UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Warga Baduy butuh pendampingan agar terhindar dari bencana

Juni 6, 2017

Warga Baduy butuh pendampingan agar terhindar dari bencana

Amuk api di Cisaban II tak hanya menghangsuskan 83 rumah warga Baduy Luar, tetapi juga 151 leuit (lumbung padi), dan hanya yang tampak dalam gambar ini yang tersisa. (Alexander Mering)

Untuk mencegah bencana kebakaran yang melanda perkampungan, warga Baduy membutuhkan program mitigasi guna mencegah bencana kebakaran berulang kembali.

Demikian diungkapkan oleh Communications Specialist Kemitraan, Alexander Mering, usai melakukan kunjungan dan menyerahkan sejumlah bantuan bagi korban kebakaran di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabupaten Lebak, Banten, Selasa (5/6) kemarin.

“Pengetahuan mitigasi ini dimaksud, bisa digali dari kearifan lokal masyarakat Baduy sendiri, terutama Baduy Dalam. Jadi tidak harus menggunakan alat-alat canggih dan modern,” tegas Mering.

Dia sangat yakin, bahwa peletakan atau cara memasang hawu (Tungku dari Tanah Liat) dan Parako (Perapian) di dalam rumah orang Baduy Dalam sudah diperhitungkan dengan cermat. Karena dilihat dari struktur maupun secara teknis pemasangan, kelihatan kalau hal tersebut merupakan bagian dari mitigasi bencana kebakaran.

Dari pengalamannya bekerja bersama masyarakat adat lebih dari 10 tahun terakhir, Mering menemukan cukup banyak praktik-praktik dalam budaya masyarakat adat berupa tatakelola pengendalian bencana. Misalnya pengendalian api, air, tanah, udara bahkan hama seperti yang pernah dijumpainya di masyarakat Dayak di Kalimantan, Kasepuhan di Lebak,  dan Topo Uma di dataran tinggi Pipikoro, Kabupaten Sigi.

Untuk itu pada pelaksanaan fase III Program Peduli yang dilaksanakan oleh Rimbawan Muda Indonesia (RMI) di wilayah masyarakat Baduy dan Kasepuhan, di Lebak, dia berharap juga bisa menemukan kearifan lokal kedua masyarakat adat tersebut yang terkait dengan mitigasi bencana, salah satunya bencana kebakaran.

Ditambahkannya, Program Peduli sendiri merupakan program pemerintah di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK).

Warga Baduy luar bertahan sementara di bawah terpal dari plastic sambil membangun pemukimannya kembali dengan kayu dan bambu secara kolektif. (Aji Panjalu)

 

Sejak peristiwa kebakaran yang melanda 83 rumah milik 118 KK Baduy Luar,  di Kampung Cisaban II, Desa Kanekes, Kabuapten Lebak, Banten Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan (Partnership) bekerjasama dengan Rimbawan Muda Indonesia (RMI), Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) turut melakukan penggalangan dana dan menyalurkan sejumlah bantuan.

Ketua RT setempat, Ahdi yang menerima langsung bantuan mengatakan hingga Senin (5/6) kemarin sudah cukup banyak bantuan yang mengalir ke Cisaban. Baik yang disalurkan pemerintah, organisasi masyarakat sipil, private sector dan individu yang bersimpati pada korban.

Bantuan berupa barang, bahan bangunan, pakaian, makanan maupun uang.   Antara lain bantuan dari Kementerian Sosial (Kemensos) telah memberikan bantuan senilai Rp 2,4 miliar lebih. Terdiri dari uang Jaminan Hidup (Jadup) sebesar Rp 328.500.000 dan bantuan logistik senilai Rp 68 juta lebih.

Sementara itu staf RMI, Novytya Ariyanti yang turut mengantar bantuan bersama wartawan dan dua relawan lainnya mengatakan, bahwa kedatangan RMI, Kemitraan, dan PWKI, kali ini adalah untuk yang kedua, setelah minggu lalu menyalurkan bantuan berupa uang dan selimut kepada para korban. Saat ini kata Novytya Ariyanti, warga Cisaban tengah sibuk membangun rumah-rumah tradisional mereka dari kayu dan bambu.

One response to “Warga Baduy butuh pendampingan agar terhindar dari bencana”

  1. Bernardus Wato Ole says:

    Suku asli Baduy mempertahankan banyak tradisi nenek moyang yang bernilai positip di zaman serba moderen ini. Antara lain bagaimana mereka menjaga keseimbangan dengan mengendalikan bencana api, air, tanah, udara bahkan hama. Bagaimana pun juga nilai keseimbangan ini tak terlepas dari kuasa yang Mahatinggi entah apa pun namaNya sesuai kepercayaan mereka. Sayang sekali pada suku-suku lain di negeri ini banyak tradisi yang berenilai positip telah tergerus oleh kemajuan, atau memang belum ada banyak niat untuk melestarikannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi