UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Malaysia, Indonesia, dan Filipina bekerja sama menghadang ISIS

Juni 19, 2017

Malaysia, Indonesia, dan Filipina bekerja sama menghadang ISIS

Angkatan Laut Malaysia dalam sebuah berpatroli tahun 2015. Malaysia bergabung dengan Indonesia dan Filipina dalam menjaga Laut Sulu mulai 20 Juni 2017. (Manan Vatsyayan/AFP)

Pasukan keamanan Malaysia bergabung dengan Indonesia dan Filipina untuk menghentikan militan Islam memasuki wilayah bersama ketiga negara tersebut.

Langkah-langkah kerjasama diumumkan pada 12 Juni pada saat militer Filipina melakukan operasi terhadap ratusan militan yang terkait dengan Negara Islam (IS) yang telah menguasai beberapa area di kota Mindanao, Marawi selama empat minggu.

Pekan ini Malaysia, Indonesia dan Filipina mulai melakukan patroli angkatan laut bersama di Laut Sulu. Operasi pengawasan udara juga akan dilakukan, untuk mengurangi kekhawatiran tentang apa yang terjadi di Marawi dan mengekang kegiatan penculikan lintas batas untuk mendapatkan tebusan yang dilakukan oleh kelompok pemberontak Abu Sayyaf, kata media tersebut.

Sejak pertempuran dimulai di Marawi pada akhir Mei, pasukan keamanan Malaysia mengatakan bahwa mereka telah meningkatkan keamanan di sepanjang pantai timur Sabah.

Namun pihak berwenang Malaysia bungkam mengenai ancaman yang mungkin dihadapi negara tersebut dari pertempuran yang sedang berlangsung di Marawi, Filipina.

Warga Malaysia dan  Indonesia termasuk di antara militan yang tewas di kota tersebut oleh militer Filipina.

Karena serangan lintas batas yang terus-menerus dilakukan oleh kelompok kriminal dan militan Islam dari Filipina selatan, sebagian besar Sabah telah mendapat pengawasan keamanan sejak tahun 2013.

Jam malam maritim telah berlangsung di sepanjang pantai timur negara bagian ini sejak tahun 2014. Kawasan ini mencakup 314.087 kilometer persegi dari pantai ke perbatasan internasional dengan Filipina. Membentang sekitar 362 mil menyusuri pantai Sabah.

Namun, sumber informasi mengatakan daerah perbatasan masih dapat ditembus, ia menambahkan bahwa rute penyelundupan manusia tetap beroperasi.

“Semua pembicaraan tentang penyegelan perbatasan, hanya sekedar omong kosong. Kata-kata ‘penyegelan perbatasan’ telah menjadi kata yang disalahgunakan,” kata sumber tersebut.

“Bagaimana mungkin orang masih datang dan pergi sesuka hati jika perbatasannya ditutup,” katanya.

Seorang penduduk Tawau, kota terbesar ketiga di Sabah, mengatakan “blokade yang dilakukan oleh angkatan laut tiga negara tersebut mungkin memiliki beberapa gigitan dan akan menimbulkan beberapa masalah” bagi mereka yang sering menyeberang perbatasan.

Penduduk yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, merasa skeptis bahwa kerja sama yang ditingkatkan di perbatasan antara negara-negara akan menutup perbatasan.

“Batas maritim antara kami dan Filipina selatan hanya berjarak 20 menit naik perahu,” katanya.

“Akan sulit menghentikan orang-orang dari Filipina Selatan, mereka  mengetahui lautan di sekitar sini, mereka bisa menavigasi dalam kegelapan sehingga siapa yang bisa menghentikannya?” Dia bertanya.

Dia mengatakan bahwa penduduk Tawau cukup tenang dengan situasi tersebut.

“Ada beberapa kekhawatiran setelah Presiden Duterte mengumumkan darurat militer tapi itu segera mereda,” katanya.

“Pertarungan di Marawi terlalu jauh bagi banyak orang,” katanya. Ia menambahkan bahwa sebagian besar migran ilegal orang Filipina yang tinggal di kota tersebut berasal dari kota Mindanao di Zamboanga yang agak jauh dari Marawi.

ucanews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi