UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Imam Filipina yang diculik meminta bantuan lewat video

Mei 31, 2017

Imam Filipina yang diculik meminta bantuan lewat video

Pastor Teresito Suganob, vikjen Prelatur Marawi, ditahan kelompok militan pada 23 Mei bersama beberapa pekerja gereja. Pada 30 Mei ia meminta bantuan melalui video.

Seorang imam Katolik Filipina, yang diculik oleh orang-orang bersenjata yang mengaku sebagai militan Islam, meminta bantuan pemerintah Filipina dalam sebuah video yang diposting lewat di media sosial pada 30 Mei.

Video tersebut menunjukkan Pastor Teresito Suganob, vikjen Prelatur Marawi, meminta Presiden Rodrigo Duterte untuk menarik pasukan keamanan dari kota selatan Marawi.

“Pak Presiden, kita berada di tengah perang. Kami meminta bantuan Anda untuk memberikan apa yang diminta oleh musuh Anda,” kata pendeta tersebut dalam video tersebut.

“Mereka meminta [Anda untuk] menarik pasukan Anda dari Lanao del Sur dan Marawi,” kata Pastor Suganob.

Ia mengaku berbicara untuk 240 “tawanan perang,” pastor tersebut memohon kepada Duterte sambil berkata, “Jika Anda ingin saya berlutut di hadapan anda hanya untuk mendapat bantuan untuk keluarga kami yang menangis … kami akan melakukannya.”

Dia mengatakan ada dua pekerja wanita dari Katedral Katolik Santa Maria dan tujuh guru Dansalan College, sebuah sekolah Protestan, di antara para sandera.

Sekelompok orang bersenjata yang mengaku memiliki hubungan dengan ISIS mencoba untuk mengambil alih kota Marawi di provinsi Lanao del Sur pada 23 Mei.

Sudah seminggu, bentrokan antara pasukan keamanan dan militan yang telah mengakibatkan evakuasi ratusan ribu penduduk.

Penangkapan yang dilakukan orang-orang bersenjata terhadap Pastor Suganob, beberapa karyawan gereja dan pengunjung gereja terjadi di hari pertama konflik.

Imam tersebut mengatakan bahwa para penculiknya meminta pemerintah “untuk menghentikan serangan udara … dan menghentikan meriam.”

Belum dapat dipastikan apakah pastor, yang tampaknya berdiri di tengah area yang dibombardir, membuat pernyataan tersebut dengan sukarela.

Imam tersebut mendesak Duterte untuk tidak menggunakan kekerasan, “karena musuh-musuh Anda, mereka siap untuk mati karena agama mereka. Mereka siap untuk mati karena hukum yang mereka  diikuti.”

Duterte telah mengumumkan darurat militer di Mindanao menyusul serangan teror di Marawi.

Uskup Edwin dela Pena dari Marawi sebelumnya mengatakan bahwa orang-orang bersenjata tersebut telah mengancam untuk membunuh para sandera jika serangan militer berlanjut. Prelatus tersebut mengatakan bahwa dia menerima telepon dari salah satu pria bersenjata yang menuntut “gencatan senjata sepihak.”

“Mereka menginginkan gencatan senjata dan memintah militer untuk memberi mereka akses dari Marawi. Jika tidak, mereka akan membunuh para sandera,” kata Uskup Dela Pena.

Dia mengatakan  “tidak ada negosiasi” dengan para teroris dan dia mengakui bahwa sandera dapat digunakan sebagai “tameng manusia”.

Uskup mengatakan kepada ucanews.com bahwa dia telah melihat video tersebut namun menolak untuk mengeluarkan pernyataan apapun.

Baca juga: Kidnapped Filipino priest appeals for help in video

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

UCAN Indonesia
Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi