung Anies di posko pemenangan di Menteng, Jakarta Pusat, kemarin dengan bersemangat berbicara tentang tentang hal-hal yang berkaitan dengan agama dan jati diri Ahok sebagai keturunan Tionghoa.

“Sekarang kita memenangkan pemilihan dan kita telah mengalahkan gubernur China yang sudah lama berkuasa dan tidak memperlakukan kita sebagai Muslim, sekarang kita memiliki lebih banyak kesempatan untuk menerapkan apa yang kita inginkan,” kata mantan perwira militer Mohammad Saleh kepada pendukungnya.

“Ini termasuk bagaimana memprioritaskan orang Indonesia atas orang asing termasuk orang Tionghoa. Sudah lama mereka mendominasi kita, kita coba juga untuk menang dalam pemilihan presiden tahun 2019,” katanya.

Mesin politik Anies dan jaringan masjid

Pengamat mengatakan kemenangan Anies Baswedan disebabkan karena kemamampuan mesin politik Anies dan kemampuannya untuk menengelola sentimen agama dan anti-Cina ke pusat kampanye.

Kelompok radikal seperti Front Pembela Islam (FPI) menggelar serangkaian demonstrasi sektarian di bulan menjelang pemilihan, yang menarik ratusan ribu orang ke jalan-jalan.

Yohanes Handoyo Budhisedjati, pendiri Vox Point Indonesia, mengakui bahwa partai politik dan kelompok agama di belakang Anies sangat hebat dan telah berhasil memaksimalkan jaringan masjid sebagai basis untuk mendapatkan dukungan Muslim.

“Kekuatan mereka terletak pada kemampuan mereka untuk memobilisasi orang-orang di masjid-masjid di sekitar Jakarta,” kata Handoyo.

Dia mengatakan bahwa kemenangan tersebut juga mengkhawatirkan kelompok minoritas agama karena hubungan dekat Anies dengan kelompok radikal, seperti FPI, yang sering melakukan kekerasan dan tindakan intoleransi.

“Saya bisa mengerti jika minoritas agama khawatir dan takut setelah kemenangannya,” kata Handoyo.

“Tapi kita berharap dia akan menyingkirkan semua masalah agama selama masa kampanye dan merangkul semua elemen masyarakat,” katanya.

Meydie Early, seorang Protestan berusia 27 tahun, juga kecewa setelah Ahok dikalahkan namun menyambut kemenangan Anies.

“Pak Anies juga bagus, jadi biarkan dia bekerja,” katanya.

Kevin R. Hidayat, seorang umat di salah satu paroki di Jakarta Pusat mengatakan bahwa dia memilih Ahok karena dia khawatir jika kelompok ekstremis akan mendapatkan kekuasaan.

Dia mengatakan bahwa sebagai warga keturunan Tionghoa, dia sekarang khawatir dengan kemenangan Anies bisa menjadi momentum bagi kaum radikal untuk tumbuh.

“Kita tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi, karena kelompok radikal yang mendukungnya juga membuat pernyataan anti-Cina,” kata Kevin.

Di sisi lain, Eko Suwarno, seorang pengusaha Katolik, yang memilih Ahok mengatakan bahwa tidak masalah Anies menang.

“Kami akan mendukungnya dan kami berharap dia melanjutkan apa yang telah Ahok lakukan,” katanya.

Sementara itu Sofie Kartini mengatakan dia memilih Anies karena dia seorang Muslim.

“Al Quran mengajarkan bahwa kami harus memilih pemimpin Muslim,” kata Sofie dan menambahkan bahwa Ahok telah melukai Quran dan para ulama.

Pada 20 April, Ahok akan kembali menjalani sidang kasus penistaan untuk mendengarkan tuntutan hukuman dari jaksa penuntut.

Ahok akan tetap menjadi gubernur sampai Oktober ketika Anies akan dilantik.

Sementara itu, Anies, mantan menteri pendidikan, mengatakan dalam sebuah konferensi pers yang mengumumkan kemenangannya bahwa dia berkomitmen untuk menyatukan kembali Jakarta.

“Mari lupakan ketegangan selama kampanye dan bersama-sama membangun persatuan dan perdamaian di Jakarta,” kata Anies.

Dalam pidato kekalahan Ahok meminta kepada para pendukungnya agar menerima hasil pilkada dengan lapang dada.

“Mari lupakan semua masalah yang kita hadapi selama kampanye karena Jakarta adalah rumah bagi kita,” kata Ahok.

 

Baca juga: Sectarianism looms as Anies wins Jakarta polls

One Comment on "Kekhawatiran atas kemenangan Anies Baswedan"

  1. Aan Monterado on Fri, 21st Apr 2017 12:14 pm 

    Wajar saja kalau timbul kekhawatiran di kalangan minoritas karena kelompok radikal telah berhasil menyusup, memanfaatkan, dan mengelola momentum pilkada DKI untuk merebut kekuasaan di provinsi yg sekaligus pusat ibukota negara.
    Apa pun akan mereka lakukan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
    Harapan kita, semoga Gerindra sebagai partai nasionalis yg menjadi pengusung utama Anies-Sandi bisa benar2 menunjukkan jiwa nasionalismenya dalam membendung usaha kelompok radikal menguasai sendi2 kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di DKI yg plural.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  2. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  3. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  4. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  5. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  6. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  7. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  8. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  9. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  10. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
UCAN India Books Online