UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Uskup Marawi mengatakan dialog dengan ekstrimis ‘tindakan konyol’

Juni 30, 2017

Uskup Marawi mengatakan dialog dengan ekstrimis ‘tindakan konyol’

Uskup Edwin Dela Peña dari Marawi berbicara acara Solidarity Congress for Persecuted Christians di Pangasinan, 29 Juni. (Karl Romano)

Uskup di kota Marawi di Mindanao, Filipina selatan, menganggap konyol usulan untuk bernegosiasi dengan kelompok teroris bersenjata untuk membebaskan seorang imam yang sedang ditahan.

Berbicara sebelum pertemuan orang gereja di provinsi Pangasinan, Uskup Edwin de la Pena dari Marawi mengatakan tidak ada cara untuk berdialog dengan ekstrimis.

Prelatus tersebut mengatakan bahwa selama empat dekade terakhir tanggapan Gereja Katolik terhadap perang dan konflik di wilayah selatan Mindanao adalah dialog.

“Kita hanya bisa berdialog dengan orang-orang yang berpikiran sama,” katanya pada pertemuan tersebut yang disebut Kongres Solidaritas untuk Orang-orang Kristen yang Teraniaya pada tanggal 29 Juni.

Pertemuan tersebut disponsori oleh Aid to the Church in Need, sebuah yayasan pontifikal dari Gereja Katolik yang mebantu korban penganiayaan.

Uskup de la Pena mengatakan bahwa gereja harus “memilih jenis orang yang akan kita ajak berdialog.”

Dia mengatakan orang-orang yang telah menjadi korban ekstremisme, mereka yang “sangat merasakan kesengsaraan … adalah semua orang yang terbuka untuk berdialog dengan kita.”

Dalam sebuah pernyataan, Aid to the Church in Need mengatakan bahwa pertemuan tersebut “tepat waktu” karena konflik yang sedang berlangsung di Marawi.

Kelompok Katolik mengatakan “kesadaran akan situasi orang Kristen yang dianiaya” di Mindanao diperlukan sebelum Filipina dapat mengekspresikan solidaritas dengan “penderitaan sesama orang Kristen.”

Pasukan keamanan terus berperang dengan orang-orang bersenjata yang mengaku memiliki hubungan dengan Negara Islam yang disebut.

Para pria bersenjata anggota kelompok teror lokal Maute menyerang kota Marawi pada tanggal 23 Mei dan membakar gereja katedral Katolik, sekolah Protestan, dan menyandera imam Katolik Teresito Soganub dan beberapa karyawan gereja.

Pemerintah mengatakan bahwa para teroris masih menahan sekitar 100 sandera yang digunakan sebagai “tameng manusia”.

Pada tanggal 28 Juni, setidaknya 17 mayat warga sipil ditemukan oleh militer di kota yang dikepung tersebut.

Mayat tersebut 27 warga sipil yang sebelumnya dikonfirmasi tewas saat pertempuran pecah bulan lalu.

Konflik sejauh ini mengakibatkan kematian sedikitnya 300 teroris dan 71 tentara dan polisi.

Sekitar 2.700 warga sipil telah diselamatkan dari zona pertempuran sementara sekitar 300.000 orang masih berada di pusat evakuasi di daerah-daerah terdekat.

Baca juga: Marawi bishop says dialogue with extremists ‘ridiculous’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi