Jalan panjang hubungan China dan Vatikan

10/05/2017

Jalan panjang hubungan China dan Vatikan thumbnail

Seorang umat Katolik mempersiapkan peralatan Misa Minggu Palma di sebuah gereja 'bahwah tanah' pada 9 April dekat Shijiazhuang, Hebei, China. (Kevin Frayer/AFP)

Beberapa sumber yang berasal dari Gereja Katolik telah mengonfirmasi bahwa Tahta Suci tidak bertujuan membagun hubungan diplomatik dengan Komunis China namun secara khusus berfokus pada penyelesaian masalah penunjukan para uskup.

Namun isu yang tampaknya sederhana ini telah membuat Vatikan selama beberapa dekade merasa jengkel. Tangan-tangan lama di lingkungan gereja China tahu bahwa tujuan ini pun memiliki jalan yang panjang, meski ada negosiasi antara kedua pihak yang berkembang pada 2016 setelah pembentukan sebuah tim kerja pada April lalu.

“Saya sudah seringkali menyampaikan kepada publik secara terbuka bahwa rumor yang beredar di media itu salah yang mengatakan bahwa hubungan diplomatik akan dibentuk,” kata Uskup Stephen Lee dari Macau kepada ucanews.com. Dia mengulangi bahwa negosiasi yang sedang berlangsung berfokus pada kesepakatan tentang pengangkatan para uskup.

“Kardinal Tong mengatakan, yang saya setujui sepenuhnya, [perundingan] adalah langkah pertama dari perjalanan panjang pengembangan diplomatik antara keduanya,” kata Bishop Lee yang tesis doktornya menyangkut hubungan China-Vatikan.

Putaran terakhir perundingan tertutup, yang pertama pada 2017, berlangsung 20-22 Maret di Beijing. Tidak diumumkan jika sebuah kesepakatan awal telah dibuat, memang Vatikan telah memberi isyarat kuat bahwa mungkin tidak akan pernah ada pengumuman resmi tentang sebuah kesepakatan.

Dalam artikel kedua hasil perundingan  hubungan China-Vatikan yang diterbitkan pada 9 Februari, Kardinal Hong Kong, John Tongsaid mengatakan bahwa kesepakatan mengenai penunjukan para uskup akan menjadi “tonggak sejarah” dalam proses normalisasi hubungan China-Vatikan – walaupun  tidak ada kesepakatan tidak  berarti prosesnya berakhir.

Ada banyak masalah yang harus diselesaikan dan beberapa tidak disebutkan dalam dua artikel Kardinal Tong, Uskup Lee mencatat. Secara khusus, uskup tersebut mencatat masalah yang dihadapi Vatikan dengan badan pemerintah China, Kongres Nasional untuk Perwakilan Katolik (NCCR). Terdiri dari uskup, imam, biarawati dan orang awam, kongres tersebut adalah badan tertinggi Gereja Katolik China yang berada di atas Asosiasi Patriotik Katolik China – sebuah organisasi yang mengendalikan gereja untuk Partai Komunis yang berkuasa – dan konferensi para uskup China (CCPA -BCCCC), yang tidak seperti konferensi uskup lain di seluruh dunia  karena dijalankan oleh Partai bukan Vatikan.

Dengan demikian, Vatikan tidak mengakui ketiga badan gereja nasional yang tidak mengakui paus sebagai otoritas tertinggi di gereja. Sistem kongres juga sesuatu yang tidak ditemukan dalam struktur Gereja Katolik.

Pernyataan penutup NCCR yang Kesembilan yang diadakan pada tanggal 27-29 Desember menyatakan bahwa salah satu dari tiga persyaratan utama adalah mempertahankan Kongres Nasional sebagai “fondasi yang tidak dapat diubah” dari Gereja China.

Uskup Lee menjelaskan bahwa satu pengendali adalah uang dan pekerjaan, dengan karyawan di semua struktur yang berasal dari tingkat provinsi, kota dan daerah. “Itulah mengapa mereka semua menentang kesepakatan (antara Beijing dan Roma) atau mereka akan kehilangan pekerjaan,” kata Uskup Lee, mantan uskup auxilier di Hong Kong sebelum ditunjuk ke Makau pada tahun 2016.

Tindakan, bukan kata-kata

Seorang peneliti di Beijing yang meminta tidak disebutkan namanya, tidak mengharapkan adanya terobosan signifikan dalam hubungan China-Vatikan pada 2017. Peneliti tersebut mengatakan bahwa fokus penuh di China adalah pada kongres pleno ke 19 Partai Komunis akhir tahun ini, di mana Pimpinan puncak partai untuk lima tahun mendatang akan ditentukan, termasuk masa priode kedua yang sangat diharapkan untuk  Xi Jinping. Sementara itu, bahkan saat pembicaraan sedang berlangsung, Beijing memperketat cengkeramannya  terhadap gereja.

Seminar yang disebut Sinicization (Cinaisasi), sebuah proses untuk merancang gereja “menjadi lebih cina”, telah diadakan selama dua bulan terakhir di Beijing dan di provinsi lain termasuk Hebei, Hunan dan Jiangsu. Cinaisasi agama, adalah sebuah arahan yang dijabarkan dalam sebuah Konferensi Nasional Beijing tentang Pekerja Keagamaan di bulan April yang lalu.

Tidak seperti masa lalu, ketika seminar diadakan di Beijing untuk para klerus dan pemimpin awam di lembaga gereja provinsi di seluruh China, seminar terbaru ditujukan untuk menjangkau lebih banyak orang Katolik di tingkat akar rumput, dan dengan orang yang berbeda dari tahun sebelumnya, menurut sebuah sumber gereja.

Isi dari seminar baru-baru ini, yang diperoleh ucanews.com, menekankan aspek politik dan masalah keamanan nasional, seperti menolak infiltrasi melalui internet, publikasi agama, Imam yang kembali dari luar negeri dan di sekolah menengah atas.

Pada tanggal 17 April, sebuah seminar diadakan di Beijing untuk memperingati almarhum Uskup Michael Fu Tieshan dari Beijing, yang juga mantan wakil ketua Konferensi Konsultatif Politik Rakyat China, badan penasihat tertinggi pemerintah Beijing. Pada bulan Mei, akan ada dua acara peringatan terpisah untuk peringatan seratus tahun Uskup Zong Huaide dari Zhoucun dan Uskup Dong Guangqing dari Hankou. Mereka semua adalah tokoh simbolis yang tidak diakui Vatikan pada saat mereka ditahbiskan menjadi uskup selama tahun 1950an dan 1970an. Kecuali Uskup Dong, seorang Fransiskan, Vatikan tidak pernah mengakui dua lainnya.

Pengawasan dan penahanan

Tampak jelas bahwa pemerintah China telah menunjukkan sedikit isyarat ramah kepada Vatikan, dengan “menciptakan ketidakpuasan di antara orang-orang di Shanghai, di Mindong dan di China,” kata seorang tokoh gereja senior  kepada ucanews.com.

Dimulai dengan kampanye penyingkiran salib sejak akhir 2013, pihak berwenang di provinsi Zhejiang terus melakukan pendekatan garis keras, menuntut kamera pengintai dipasang di semua Gereja Protestan dan Katolik pada akhir Maret. Zhejiang memiliki populasi Kristen yang cukup besar dengan sekitar 2 juta Protestan dan 210.000 umat Katolik.

Sekitar Pekan Suci, Uskup Vincent Guo Xijin dari Mindong dan Peter Shao Zhumin dari Wenzhou, keduanya uskup bawah tanah yang tidak diakui oleh pemerintah, dibawa dari keuskupan mereka masing-masing pada tanggal 7 dan 12 untuk menghentikan mereka merayakan salah satu pesta gereja yang paling penting.

Sebaliknya, Uskup Thaddeus Ma Daqin dari Shanghai, yang kebebasannya telah dibatasi sejak tahun 2012 setelah penahbisan uskupnya, di mana dia mengumumkan untuk membatalkan Persatuan Patriotik, muncul di Mindong untuk menggabungkan diri merayakan Misa Paskah dengan Uskup Vincent Zhan Silu, seorang uskup yang ditunjuk pemerintah yang tidak diakui Vatikan. Tindakan penghujatan membangkitkan ketidakpuasan di kalangan umat Katolik China.

“Mengingat Uskup Ma masih memiliki status tahanan rumah, konselebrasi lintas batas di provinsi Fujian tentu bukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh pejabat agama di Shanghai. Diperlukan persetujuan dan koordinasi dari tingkat pemerintahan yang tinggi,” kata seorang sumber gereja Shanghai. Yang meminta tidak disebutkan namanya.

Uskup Zhan adalah satu dari tujuh uskup yang didukung pemerintah yang tidak diakui Vatikan. Seperti yang diberitakan Paus Fransiskus dianggap telah mengampuni mereka pada kesempatan Tahun Rahmat tahun 2016 namun hal itu tidak terjadi. Seperti yang dicatat Kardinal Tong, “lebih banyak waktu dan kesabaran akan dibutuhkan” agar masalah ini akhirnya diselesaikan.

ucanews.com




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Surat Dari Roma: Pemecatan prefek Kongregasi Ajaran Iman
  2. Aktivis kecam Jokowi terkait perintah menembak penyelundup norkoba
  3. PM Singapura ingatkan ancaman kelompok ekstrimis
  4. Warga Timor-Leste inginkan koalisi pemerintahan yang pro-rakyat
  5. Kardinal Zen kritik pengadilan yang mendiskualifikasi anggota parlemen
  6. Pendukung Mgr Hubertus Leteng meminta umat membela uskup
  7. Paus sumbang €25.000 untuk membantu warga di Afrika Timur
  8. Setelah kelompok teroris, ini target serangan Duterte berikutnya
  9. India memberikan pelatihan bagi jutaan PRT
  10. Pemimpin lintas agama mendoakan para pahlawan di rumah Aung San Suu Kyi
  1. Sebagai awam Katolik saya sangat prihati dengan kemelut yang tengah terjadi di ...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-07-26 07:00:27
  2. Syalom, semua saudara. Tolong baca baik-baik, Pal Alex Marwata tidak mengatakan ...
    Said Aurel on 2017-07-24 16:04:09
  3. KPK ingin audit Gereja ? Gak salah, ada udang dibalik batu, ada unsur politik bs...
    Said Bonbon on 2017-07-23 21:19:37
  4. KPK tentunya tak berwenang mengaudit keuangan lembaga agama seperti gereja karen...
    Said Willy Nggadas on 2017-07-23 16:22:59
  5. Apapun undang-undangnya, soal perbuatan baik dalam hal ini gereja bebas korupsi...
    Said Alexander on 2017-07-23 07:02:14
  6. Good morning...
    Said Bienvenhu on 2017-07-23 05:19:23
  7. Pandangan yg rasional bila keterbukaan itu di mulai dari Gereja Katolik seperti ...
    Said Matias on 2017-07-22 21:51:12
  8. Sudah saatnya gereja accountable. https://www.naulinovation.com:8443/onebody/...
    Said Leonard on 2017-07-22 17:15:48
  9. Segera laksanakan audit keuangan Gereja dan KUB....
    Said Rey on 2017-07-22 13:47:36
  10. Audit Keuangan Hirarki Gereja Katolik Perlu dan wajib. Syaratnya hanya perlu goo...
    Said AB Raturangga on 2017-07-22 11:07:47
UCAN India Books Online