UCAN Indonesia Catholic Church News

Gereja dan aktivis desak Malaysia tidak represif terhadap pekerja Indonesia

07/07/2017

Gereja dan aktivis desak Malaysia tidak represif terhadap pekerja Indonesia thumbnail

Seorang pekerja asal Indonesia yang tidak memiliki dokumen resmi bersembunyi di hutan sejak pemerintah menggerebek pekerja ilegal 1 Juli.

Aktivis Indonesia yang mendukung pekerja migran meminta pemerintah Malaysia untuk menghindari pendekatan koersif dan represif dalam penggerebekan terhadap migran ilegal yang dimulai pekan ini.

Wahyu Susilo, direktur eksekutif Migrant Care, sebuah organisasi non-pemerintah yang berbasis di Jakarta, mengeluarkan sebuah pernyataan yang meminta pemerintah untuk tidak melakukan intimidasi terhadap pekerja migran yang tidak berdokumen.

“Setiap upaya penegakan hukum harus didasarkan pada standar hak asasi manusia,” katanya.

Susilo mengatakan bahwa penggerebekan yang dilakukan oleh imigrasi, petugas polisi dan anggota Korps Sukarela Malaysia, sebuah pasukan paramiliter, cenderung menunjukkan “rasisme, xenofobia dan diskriminasi,” yang sering melibatkan perampasan kebebasan individu dan harta pribadi.

Sebanyak 1.509 pekerja migran ilegal dari Bangladesh, Indonesia, Myanmar, Filipina, Thailand dan negara-negara lain ditangkap dalam penggerebekan tersebut, sampai 3 Juli. 156 lainnya ditangkap dalam dua penggerebekan yang berakhir pada 5 Juli.

Pihak berwenang Malaysia bersedia mengubah pekerja migran tanpa dokumen yang sah untuk mengubah status mereka dengan mendaftar di departemen imigrasi mulai 15 Februari – saat E-card diluncurkan – sampai 30 Juni.

Kartu E dikeluarkan secara gratis dan berlaku sampai 15 Februari 2018.

Susilo menyesalkan kegagalan pemerintah Malaysia untuk memenuhi target E- card sebanyak 600.000 untuk warga asing yang bekerja secara ilegal di negara tersebut. Hanya sekitar 155.000 yang mendaftarkan dirinya.

“Sekitar 22.000 pekerja migran yang tidak berdokumen dari Indonesia bergabung dalam program ini. Jadi sekarang ratusan ribu telah menjadi target pemerintah Malaysia,” katanya.

Menurut data Migrant Care sekitar 800.000 orang Indonesia saat ini bekerja di perkebunan kelapa sawit di Malaysia. Beberapa bekerja sebagai pekerja rumah tangga.

Suster Irena Handayani, ketua Organisasi Migran Keuskupan Agung Jakarta, mengatakan bahwa kelompoknya telah membantu 33 pekerja migran ilegal pulang ke rumah sebelum pemberlakuan tindakan keras itu.

“Mereka berasal dari kota Kupang dan juga kabupaten Belu dan Ende di provinsi Nusa Tenggara Timur. Kami mengembalikan mereka ke rumah minggu lalu bekerja sama dengan departemen sosial. Banyak yang pernah bekerja di Malaysia selama lebih dari 10 tahun,” kata suster tersebut.

“Saya sering mengingatkan mereka yang ingin bekerja di luar negeri bahwa mereka harus menjadi pekerja migran legal. Jika tidak, mereka akan menghadapi konsekuensinya,” tambahnya.

Alex Ong, perwakilan Migrant Care untuk Malaysia, mengatakan bahwa pekerja migran ilegal dari Indonesia, yang tidak mendapat pekerjaan kembali ke rumah, yang lain menyembunyikan diri di hutan sejak tindakan keras tersebut dilakukan.

“Beberapa bersembunyi di bawah jembatan. Jika hujan deras datang, mereka bisa hanyut terbawa arus sungai,” katanya kepada ucanews.com pada 4 Juli, ia menambahkan bahwa dia secara rutin memantau situasi mereka.

Dari migran yang ditangkap, Ong mengatakan beberapa pihak berwenang Malaysia meminta bayaran untuk pembebasan mereka berkisar antara 1.500 dan 2.000 ringgit (sekitar US $ 465).

Dia meminta pemerintah Indonesia, melalui kedutaan besarnya, untuk membangun sebuah krisis center untuk membantu pekerja ilegal Indonesia.

Sementara itu, Dirjen Imigrasi Malaysia Datuk Seri Mustafar Ali menyalahkan para majikan karena kegagalan sistem E-Card.

“Otoritas imigrasi sangat ketat dalam menjaga kedaulatan nasional. Faktor utama kegagalan sistem E-card adalah sikap keras kepala pengusaha untuk tidak mendaftarkan pekerja migran ilegal mereka,” katanya kepada The Malay Mail Online.

ucanews.com




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Pastor China Dipenjara Kasus Pencurian, Umat Mengatakan Dia Dijebak
  2. Diduga Karena Tekanan, Pemerintah Menutup Sebuah Misi Katolik di India
  3. Gempa Meksiko Menewaskan 11 Orang Saat Acara Pembaptisan
  4. Renungan Hari Minggu XXV Tahun A – 24 Sept 2017
  5. Partai Khunto Mundur, Timor-Leste Dipimpin Koalisi Minoritas
  6. Mgr Adrianus Sunarko Ditahbiskan Uskup Pangkalpinang Akhir Pekan Ini
  7. Paus Ingatkan Uskup Jepang agar Tidak Melupakan Martir
  8. Tidak Diperhatikan, Milisi Ancam Tutup Perbatasan RI-Timor Leste
  9. Uskup Hong Kong Beberkan Cara Menghadapi China
  10. Pastor Salesian Ini Mengisahkan Penangkapan dan Pembebasannya
  1. Terima kasih atas masukannya Romo. Salam hangat...
    Said cnindonewsletter on 2017-09-18 16:37:16
  2. Koreksi: Sejak Oktober 2016, Superior Generale CDD bukan lagi R.P. Jhon Cia, ...
    Said Yustinus CDD on 2017-09-18 11:19:22
  3. Suster, perkenalkan saya Dame. Saya berumur 25 tahun dan saya sudah baptis katol...
    Said Parningotanna Dameria Siahaan on 2017-09-15 14:17:52
  4. kalau ada pohon yang tumbang sebab angin kencang, maka jangan salahkan angin yan...
    Said mursyid hasan on 2017-09-13 00:02:54
  5. Salam Kenal Sahabat seiman, Nama sy Antonius, tinggal di Jakarta Indonesia. Sy...
    Said Antonius on 2017-09-10 21:25:14
  6. Selamat siang Romo Indra Sanjaya. Di Wahyu 13:1 kitab deuterokanonik ada salah t...
    Said agus eko on 2017-09-10 14:04:11
  7. Infonya sangat bermanfaat. Semoga umat Katolik makin mencintai kitab suci.......
    Said Deo Reiki on 2017-09-07 08:31:09
  8. Selamat siang, Jika boleh saya meminta nomer telp ibu Angelic Dolly Pudjowati...
    Said Cornellia on 2017-09-04 15:26:00
  9. sejarah masa lalu, yang masih belum jelas keputusan dari Pemerintah, dan belum j...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:16:52
  10. religius sendiri sangat erat kaitannya kepada seluruh kegiatan umat termasuk lin...
    Said ANTONIUS NAIBAHO on 2017-09-02 17:04:35
UCAN India Books Online