UCAN Indonesia Catholic Church News

Indonesia hanya memiliki ketahanan pangan selama 28 tahun

04/07/2017

Indonesia hanya memiliki ketahanan pangan selama 28 tahun thumbnail

Para petani organik di Jawa Tengah memasarkan hasil produk mereka di sebuah pasar yang dikelola Keuskupan Agung Semarang. (Bernard Elwin)

Indonesia harus mencapai ketahanan pangan ketika berusia 100 tahun kemerdekaan agar mimpi sebagai bangsa besar pada tahun 2085 dapat terwujud. Namun demikian, ketahanan pangan pada tahun 2045 itu dapat tercapai hanya jika bangsa Indonesia bekerja keras mengingat waktu yang tersisa tidak banyak.

Dengan merujuk pada ramalan mantan Menlu AS, Henry Kissinger pada tahun 20012,  mencapai ketahanan pangan pada tahun 2045 dapat diartikan Indonesia akan memenangkan Perang Proksi atau yang sering disebut sebagai Perang Generasi Keempat (G-IV).

Demikian inti sari buku “Memupuk Kesuburan, Menebar Kemakmuran”  terbitan Gramedia Pustaka Utama pada Juli 2017 ini.

Buku ini ditulis oleh  delapan penulis muda, yakni Gary Eka Luviano, Ummu Mu’minah Shoraya, Adinda Mirza Maulidya,  Yehezkiel Adiperwira, Iyan Fajri, Deni Dwiguna Sulaeman, Muhammad Ihwan Fahrurrazi dan Taufik Aldila Armaputra yang sehari-harinya adalah pegawai Petrokimia Gresik.

Editor buku ini adalah Rahmad Pribadi, Direktur SDM Petrokimia Gresik dan yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Semen Baturaja, demikian dijelaskan oleh Wandi S Brata, Direktur Utama Penerbit Gramedia Pustaka Utama kepada media, Senin (3/7/2017).

Dari kacamata penerbit, buku tersebut merupakan salah satu jalan keluar penting yang harus dilakukan pemerintah dan bangsa Indonesia agar Indonesia tidak tergantung pada impor pangan dari negara lain.

“Saya kira, ini terobosan strategis yang dilakukan oleh Rahmad Pribadi sebagai Direktur SDM yang dengan berani mendorong dan sekaligus mau memberi kepercayaan kepada generasi muda untuk melihat masa depan bangsa dan negaranya,” kata Wandi.

“Buku ini merupakan cara pandang generasi muda terhadap masa depan negaranya, yang sebenarnya masa depan mereka sendiri. Ini penting sekali, karena menentukan posisi Indonesia ketika kelak para penulis muda ini menerima tongkat estafet kepemimpinan,” tambahnya.

Menurut Wandi,  buku tersebut memberikan pencerahan dan petunjuk bagi bangsa Indonesia untuk segera melakukan sesuatu agar  Indonesia tidak terbeli oleh negara asing dengan cara terlanjur amat tergantung dari negara lain.

Bagaimana menguasai sebuah negara melalu kontrol atas pangannya adalah inti dari perang proksi (G-IV) sebagaimana prediksi Henry Kissinger pada 2012.

“Jika kita melihat prediksi mantan Menlu AS Henry Kissinger pada tahun 2012, saya menjadi paham mengapa buku ini harus terbit. Meminta  generasi muda menulis buku ini merupakan keputusan yang luar biasa dan sangat berani yang diambil Rahmad Pribadi selaku Direktur SDM Petro karena setidaknya ada dua kesulitan dalam penulisan. Yang pertama adalah, bagi generasi muda saat ini, menulis adalah sebuah kesulitan dan kesulitan kedua kedua, mereka harus menulis tentang masa depan bangsanya,” ungkap Wandi S. Brata.

Buku ini, kata Wandi, menjadi sangat penting bagi kita semua terkait dengan tahun 2050 ketika dunia memasuki tahun ledakan penduduk yakni hampir 10 miliar orang. Jumlah yang sedemikian besar membutuhkan pangan dan ini mendorong seluruh negara termasuk AS dan China, yang berpenduduk besar, mencari sumber pangan dan air. Mencari sumber pangan dan air ke tempat lain artinya harus menguasai negara tersebut dengan berbagai cara.

Diurai lebih lanjut, Indonesia memang belum dapat mencapai kedaulatan pangan mengingat bahwa sebagian bahan pangan hanya dapat diperoleh melalui impor seperti gandum, bahan baku roti dan mie. Sementara, tanaman gandum itu sendiri tidak dapat hidup di alam tropis seperti Indonesia.  Jika ketahanan pangan tercapai pada tahun 2045, diharapkan pada 2085 atau tujuh puluh tahun kedua kemerdekaan RI, mimpi bangsa Indonesia yang oleh Presiden Jokowi dikumpulkan melalui kapsul waktu, dapat terwujud.

Masih menurut Wandi S Brata, buku ini merupakan pengamatan jeli dari para penulisnya dengan memuat sebagian besar provinsi Indonesia yang ternyata menggunakan bahan pangan sebagai lambang daerahnya. Sekalipun digunakan sebagai lambang, ketahanan pangan ternyata tidak terwujud dalam pembangunan daerahnya.

Memang ada berbagai istilah terkait dengan pangan yakni, swasembada, kemandirian, ketahanan ataupun kedaulatan yang memiliki pengertian yang berbeda. Namun pada intinya, buku ini mengajak bangsa Indonesia untuk membangun ketahanan pangan termasuk di dalamnya mewaspadai pola dan budaya pangan agar tidak terjadi food losses (bahan pangan yang hilang) ataupun food waste (makanan yang terbuang).

Dikirim oleh Putut Prabantoro

One Comment on "Indonesia hanya memiliki ketahanan pangan selama 28 tahun"

  1. E. B. Setyo on Wed, 5th Jul 2017 1:23 pm 

    Selama kita tidak bisa lepas dari roti dan mie yang terbuat dari tepung terigu – kita selalu akan impor bahan dasarnya. Berarti untuk ketahanan pangan, kita harus mengubah pola makan kita. Coba seandainya dari ubi jalar dapat dibuat mie dan aneka panganan yang menarik, tentunya kita tidak perlu impor terigu lagi.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Pastor China Dipenjara Kasus Pencurian, Umat Mengatakan Dia Dijebak
  2. Diduga Karena Tekanan, Pemerintah Menutup Sebuah Misi Katolik di India
  3. Gempa Meksiko Menewaskan 11 Orang Saat Acara Pembaptisan
  4. Renungan Hari Minggu XXV Tahun A – 24 Sept 2017
  5. Partai Khunto Mundur, Timor-Leste Dipimpin Koalisi Minoritas
  6. Mgr Adrianus Sunarko Ditahbiskan Uskup Pangkalpinang Akhir Pekan Ini
  7. Paus Ingatkan Uskup Jepang agar Tidak Melupakan Martir
  8. Tidak Diperhatikan, Milisi Ancam Tutup Perbatasan RI-Timor Leste
  9. Uskup Hong Kong Beberkan Cara Menghadapi China
  10. Pastor Salesian Ini Mengisahkan Penangkapan dan Pembebasannya
  1. Terima kasih atas masukannya Romo. Salam hangat...
    Said cnindonewsletter on 2017-09-18 16:37:16
  2. Koreksi: Sejak Oktober 2016, Superior Generale CDD bukan lagi R.P. Jhon Cia, ...
    Said Yustinus CDD on 2017-09-18 11:19:22
  3. Suster, perkenalkan saya Dame. Saya berumur 25 tahun dan saya sudah baptis katol...
    Said Parningotanna Dameria Siahaan on 2017-09-15 14:17:52
  4. kalau ada pohon yang tumbang sebab angin kencang, maka jangan salahkan angin yan...
    Said mursyid hasan on 2017-09-13 00:02:54
  5. Salam Kenal Sahabat seiman, Nama sy Antonius, tinggal di Jakarta Indonesia. Sy...
    Said Antonius on 2017-09-10 21:25:14
  6. Selamat siang Romo Indra Sanjaya. Di Wahyu 13:1 kitab deuterokanonik ada salah t...
    Said agus eko on 2017-09-10 14:04:11
  7. Infonya sangat bermanfaat. Semoga umat Katolik makin mencintai kitab suci.......
    Said Deo Reiki on 2017-09-07 08:31:09
  8. Selamat siang, Jika boleh saya meminta nomer telp ibu Angelic Dolly Pudjowati...
    Said Cornellia on 2017-09-04 15:26:00
  9. sejarah masa lalu, yang masih belum jelas keputusan dari Pemerintah, dan belum j...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:16:52
  10. religius sendiri sangat erat kaitannya kepada seluruh kegiatan umat termasuk lin...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:04:35
UCAN India Books Online