UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Orang tak dikenal mencoba membakar Gereja Katedral di Nepal

April 20, 2017

Orang tak dikenal mencoba membakar Gereja Katedral di Nepal

Bagian dari gedunga Gereja Katedral Assumpta di Kathmandu dibakar pada 18 April. (ucanews.com)

Sekelompok orang tak dikenal mencoba untuk membakar Katedral Asumapta di Kathmandu, tempat ibadah Katolik pertama di Nepal yang berpenduduk mayoritas Hindu.

Pastor Ignatius Rai, pastor paroki katedral mengatakan bahwa kejadian tersebut terjadi sekitar pukul 3 pagi pada tanggal 18 April ketika orang tak dikenal masuk ke kompleks gereja.

Mereka menyalakan api yang lain merusak kediaman pastor dan bagian barat gereja. Sebuah mobil dan dua sepeda motor juga terbakar seluruhnya. Dilaporkan tidak ada korban.

“Ini mengejutkan. Komunitas Kristen setempat sekarang hidup dalam ancaman,” kata Pastor Rai kepada ucanews.com.

Insiden tersebut terjadi dua hari setelah komunitas Kristen di Nepal dan bagian lain negeri itu merayakan Paskah pada tanggal 16 April. Polisi saat ini sedang menyelidiki kasus tersebut.

Ini adalah kali kedua gereja menjadi sasaran. Sebuah bom meledak di sana pada tahun 2009, yang menewaskan tiga orang termasuk seorang siswi dan melukai 15 lainnya.

Pada tahun 2010, Ram Prasad Mainali, komandan Tentara Pertahanan Nepal, yang sedikit diketahui sebagai ekstremis Hindu, ditangkap sehubungan insiden tersebut.

“Kami panik. Tidak ada yang meninggalkan apapun di dalam gereja. Jadi kami tidak tahu apakah itu serangan pribadi atau oleh beberapa organisasi yang tidak puas,” kata Pastor Silas Bogati, mantan pastor paroki Katedral Asumpta.

Paroki tersebut mengutuk serangan tersebut dan mengeluarkan sebuah pernyataan yang meminta penyelidikan yang adil terhadap serangan tersebut.

“Gereja Katolik telah terlibat dalam pekerjaan sosial selama setengah dekade dan akan terus berlanjut meskipun sering terjadi serangan,” demikian pernyataan yang ditulis dalam bahasa Nepal, dan ditambahkan bahwa tidak boleh seorangpun membiarkan serangan tersebut untuk mengganggu keharmonisan umat beragama di negara tersebut. .

Nepal akan mengadakan pemilihan lokal pertama dalam dua dekade pada 14 Mei. Pemilu mendatang telah dilihat sebagai langkah signifikan menuju pelaksanaan sebuah konstitusi baru yang disahkan oleh pemerintah Nepal pada tahun 2015.

Konstitusi untuk pertama kalinya mengamanatkan sebuah republik yang direstrukturisasi, federal dan sekuler.

Namun, Partai Praseantra Rastriya, partai terbesar keempat di parlemen telah memutuskan untuk mengkampanyekan pemulihan kembali sebuah negara Hindu dalam pemilihan yang akan datang.

“Kami sangat menantikan pemilihan lokal yang akan datang di negara ini dan kami sedang dalam proses dengan pemerintah. Insiden ini, jika bermotif politik tidak akan membahayakan situasi damai di negara ini,” kata Pastor Bogati.

Katedral Assumpta, yang dapat menampung 1.000 orang, menggabungkan unsur-unsur Buddha dan Hindu dalam gaya pagoda-gotik. Gereja Katolik Nepal pertama yang dibangun setelah sebuah konstitusi baru yang diumumkan pada tahun 1991 memberi kebebasan kepada Nepal untuk mempraktikkan agama apapun di depan umum asalkan tidak ada upaya untuk mengkristenkan orang lain.

Sebelum itu, pelayanan Katolik di kerajaan Hindu itu hanya diadakan di kapel sekolah Katolik, biara dan pusat-pusat sosial.

Umat Katolik merupakan bagian kecil populasi Kristen di Nepal, dengan mayoritas Protestan. Umat Katolik Nepal berjumlah sekitar 8.000. Umat Katolik di Nepal, kebanyakan di wilayah timur di mana parokinya didirikan pada tahun 1999. Nepal memiliki populasi sekitar 28 juta orang, 80 persen di antaranya adalah orang-orang Hindu.

 

Baca juga: Arson attack on church in Nepal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi