Aktivis Katolik komitmen menjaga kemajemukan NKRI

15/05/2017

Aktivis Katolik komitmen menjaga kemajemukan NKRI thumbnail

Dari kiri, Romo Raymondus Sugihartanto Pr ketua PK4AS (kiri), Nurfuad aktivis muda NU Semarang, H.Soecipto, SH,MH tokoh NU Jateng dan Romo YR Edi Purwanto saat berfoto usai menyampaikan materi Pancasila dan Kemajemukan Indonesia Harga Mati kepada aktivis ormas katolik DIY Jateng.

Aktivis organisasi masyarakat Katolik wajib memegang teguh nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945 dan mendasari dalam berpikir, berpendapat dan bertindak dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Keuskupan Agung Semarang (PK4AS), Romo Raymondus Sugihartano Pr selaku romo pendamping aktivis sosial politik Katolik di DIY dan Jateng.

Menurut Romo Sugihartanto, kesadaran diri hidup ditengah kemajemukan adat tradisi budaya dan agama harus terus dijaga aktivis Katolik sebagai suatu kekayaan NKRI.

Umat katolik dalam bernegara hendaknya menumbuhkan pokok pemikiran 100% katolik 100% Indonesia yang telah diteladankan pahlawan nasional Monsinyur Albertus Soegiyopranoto dimasa mendampingi Presiden Soekarno,” kata Romo Sugi membuka pertemuan aktivis Katolik di Rumah Retret Nazaret, Karangpanas, Semarang, berlangsung Jumat (12/5) sampai Sabtu (13/5).

Pemikiran Soegiyopranoto itu sampai sekarang masih terus mendasari gerak keuskupan, gereja, dan umat Katolik, dalam karya bidang sosial kemasyarakatan sebagai wujud pelaksanaan ajaran kasih gereja yang harus membawa keselamatan bagi orang banyak yang dikenal perwujudan bonum comune.

Pertemuan dua hari aktivis sosial politik gereja secara khusus menghadirkan kembali nilai luhur kemajemukan yang terkandung dalam Pancasila. Peneguhan akan pancasila dan NKRI menjadi relevan untuk terus ditanamkan pada diri aktivis ditengah menghadapi tantangan praktik demokrasi dan ancaman munculnya kelompok anti pancasila.

Secara khusus gereja menghadirkan tiga narasumber yakni Nurfuad selaku aktivis muda Nahdatul Ulama Semarang, H.Soecipto, SH,MH selaku tokoh Nahdatul Ulama Jateng dan Keluarga Besar Marhaen. Keduanya menyampaikan pancasila dari sudut pandang histori dan gerakan islam nusantara sebagai salah satu praktik nyata mencintai Indonesia, NKRI, Pancasila dan menjaga kemajemukan bangsa.

Nurfuad juga membekali para aktivis katolik agar mulai terampil dalam identifikasi kelompok islam. Menurutnya, umat katolik harus mampu membedakan mana islam dengan pemikiran nasionalis dan mana kelompok islam radikalis yang memang anti pancasila. Nurfuad membeberkan beberapa gejala kaum radikal seperti pemikiran yang membenturkan ajaran agama dengan nilai adat tradisi budaya lokal yang lebih dulu melekat di masyarakat. Tak heran, imbuh Nurfuad, kelompok radikal anti pancasila ini menganggap kegiatan budaya yang berjalan di yengah masyarakat tidak sesuai ajaran islam.

“Sebaliknya NU yang mencintai bangsa ini bisa berjalan bersama dengan adat tradisi budaya masyarakat setempat,” ujar Nurfuad sembari mengurai ciri fisik dan psikologis sosial kaum radikal.

Pembahasan kelompok islam radikal ini juga lebih ditajamkan dalam sesi pembicara dari kepolisian Jateng Kombes (pol) Lilik Darwanto yang bertugas dosen Akademi Kepolisian (Akpol). Dengan dimoderatori Romo Edi Purwanto Pr, mantan humas Polda Jateng itu mengurai perspektif penegakan hukum  terhadap gejala dan deteksi dini gerakan terorisme serta rangkaian catatan kasus teror yang terjadi di Jateng.

Beberapa aktivis ormas katolik yang hadir adalah perwakilan Wanita Katolik RI DPD Jateng dan cabang kota/kabupaten di Jateng, Wanita Katolik RI DPD DIY, Wanita Katolik RI tingkat DPC Kabupaten Kota di DIY, Pemuda Katolik Komda Jateng, Pemuda Katolik Komda DIY, Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Jateng, ISKA DIY, Forum Masyarakat Katolik Indonesia (FMKI)Jateng, FMKI DIY, PMKRI, dan PK3 Kevikepan.

Diakhir kegiatan mereka menyusun rencana kegiatan kebangsaan dari momentum peringatan kebangkitan bangsa 20 Mei, hari lahirnya Pancasila 1 Juni dan HUT RI 17 Agustus mendatang dan memperkuat jejaring nasional untuk persatuan nasional NKRI.

(P. Prabantoro)

2 Comments on "Aktivis Katolik komitmen menjaga kemajemukan NKRI"

  1. Matheus Krivo on Tue, 16th May 2017 9:35 am 

    Pro Ecclecia et patria! Demi bangsa kita juga harus tegas menghadapi kekuatan radikal. Bukan dosa jika kita melawan radikalisme keagamaan, sosial dan politik dalam frame mayoritas yang dengan caranya selalu menyudutkan kelompok minoritas.Sadar juga kelompok mayoritas cenderung menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaaan dan pengaruh. Ketika kelompok minoritas bersuara, berjuang alih-alih kaum mayoritas bicara tentang toleransi, memaafkan, demokrasi, tunduk pada hukum, dsb!

  2. Matheus Krivo on Tue, 16th May 2017 9:43 am 

    Ingat kita di Indonesia. Semua mayoritas dan minoritas. Ketika ada pihak mengklaim mayoritas agama di suatu wilayah, pada saat yang sama dia adalah minoritas pada wilayah yang lain. Dalam dimensi ini, semua pihak harus bertindak bijaksana. Bonum commune adalah prinsip dasar dalam kehidupan yang plural. Olehnya hanya nilai universal yang mampu mempersatukan semua orang seperti adil, saling menolong, menghargai, membina persaudaraan, dsb. Problem besar bangsa Indonesia adalah relasi sesama umat beragama masih selalu terganjal dengan kepetingan dan ambisa masing-masing kelompok berbasis keagamaan. Mendirikan rumah ibadat menjadi sulit, pembagian peran dalam kekuasaan tidak adil, dan saling berjuang menggaet penganut untuk berpindah posisi keyakinan. Kalau dalam dimensi ekonomi relasi kaya miskin, penguasa modal dan sebaliknya adalah lumrah karena warna ekonomi adalah kompetisi. Ruangnya agak rasional dan realistis.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Begini cara Arab Saudi mendanai Islam radikal di Bangladesh
  2. Serangan Marawi menimbulkan penganiayaan karena agama
  3. Mengkhawatirkan, satu dari dua anak India alami pelecehan seksual
  4. Pastor di Sikka mendukung upaya pelestarian mata air
  5. Renungan tentang Kenaikan Yesus -28 Mei 2017
  6. PP KIRA: Jangan terjebak paham radikal dan terorisme
  7. Aktivis keagamaan ini diusir dari Maumere, NTT
  8. Tuhan bukan panglima perang yang haus kemenangan, kata Paus
  9. Pernyataan sikap PGI terkait teror bom Kampung Melayu Jakarta
  10. Polisi menangkap perusak gereja Katolik di India
  1. Paham radikalisme sangat membahayakan bagi kaum minoritas dan tdk menutup kemung...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-30 01:41:03
  2. Bahasa kotor, makian, hujatan, ujaran rasa kebencian ras, golongan, agama, dsb b...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 22:07:09
  3. Toleransi seharusnya bisa dilakukan & diterima oleh semua umat beragama di s...
    Said Avi Wahyu on 2017-05-28 21:02:37
  4. Proud to read it. GBU Thanks....
    Said Alcino Fernandes Freitas Khan on 2017-05-26 11:10:32
  5. saya sangat mendukunng sekali. mohon supaya sesering mungkin harus cek ke kepoli...
    Said Alfons Liwun on 2017-05-24 10:42:17
  6. informasi ini sangat penting buat saya, mohon bantuannya bagaimana saya bisa mel...
    Said juanda sitohang on 2017-05-23 12:03:09
  7. Mas saya mohon bantuannya, nama saya kasihani halawa butuh dana buat berobat (op...
    Said kasihani halawa on 2017-05-18 09:38:21
  8. Pro ecclesia et patria. Selamat berjuang terus teman-temanku dengan baret merah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-05-18 09:38:12
  9. sudah cukup kalau mengutip motto Mgr. Soegiyopranoto..yang bukan baru untuk umat...
    Said Jenny Marisa on 2017-05-17 13:27:29
  10. mempertahankan hukum mati.. suatu kesombongan......
    Said Jenny Marisa on 2017-05-16 21:08:51
UCAN India Books Online