Kampanye mendukung blogger Katolik di Vietnam diluncurkan

23/06/2017

Kampanye mendukung blogger Katolik di Vietnam diluncurkan thumbnail

Pham Minh Hoang beserta istinya Le Thi Kieu Oanh dan putri mereka

Sejumlah kelompok pendukung hak asasi manusia telah meluncurkan kampanye menentang keputusan pemerintah Vietnam untuk membatalkan kewarganegaraan seorang blogger Katolik.

Mereka menyuarakan dukungan bagi blogger Pham Minh Hoang untuk tetap tinggal di negara tersebut setelah adanya pengumuman resmi – salah satunya dari Presiden Tran Dai Quang – yang mengatakan bahwa dia telah kehilangan kewarganegaraannya.

Langkah pemerintah tersebut bertentangan dengan undang-undang negara.

“Presiden tidak diijinkan dan tidak boleh mengeluarkan keputusan untuk melepaskan kewarganegaraan Hoang, itu melanggar undang-undang,” kata Pastor Phan Van Loi dan Dokter Nguyen Dan Que, keduanya ketua Mantan Tahanan Nurani Vietnam, dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan 19 Juni.

Lebih dari 200 imam, pendeta, intelektual, aktivis dan blogger memulai sebuah kampanye pada tanggal 19 Juni untuk meminta semua orang untuk mendukung dan memperjuangkan Hoang – yang memiliki kewarganegaraan ganda Prancis dan Vietnam – untuk tetap tinggal di Vietnam.

“Haknya untuk tinggal di negara ini merupakan hak yang juga dimiliki semua orang Vietnam,” kata mereka dalam sebuah pernyataan.

Pada tanggal 20 Juni, Viet Tan -partai pro-demokrasi Vietnam yang berbasis di Amerika Serikat- meminta orang-orang untuk menulis kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron dan mendesaknya untuk menolak untuk memfasilitasi rezim Hanoi yang dianggap melanggar hak asasi manusia.

Dalam upaya untuk menghentikan pengusiran dirinya, Hoang sendiri memberi tahu kedutaan Prancis di Hanoi pada tanggal 3 Juni bahwa dia telah meninggalkan kewarganegaraan Prancis dan hanya akan mempertahankan kewarganegaraan Vietnam.

Melalui Facebook Hoang mengatakan bahwa pada tanggal 16 Juni dia menerima surat undangan untuk mendatangi Departemen Imigrasi pada keesokan harinya namun dia menolak. Surat yang diunggah di Facebook hanya memintanya untuk hadir di imigrasi pada pukul 09:30 tanggal 17 Juni, namun tidak menyebutkan rincian lebih lanjut.

Ayah berusia 62 tahun dan memiliki seorang anak itu mengatakan bahwa dia lahir dan dibesarkan di Vietnam oleh orang tua asal Vietnam. Semua pemikiran dan karyanya bertujuan untuk membangun kebebasan dan demokrasi sejati di Vietnam, katanya.

“Saya orang Vietnam selamanya dan tidak seorang pun bisa mengambil hak saya,” katanya.

Istrinya, Le Thi Kieu Oanh mengatakan bahwa polisi memantau keluarga mereka dengan seksama dan merekam (video) semua yang mengunjungi rumah mereka.

Sebagai seorang dosen, Hoang mengajar lima disiplin matematika Universitas Teknologi di Ho Chi Minh City sampai dia ditangkap pada tahun 2010 karena “mengganggu keamanan nasional” dan “menghancurkan citra bangsa,” melalui aktivitas blog.

Lahir di Vietnam Selatan pada tahun 1955, Hoang belajar di Perancis pada tahun 1973. Setelah pasukan komunis dari Utara menguasai Selatan pada tahun 1975, dia tidak dapat kembali ke Vietnam sampai tahun 2000.

Pemerintah komunis mengendalikan semua media dan melarang media swasta di Vietnam. Blogger dan aktivis menggunakan media sosial untuk menyuarakan kritikan secara publik dan banyak di antaranya telah dipenjara karena kegiatan anti-pemerintah.

Baca juga: Campaigns launched to help Catholic blogger stay in Vietnam




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Delegasi India ingin berbagi pengalaman iman di AYD Yogyakarta
  2. Surat Dari Roma: Pemecatan prefek Kongregasi Ajaran Iman
  3. Aktivis kecam Jokowi terkait perintah menembak penyelundup norkoba
  4. PM Singapura ingatkan ancaman kelompok ekstrimis
  5. Warga Timor-Leste inginkan koalisi pemerintahan yang pro-rakyat
  6. Kardinal Zen kritik pengadilan yang mendiskualifikasi anggota parlemen
  7. Pendukung Mgr Hubertus Leteng meminta umat membela uskup
  8. Paus sumbang €25.000 untuk membantu warga di Afrika Timur
  9. Setelah kelompok teroris, ini target serangan Duterte berikutnya
  10. India memberikan pelatihan bagi jutaan PRT
  1. Setuju Aurel....Gereja semestinya menjadi teladan dalam transparansi dan akuntab...
    Said puji astuti on 2017-07-26 15:28:50
  2. Biarin aja dah bapak pastor terhormat. Gk usa ikut campur. Langakh yang bagus ka...
    Said Narfin on 2017-07-26 15:12:19
  3. Sebagai awam Katolik saya sangat prihati dengan kemelut yang tengah terjadi di ...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-07-26 07:00:27
  4. Syalom, semua saudara. Tolong baca baik-baik, Pal Alex Marwata tidak mengatakan ...
    Said Aurel on 2017-07-24 16:04:09
  5. KPK ingin audit Gereja ? Gak salah, ada udang dibalik batu, ada unsur politik bs...
    Said Bonbon on 2017-07-23 21:19:37
  6. KPK tentunya tak berwenang mengaudit keuangan lembaga agama seperti gereja karen...
    Said Willy Nggadas on 2017-07-23 16:22:59
  7. Apapun undang-undangnya, soal perbuatan baik dalam hal ini gereja bebas korupsi...
    Said Alexander on 2017-07-23 07:02:14
  8. Good morning...
    Said Bienvenhu on 2017-07-23 05:19:23
  9. Pandangan yg rasional bila keterbukaan itu di mulai dari Gereja Katolik seperti ...
    Said Matias on 2017-07-22 21:51:12
  10. Sudah saatnya gereja accountable. https://www.naulinovation.com:8443/onebody/...
    Said Leonard on 2017-07-22 17:15:48
UCAN India Books Online