UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Akhiri mogok makan biarawati China tetap menuntut kompensasi

Juni 28, 2017

Akhiri mogok makan biarawati China tetap menuntut kompensasi

Suster Jiao Jialin sedang istirahat Katedral Maria Dikandung Tanpa Noda di Nanchang, 20 Juni.

Dua suster di China tenggara telah mengakhiri mogok makan mereka setelah pejabat pemerintah setempat mengatakan bahwa mereka akan membantu para suster mendapatkan kompensasi atas pembubaran kongregasi religius mereka.

Setelah mogok makan selama 12 hari, Suster Gao Wanjuan dan Jiao Jialin dari Kongregasi Bunda Penasehat yang Baik di provinsi Jiangxi mengakhiri demonstrasi mereka pada 24 Juni setelah mereka dikirim ke rumah sakit dan diberi transfusi intravena.

Di rumah sakit, para biarawati itu sepakat untuk mengakhiri mogok makan setelah diberi jaminan oleh pejabat agama bahwa mereka akan membantu para suster menyelesaikan kasus mereka melawan Keuskupan Jiangxi.

“Kepala biro urusan agama provinsi yang baru telah berjanji untuk membantu kami menyelesaikan masalah ini dengan Uskup Li Suguang dari Jiangxi (Nanchang) setelah kekuatan kami pulih,” kata Suster Jiao. Ia menambahkan “kepala urusan agama yang baru juga menunjukkan ketidaksetujuan karena kasus ini berlangsung selama beberapa tahun.”

Dia yakin para pejabat agama akan membantu mereka karena mereka khawatir dengan karir mereka. “Mereka tahu kami bertekad untuk mati dengan mogok makan. Jika kami mati, para pejabat agama juga memiliki tanggung jawab untuk menanggungnya,” katanya.

Para suster menuntut Uskup Yohanes Pembaptis Li – yang membubarkan konggregasi mereka pada tahun 2014 – karena tidak memberikan kompensasi yang memadai.

Dipaksa untuk pulang

Para biarawati memulai mogok makan mereka pada tanggal 12 Juni di luar kantor Administrasi Negara untuk Urusan Agama di Beijing sampai mereka dikembalikan secara paksa ke Jiangxi oleh empat orang- yang tiga di antaranya diduga sebagai anggota polisi – pada tengah malam, 15 Juni.

Saat itu kedua biarawati tersebut dibawa oleh orang-orang sebut ke katedral Imakulata di Nanchang, salah satu pria tersebut mengeluarkan ancaman, kata Suster Jiao. ‘”Saya memiliki 100 cara untuk menangani kalian,” kata pria tersebut menurut Suster Jiao, yang menderita demam dan hipertensi ringan saat demonstrasi berlangsung.

Begitu sampai di katedral kedua biarawati itu terus melakukan mogok makan di kamar mereka.

Keuskupan Jiangxi mengeluarkan pernyataan

Selama protes mereka, Keuskupan Jiangxi mengeluarkan sebuah pernyataan pada tanggal 21 Juni yang menolak permintaan para suster untuk kompensasi lebih dari 5 juta yuan (US $ 732.000) sambil mempertahankan keputusan Uskup Li yang membubarkan kongregasi mereka tiga tahun lalu.

Keuskupan telah menilai bahwa kongregasi “tidak memiliki konstitusi, karisma dan arah” bahkan setelah diberi bantuan yang substansial sumber daya manusia dan keuangan demi perbaikan, kata pernyataan tersebut. “Perpecahan internal yang serius juga membuat tidak mungkin beroperasi secara normal,” kata pernyataan tersebut menambahkan.

Untuk menunjukkan kemurahan hati gereja, keuskupan tersebut mengacu pada undang-undang perburuhan dan telah memberikan sejumlah kompensasi. Namun kedua biarawati tersebut “menuntut kompensasi yang besar tanpa dasar hukum,” kata pernyataan tersebut dan menambahkan bahwa para biarawati, yang menggunakan kebiasaan mereka, mengganggu Misa dan mengirim permohonan banding ke luar gereja. Mereka mencemarkan nama baik para imam dan uskup di internet, kata pernyataan tersebut.

Opini orang Katolik terbelah

Suster Jiao mengatakan banyak tuduhan dalam pernyataan tersebut tidak akurat dan mengeluh bahwa uskup itu bermurah hati hanya kepada dirinya sendiri dan memilih untuk mengabaikan kehidupan para biarawati tersebut.

“Uskup mengenakan cincin berlian seharga US $ 8.000 dan memiliki dua mobil, salah satu di beli dengan 1 juta yuan tahun lalu, tapi dia tidak menunjukkan belas kasihan kepada kami,” kata Suster Jiao.

Orang-orang Katolik terbelah karena kejadian tersebut. Beberapa orang merasa kasihan pada para biarawati namun menganggap kompensasi yang mereka minta terlalu tinggi karena mereka memilih menjalani kehidupan miskin yang kudus dengan rela. Beberapa mendukung permintaan kompensasi mereka dengan mengatakan bahwa 10.000 yuan yang diberikan keuskupan tidak cukup untuk memenuhi standar kehidupan yang memadai di China.

Ada sekitar 3.170 biarawati di komunitas gereja terbuka di China dan sekitar 1.400 di komunitas bawah tanah. Para biarawati termasuk dalam gereja terbuka dan 37 jemaat bawah tanah, menurut the Spring of Tripod 2016, sebuah jurnal triwulanan dari Pusat Studi Roh Kudus Keuskupan Hong Kong.

ucanews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi