Pemerkosa biarawati 11 tahun lalu akhirnya ditangkap

20/04/2017

Pemerkosa biarawati 11 tahun lalu akhirnya ditangkap thumbnail

Polisi India menangkap aktivis saat memblokade jalan tempat protes melawan pemerkosaan masal di Kolkata, 31 Mei 2016. (Dibyangshu Sarkar/AFP)

Polisi di negara bagian Madhya Pradesh, India, menangkap seorang pria yang menjadi tersangka dalam kasus pemerkosaan kelompok terhadap empat biarawati Katolik 11 tahun silam yang melarikan diri setelah diberikan kebebasan sementara.

Mahesh Chandra Jain, seorang petinggi kepolisian distrik Jhabua menyampaikan kepada media bahwa polisi menangkap Pidiya Singadia pada 18 April.

Singadia merupakan satu dari 18 orang yang menjadi tersangka dalam pemerkosaan secara berkelompok terhadap keempat biarawati Katolik di distrik Jhabua tahun 1998.

Pengadilan distrik  Jhabua pada bulan April 2001 mengganjar hukuman seumur hidup terhadap beberapa orang, termasuk Singadia, dan delapan lainnya mendapat hukuman 2-3 tahun.

Singadia, dipenjara di Rutan Pusat Indore, mendapat pembebasan sementara selama 10 hari tapi dia tidak kembali. Polisi kemudian memburunya dan menawarkan imbalan 10.000 rupees (US$200) bagi siapa saja yang bisa membantu menangkapnya.

Menurut Jain, Singadia hidup sebagai tenaga harian dan berpindah-pindah di Madhya Pradesh, Gujarat dan Rajasthan, dan sesekali mengunjungi desa asalnya. Seseorang kemudian memberitahu polisi tentang keberadaan Singadia di desanya, sehingga akhirnya ditangkap.

“Kami mendukung upaya kepolisian, meskipun itu sampai bertahun-tahun,” kata Uskup Jhabua Mgr Bishop Basil Bhuria kepada ucanews.com.

Uskup Bhuria mengatakan bahwa penangkapan itu menguatkan keyakinan kita pada kepolisian. Ia juga mengatakan bahwa umat Kristiani, yang menjadi minoritas di negara bagian itu, sudah banyak kali mengalami serangan dari kelompok Hindu sayap kanan.

“Penangkapan tersebut yang jelas membuat kita semakin percaya pada aparat kepolisian,” kata prelatus itu.

 

Baca juga: Man who raped Indian nun 11 years ago arrested

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  2. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  3. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  4. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  5. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  6. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  7. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  8. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  9. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  10. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
UCAN India Books Online