UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Vietnam mengusir seorang aktivis Katolik ke Prancis

Juni 28, 2017

Vietnam mengusir seorang aktivis Katolik ke Prancis

Aktivis Katolik asal Vietnam, Pham Minh Hoang, berdiri di samping poster Presiden Prancis Emmanuel Macron di Ho Chi Minh City sebelum diusir ke Prancis

Seorang aktivis Katolik tiba di Paris pada 25 Juni setelah diusir dari Vietnam karena pandangan politiknya.

Peter Pham Minh Hoang – seorang Prancis –profesor Vietnam – ditangkap pada 23 Juni, ditahan selama satu hari di sebuah pusat penahanan, dan kemudian diberangkatkan dengan pesawat ke Prancis. Dia tidak diizinkan untuk berpamitan kepada istrinya Le Thi Kieu Oanh atau anak perempuan mereka.

Oanh mengatakan dalam postingannya di Fcebook bahwa kepala konsulat Prancis di Ho Chi Minh City bertemu dengan suaminya yang berusia 62 tahun pada 24 Juni dan memberinya pakaian sebelum penerbangannya.

Oanh mengatakan Emmanuel Ly-Batallan memberitahu kepadanya bahwa pengusiran suaminya “tidak dapat dihindari” karena Hoang tidak lagi memiliki kewarganegaraan Vietnam dan “Prancis harus menerima warganya.”

Dalam posting di Facebook-nya, Oanh menulis bahwa konsul jenderal tersebut mengatakan bahwa pemerintah Prancis “tidak memiliki hak untuk mengkritik atau campur tangan dalam masalah internal Vietnam.”

Hoang, seorang blogger aktif dan anggota U.S., basis partai politik Viet Tan, yang berjuang untuk mengakhiri pemerintahan komunis di Vietnam, menerima salinan keputusan untuk pencabutan kewarganegaraannya 13 hari sebelum pengusirannya.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Vietnam, Le Thi Thu Hang, mengatakan pada tanggal 15 Juni bahwa Hoang “telah melanggar hukum dan merongrong keamanan nasional. Penghapusan kewarganegaraannya dilakukan sesuai dengan hukum Vietnam.”

Dalam sebuah pernyataan, Viet Tan mengatakan bahwa Hoang adalah orang Vietnam pertama yang telah dicabut kewarganegaraannya karena pandangan politik.

“Kami mengecam keras pemerintah komunis Vietnam karena meminta Profesor Peter Pham Minh Hoang untuk meninggalkan Vietnam karena upayanya untuk memperjuangkan kebebasan dan hak asasi manusia,” kata Viet Tan.
Sementara itu, keluarga Hoang tetap tinggal di Vietnam.

“Hoang adalah suami yang baik,” kata Oanh, istrinya. “Saya mencintainya karena dia mendedikasikan dirinya untuk negara. Dia menerima pemenjaraan dan kemiskinan untuk bekerja demi bangsa,” katanya.

Oanh mengatakan dia yakin suaminya akan melanjutkan perjuangannya untuk demokrasi dan hak asasi manusia di Vietnam.

“Saya percaya sepenuhnya kepada Tuhan, Tuhan memilih kita untuk membawa salibNya di atas bahu kita, Dia akan membuka pintu lain untuk kita,” katanya.

Sebagai seorang guru, Hoang mengajar lima disiplin matematika yang berbeda di Universitas Teknologi di Ho Chi Minh City sampai dia ditangkap pada tahun 2010 karena “merusak keamanan nasional” dan “menghancurkan citra bangsa,” melalui blogg-nya. Dia dipenjara selama 17 bulan.

Lahir di Vietnam Selatan pada tahun 1955, Hoang pergi untuk belajar di Perancis pada tahun 1973. Setelah pasukan komunis dari Utara menguasai Selatan pada tahun 1975, dia tidak dapat kembali ke Vietnam sampai tahun 2000.

Pemerintah komunis mengendalikan semua media dan melarang media swasta di Vietnam. Blogger dan aktivis menggunakan media sosial untuk menyuarakan kritik di depan publik dan banyak di antaranya mereka dipenjara karena kegiatan anti-pemerintah.

Baca juga: Vietnam expels Catholic activist to France

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi