In memoriam Romo Paul Henricus Janssen, CM

26/04/2017

In memoriam Romo Paul Henricus Janssen, CM thumbnail

Upacara pemakaman Romo Paul Henricus Janssen, CM di komplek Bhakti Luhur Malang, Jawa Timur pada 24 April 2017 (Foto Yayasan Bhakti Luhur)

Pengantar dari Redaksi: Romo Paul Hendricus Janssen, CM meninggal pada 20 April pada usia 95 tahun dan dikebumikan pada Senin 24 April di Malang, Jawa Timur. Artikel berikut ini menggambarkan tentang siapa Romo Janssen dan mahakarya misi yang dilakukannya di Indonesia, terutama di Jawa Timur.

**

Romo Prof Dr Paul Henricus Janssen CM yang lebih dikenal dengan panggilan Romo Janssen lahir di sebuah kota kecil di Belanda, Venlo, pada 29 Januari 1922. Beliau adalah putra dari pasangan Hubertus Janssen dan Maria Helena Fillot. Sejak awal tak ada cita-cita lain kecuali menjadi misionaris. Tahun 1940 masuk biara CM (Kongregasi Misi) dan ditahbiskan menjadi imam pada 13 Juli 1947.

Moto imamatnya adalah “Kamu adalah alat pilihan untukKu, untuk membawa namaKu ke bangsa-bangsa. Dan Aku akan menunjukkan kepadamu betapa banyak engkau akan bersusah-payah demi namaKu”. Romo Paulus Henricus Janssen CM adalah adik dari Romo Willem Paul Janssen yang telah dipanggil Tuhan.

Tepat satu bulan ditahbiskan, cita-citanya terpenuhi. Berlayar menuju Cina. Dua bulan ada di kapal dagang sampai akhirnya tiba di Shanghai. Tugas pertamanya bukan di Shanghai tapi di Nan Chang yang terletak di tengah-tengah Cina. Baru setengah tahun di Nan Chang beliau ditarik ke Kasim, kota di sebelah selatan Shanghai, untuk mengajar di Seminari. Kesan romo selama tugas di Cina adalah tersentuh oleh penderitaan dan kemelaratan manusia akibat perang, lebih-lebih selama musim dingin. Saat itulah romo melihat dari dekat, penderitaan yang dialami oleh anak-anak yang sakit, cacat, terlantar di jalan, dibuang oleh keluarganya sendiri karena kesulitan ekonomi, dan tidak sedikit yang yatim piatu, karena perang.

Hal yang paling berat dialami romo dalam tugasnya di lain benua namun dijalankan dengan tabah dan setia sebagai misionaris, adalah saat mendapat kabar ibunya wafat. Kesetiaan atas panggilan misinya, ditunjukkan dengan tidak sering pulang ke negara asal kelahirannya. Baru setelah 17 tahun di luar negeri, romo mengambil cuti dan melihat tanah air yang telah lama ditinggalkan.

Malapetaka karena perang belum berakhir, muncul prahara baru, serbuan komunis dari Utara. Kota Nan Changpun mereka rebut. Terjadilah pertempuran antara pengikut Mao Zhedong dan Chiang Khai Sek. Keadaan hidup serba tidak menentu. Dan yang paling tragis adalah serbuan komunis membuat misionaris terjepit.

Tak ada pilihan lain, Internuntius memutuskan agar semua frater dan profesor (sebutan untuk para dosen) dipidahkan ke luar negeri. Maka seminari dipecah menjadi dua bagian, yang CM pindah ke Manila dan yang Praja pindah ke Italia.

Akhir 1948, Romo Janssen bersama kira-kira 20 frater menuju ke Manila, Filipina. Di Manila kongregasi CM memiliki 5 seminari, salah satunya adalah seminari Projo yang dipercayakan ke CM. Kesibukannya membina calon imam projo, tidak menyurutkan romo untuk melanjutkan studi.

Romo Janssen melanjutkan studinya di Universitas Santo Thomas dan memperoleh gelar Doktor dalam bidang Theologi dengan disertasinya berjudul: “Katolisitas Gereja dalam Karya Santo Agustinus”. Di Universitas yang sama romo memperdalam bidang pendidikan, khususnya guidance, counseling dan psikologi.

Tahun 1950 Romo meninggalkan Filipina. Mau ke China tak mungkin karena dominasi politik komunis yang merajalela. Pilihannya untuk melanjutkan karya misinya di Chili, Amerika Latin ditolak oleh Provinsial. Tempat baru Romo adalah Indonesia.

1 Mei 1950 Romo Janssen tiba di Surabaya dan bertemu dengan Uskup. Terus terang kedatangannya ke Indonesia tak terlalu membuatnya gembira. Mengapa? Karena amat kuatir akan ditempatkan dibagian pendidikan, padahal kerinduannya adalah untuk menjadi misionaris. Uskup sempat bertanya: “Mau menjadi misionaris? Kalau begitu silahkan ke Kediri.”

5 Mei 1951 Romo sudah berada di Kediri. Ketika bertugas di Pohsarang, Romo sangat senang. Inilah tempat yang selama ini dicari. Stasi-stasi kecil dikunjunginya dengan naik sepeda. Pastor Kepala waktu itu, Pastor E Mensvoort yang amat fasih berbahasa Jawa, menawarkan nasehat kepada Romo Jannsen, bagaimana mulai mengenal budaya Jawa. “Jangan mulai belajar bahasa Indonesia, mulailah belajar bahasa Jawa,” demikian tawaran Romo E Mensvoort CM.

Kebahagiaan Romo dalam tugas semakin bertambah ketika menemukan suasana yang penuh dengan kelembutan, keramahan, keterbukaan, yang konon menjadi ciri khas orang Jawa. Tugas utama Romo Janssen adalah mencari orang-orang yang dulu sudah menjadi Katolik namun kemudian kurang mendapat perhatian.

Bersama dengan Romo Wolters CM, Romo Janssen membangun daerah Pohsarang dan Gereja Pohsarang. Salah satu kegiatan rohani yang patut dicatat di Kediri ialah berdirinya Legio Maria pertama di Indonesia. Pendirinya tak lain adalah Romo Janssen.

Dalam melakukan pelayanan pastoralnya berkeliling ke daerah Gringging, Kalinanas dan Kalibago, Romo Janssen menemui banyak sekali orang yang sakit TBC dan frambosia. Beliau juga banyak berjumpa dengan anak-anak cacat, miskin dan terlantar. Hati Romo Janssen mulai tersentuh untuk menangani anak-anak cacat dan miskin itu.

Menghadapi umatnya yang banyak mengidap penyakit TBC, Romo kadang juga harus bertindak sebagai “dokter”. Obat-obatan beliau usahakan dengan mencari bantuan ke Surabaya.

Selain menjalankan tugas pastoralnya, Romo Janssen mulai giat mendirikan sekolah baik Taman Kanak Kanak “Montesori”, SD maupun SMP Don Bosco. Dasar pemikirannya adalah orang dapat terbantu melalui pendidikan yang diperolehnya. Untuk merekrut tenaga guru, beliau datang ke Jogjakarta.

Selain itu beliau juga mendirikan kursus B1 Pendidikan (sebagai cikal bakal Perguruan Tinggi Pendidikan Guru, yang kemudian menjadi FKIP). Aktivitasnya mendirikan dan mengelola/menyelenggarakan lembaga pendidikan, tidak mengurangi perhatiannya pada anak-anak cacat, terlantar dan miskin.

Juli 1959, Romo Janssen hijrah ke Madiun. Di kota inilah Romo Janssen mendirikan ALMA (Akademi Lembaga Misionaris Awam), tepat pada peringatan 300 tahun wafatnya Vincensius A Paulo, yang jatuh pada 27 September 1960.

Pada 8 September 1963, di Jalan Wilis No 21 Madiun, 7 orang secara resmi mengikat diri seumur hidup untuk menjalankan karya dan pelayanan yang sesuai dengan nasehat Injil. Mereka adalah Ibu C Pariys D, Ismilah, Yustine Sumringah, Cecilia Suliyah, Modesta, Robutine dan Maria. Lembaga ini terus berkembang, sampai tahun 1997 tercatat 200 orang tergabung di komunitas ini.

Namun dalam perkembangannya, berdasarkan renungan pendiri ALMA, Romo Janssen, yang dijiwai oleh pandangan dasar Konsili Vatikan II (Romo Janssen sendiri hadir dan mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II di Roma), bahwa tugas Gereja dalam dunia adalah tugas seluruh umat. Timbul gagasan pendiri untuk menjalankan tugas Kristiani dari dan dalam situasi yang kongkrit dunia.

Kader awam yang dimaksud adalah awam yang menyerahkan hidupnya untuk membawa umat kepada Kristus dalam situasi awam melalui karisma yang diberikan dan dikembangkan oleh mereka menurut panggilan masing-masing. Maka ALMA yang kita kenal sekarang adalah Asosiasi Lembaga Misionaris Awam yang tanggal lahirnya 8 September 1968.

Karya besar romo yang paling tak boleh kita lupakan adalah mendirikan Yayasan Bhakti Luhur di Madiun pada 5 Agustus 1959.
Perjalanan karya Romo Janssen berikutnya, secara singkat dapat dicatat sebagai berikut :

1. Pada 26 Agustus 1967, Mgr AEJ Albert OCarm secara resmi menerima ALMA sebagai Institut Sekulir dibawah yuridiksi Uskup Malang.
2. Perkembangan selanjutnya adalah berdirinya ALMA Putra, yang banyak berkecimpung pada karya evangelisasi, pelayanan anak-anak cacat dan CBR (Community Based Rehabiltion). Romo Janssen tetap hadir sebagai pelindung sekaligus bapak rohani.
3. 1973, Institut Pembangunan Masyarakat didirikan oleh Romo Janssen tahun 1969, menempati gedung di Galunggung, Malang.
4. Menjadi guru besar di IKIP Malang
5. Mendirikan SMPS (Sekolah Menengah Pekerja Sosial) di Malang
6. 29 Juni 1968 mendirikan IPI (Institut Pastoral Indonesia), di Malang
7. Mendirikan Sekolah Evangelisasi Katolik di Malang

(Sumber: Buku Kenangan 50 Tahun Pesta Imamat Romo Paul Janssen)

Artikel ini bisa dibaca juga di blog Yohannes Sugiyono Setiadi

Sumber foto dan video: Bhakti Luhur




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  2. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  3. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  4. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  5. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  6. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  7. Gereja dibakar, darurat militer diumumkan di Mindanao
  8. Calon imam SVD mengajar di Pondok Pesantren
  9. Uskup Filipina menyamar jadi petani untuk melihat kegiatan paroki
  10. Umat Katolik Pakistan marah atas pembatasan media sosial
  1. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  2. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  3. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  4. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  5. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  6. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  7. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
  8. ya itu namanya minoritas.....
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:06:47
  9. Ingat kita di Indonesia. Semua mayoritas dan minoritas. Ketika ada pihak mengkla...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:43:38
  10. Pro Ecclecia et patria! Demi bangsa kita juga harus tegas menghadapi kekuatan ra...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-16 09:35:34
UCAN India Books Online