UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Banjir dan tanah longsor menewaskan setidaknya 164 warga Sri Lanka

Mei 30, 2017

Banjir dan tanah longsor menewaskan setidaknya 164 warga Sri Lanka

Situasi di salah satu pusat penampungan sementara di Kolombo, Sri Lanka

Caritas sedang berjuang untuk mencari bantuan bagi orang-orang yang terkena dampak banjir dan tanah longsor di wilayah selatan dan barat Sri Lanka yang telah menewaskan setidaknya 164 dan mengakibatkan sejumlah orang hilang.

Musim hujan telah mengancam negara ini sejak 26 Mei, membanjiri lebih dari 15 distrik termasuk Galle, Ratnapura, Kalutara, Gampaha dan Kolombo.

Kabupaten Kalutara Selatan merupakan salah satu daerah yang terkena dampak paling parah dengan sedikitnya 50 orang terbunuh. Korban mengatakan ketinggian air naik begitu tinggi sehingga benar-benar menutupi rumah, sekolah dan tempat ibadah.

Pastor Indika Anthony, direktur Caritas Keuskupan Galle, mengatakan akses ke beberapa daerah masih sangat sulit.

“Ribuan orang telah kena dampak, termasuk orang-orang Kristen. Caritas setempat membagikan 2.000 paket makanan dengan bantuan para biksu, pendeta dan relawan Buddha pada hari pertama,” kata Pastor Anthony.

“Tidak ada listrik, ada kekurangan air minum, tikar dan kebutuhan dasar karena banjir,” katanya.

Lebih dari 100.000 orang pengungsi telah ditempatkan di 304 kamp sementara di kabupaten yang terkena banjir.

Warga dibanyak daerah telah diinstruksikan untuk segera mengungsi karena hujan lebih lanjut yang mengancam terjadinya banjir yang lebih buruk.

“Caritas Chilaw, Badulla, Kurunegala dan beberapa paroki telah mengatur untuk mengumpulkan tikar, bantal, lilin, botol air, dan makanan kering untuk didistribusikan kepada korban banjir yang paling parah terkena dampaknya,” kata Pastor Anthony.

Beberapa pastor paroki sedang menyiapkan makanan untuk korban, termasuk paroki Deniyaya yang melayani sampai 1.250 orang.

Kuil Buddha, gereja, organisasi masyarakat sipil, kelompok desa dan organisasi media telah memasang tenda darurat disepanjang jalan utama untuk mendistribusikan botol air, tikar, bantal dan makanan kering kepada korban banjir.

Jina Athukorala, seorang korban banjir tunawisma dari Avissawella mengatakan bahwa dia meninggalkan semua harta miliknya, kecuali bajunya, dan berlari ke sebuah pusat penampungan dengan keluarga dan kerabatnya.

“Semua rumah dan jalan di desa kami benar-benar dibanjiri air dan kami naik ke kapal untuk menyelamatkan nyawa kami,” kata Athukorala.

“Banyak rumah hancur dan tidak memiliki apa-apa sekarang Bagaimana kita bisa membangun kembali rumah kita?” Athukorala bertanya.

Beberapa organisasi dan pastor paroki telah meminta umat Katolik pada misa hari Minggu untuk memberikan dukungan dan kerja sama penuh untuk membawa bantuan kepada keluarga yang terkena dampak.

Pastor Anton Ranjith mengatakan kepada ucanews.com bahwa umat paroki dan penduduk Budha di daerah Hanwella dan Yakkowita yang terkena dampak telah ditawari perlindungan di dua paroki setempat di Gereja Gurubewila dan Gereja Bunda yang menderita.

Dia mencatat bahwa sekitar 100 keluarga yang mencari perlindungan ada karena terkena dampak kenaikan air di Sungai Kelani.

Pastor Ranjith Terry, pastor paroki Gereja Santa Maria, mengatakan kepada jemaatnya bahwa tidak perlu mempersembahkan kolekte selama Misa.

“Gerakan muda Kristen akan mendirikan sebuah gubuk untuk mengumpulkan barang-barang bantuan,” kata imam tersebut menginformasikan kepada umat pada hari Minggu Misa 28 Mei.

Sekelompok sopir mobil roda tiga di Kolombo telah menerima sumbangan dari masyarakat. Salah seorang, Nihal Dias, mengatakan kontribusi jatah dan botol air yang murah datang dari pagi sampai larut malam.

“Kami memberi tanda terima kepada setiap orang dan berterima kasih atas kemurahan hati mereka,” kata Dias.

Perserikatan Bangsa Bangsa berjanji untuk menyumbangkan tenda, tablet pemurni air, persediaan lainnya. India telah menyumbangkan sejumlah barang bantuan darurat.

Mei lalu, sebuah peristiwa tanah longsor besar menewaskan lebih dari 100 di bagian tengah negara tersebut.

Pada 17-18 Mei, 2003 hujan lebat menyebabkan banjir dan tanah longsor yang menewaskan setidaknya 260 orang dan menyebabkan sekitar 150.000 orang mencari tempat berlindung.

Keempat distrik selatan Galle, Kalutara, Matara dan Ratnapura, yang dilayani oleh keuskupan Galle dan Ratnapura, terkena dampak yang terburuk. Galle adalah 110 kilometer selatan dan Ratnapura 60 kilometer tenggara Kolombo.

 

Baca juga: Sri Lanka floods, mudslides kill at least 164

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi