Begini cara Caritas Nepal mengubah kehidupan petani kecil

10/07/2017

Begini cara Caritas Nepal mengubah kehidupan petani kecil thumbnail

Seorang perempuan Nepal memberi makan sapi yang dibelinya dengan bantuan Caritas untuk mendapatkan income tambahan.

Caritas Nepal telah mengembangkan program untuk membantu petani miskin yang memiliki lahan kecil  untuk mendapatkan hasil yang maksimal, mendidik dan melatih mereka untuk menggunakan alternatif organik yang belum mereka kuasai.

Petani terbatas dalam skala produksi karena hanya memiliki lahan kecil, sumber irigasi yang tidak memadai, kurangnya pelatihan, hasil panen rendah, dan terbatasnya akses ke pasar.

Berbagai perusahaan swasta juga memanfaatkan situasi tersebut dengan meyakinkan petani untuk menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Praktik ini justru menghasilkan makanan yang membahayakan kesehatan keluarga dan konsumen petani.

Kurangnya pendidikan dan pelatihan untuk petani membuat mereka tidak menyadari alternatif organik yang dapat dijadikan pupuk dan digunakan di peternakan mereka. Karenanya, Caritas Nepal telah mengembangkan program Integrated Pest Management (PHT) untuk membantu petani miskin dengan lahan dalam jumlah kecil.

Pastor K.B. Bogati, Direktur Eksekutif Caritas Nepal, mengatakan keberhasilan besar dicapai melalui program PHT.

Bekerja di 35 kabupaten, Pastor Bogati mengatakan program PHT “telah mencapai akar rumput secara langsung” dan mengangkat setidaknya 15.000 petani petani kecil dan keluarga mereka di seluruh negeri dalam 15 tahun terakhir.

Memperbaiki kehidupan

Caritas telah berupaya memperbaiki kehidupan 25.000 orang melalui 120 komunitas- berbasis koperasi. Pengembangan koperasi Caritas dan proyek dukungan untuk perusahaan mikro di setidaknya 142 lokasi masyarakat dimana lebih dari 70 persen rumah tangga hidup di bawah garis kemiskinan.

Karamkashi Chaudhari, ibu tiga anak dari Lembah Dang di Nepal Barat adalah satu contoh. Selama 10 bulan, keluarga lima orang ini hampir tidak mampu mengonsumsi makanan yang cukup. Penghasilan Chaudhari dari kerja lepas di sebuah pabrik batu bata di kota terdekat tidak memadai.

Caritas memberikan pelatihan jangka pendek dengan memberikan kursus praktik pertanian berkelanjutan dan berkebun sayuran. Dia mendaftarkan diri untuk sekolah pertanian untuk jangka panjang.

“Saya tidak tahu semuanya bisa berjalan begitu sederhana, yang Anda butuhkan ada di sini, yang Anda butuhkan hanyalah pelatihan dan kerja keras. Segala sesuatu akan sesuai dengan anugerah Tuhan,” kata Chaudhari sambil tersenyum.

Kepala program, Manindra Malla, mengatakan bahwa Caritas sejauh ini telah melakukan lebih dari 1.000 sekolah lapangan untuk petani kecil di seluruh negeri.

Berdasarkan sebuah proyek percontohan yang sukses di tahun 2004, Caritas Nepal memperluas program PHT awal di seluruh negeri. Menurut sebuah laporan Caritas, sejak program dimulai, telah terjadi peningkatan hasil padi dan sayuran dari 30 persen menjadi 100 persen, tergantung pada lokasinya.

Melalui program teknis dan dukungan hibah, Caritas telah memotivasi orang untuk terus bertani walaupun mereka hanya memiliki sedikit tanah saja.

Ketika Chaudhari mulai menerapkan praktik PHT di lahan seluas 0,1 hektar, dia segera melihat peningkatan produksi. Dengan uang yang dia hasilkan dari penjualan produksinya, dia secara bertahap menyewakan lahan pertanian yang lebih luas.

“Awalnya saya tidak memiliki lahan yang cukup, sekarang saya berhasil menyewa lahan pertanian komersial dengan satu hektar, saya mendapatkan setidaknya setengah juta rupee (sekitar US $ 5.000) dalam satu musim,” katanya.

Kehidupan Chaudhari dan keluarganya telah berubah. Anak sulungnya bekerja sementara dua lainnya belajar. Akhirnya, suami Chaudhari berhenti bekerja di pabrik batu bata dan bekerja keras di ladang bersama istrinya.

Koperasi pendukung

Kalicharan Tharu, seorang nelayan berusia 31 tahun di Bardiya adalah salah satu anggota koperasi desa yang paling sukses dan terkemuka. Melalui Koperasi Petani Ikan Kalpabrikchya, Kalicharan telah meningkatkan produktivitas budidaya ikannya yang kecil, berkembang setiap tahunnya.

Dalam tiga tahun terakhir, dia mendapatkan lebih dari satu juta rupee Nepal dan ia menargetkan untuk mendapatkan setengah juta tahun ini.

Inti dari program Caritas adalah ketentuan hukum yang mengakui koperasi sebagai 100 persen organisasi milik rakyat yang dapat mengembangkan inisiatif untuk mewujudkan perubahan sosial dan ekonomi di daerah pedesaan.

Koperasi meningkatkan keuangan dari anggotanya dan memberikan interaksi ekonomi seperti pinjaman yang mudah, tabungan, dana bergulir dan saham. Keuangan dan proyek dikelola dengan tujuan untuk menangani “kepentingan umum” masyarakat.

“Dukungan Caritas Nepal telah mengubah hidup saya dengan cara yang menakjubkan, saya berencana untuk memperluas peternakan ikan saya dalam skala yang lebih besar lagi,” kata Tharu.

Koperasi Caritas mendukung kerja keadilan sosial dan advokasi untuk kelompok masyarakat. Mereka menyediakan sebuah platform untuk memperbaiki hak-hak perempuan, anak-anak dan petani kecil di tingkat kabupaten, regional dan nasional.

Dilli Ram Sharma, Direktur Kementerian Pertanian, memahami bahwa sulit bagi pemerintah Nepal untuk bekerja sendiri. Dia memutuskan untuk melibatkan organisasi non-pemerintah dalam program tersebut.

Caritas adalah anggota komite koordinasi nasional PHT pemerintah yang melakukan pemantauan dan perencanaan program PHT di negara ini. “Caritas Nepal telah beroperasi di bawah prinsip panduan kami yang memastikan kita mencapai standar yang tinggi,” katanya.

“Caritas adalah satu-satunya organisasi yang telah menjaga keteraturan dan meraih kesuksesan sejak awal,” tambahnya.

ucanews.com

 

 




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Delegasi India ingin berbagi pengalaman iman di AYD Yogyakarta
  2. Surat Dari Roma: Pemecatan prefek Kongregasi Ajaran Iman
  3. Aktivis kecam Jokowi terkait perintah menembak penyelundup norkoba
  4. PM Singapura ingatkan ancaman kelompok ekstrimis
  5. Warga Timor-Leste inginkan koalisi pemerintahan yang pro-rakyat
  6. Kardinal Zen kritik pengadilan yang mendiskualifikasi anggota parlemen
  7. Pendukung Mgr Hubertus Leteng meminta umat membela uskup
  8. Paus sumbang €25.000 untuk membantu warga di Afrika Timur
  9. Setelah kelompok teroris, ini target serangan Duterte berikutnya
  10. India memberikan pelatihan bagi jutaan PRT
  1. Setuju Aurel....Gereja semestinya menjadi teladan dalam transparansi dan akuntab...
    Said puji astuti on 2017-07-26 15:28:50
  2. Biarin aja dah bapak pastor terhormat. Gk usa ikut campur. Langakh yang bagus ka...
    Said Narfin on 2017-07-26 15:12:19
  3. Sebagai awam Katolik saya sangat prihati dengan kemelut yang tengah terjadi di ...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-07-26 07:00:27
  4. Syalom, semua saudara. Tolong baca baik-baik, Pal Alex Marwata tidak mengatakan ...
    Said Aurel on 2017-07-24 16:04:09
  5. KPK ingin audit Gereja ? Gak salah, ada udang dibalik batu, ada unsur politik bs...
    Said Bonbon on 2017-07-23 21:19:37
  6. KPK tentunya tak berwenang mengaudit keuangan lembaga agama seperti gereja karen...
    Said Willy Nggadas on 2017-07-23 16:22:59
  7. Apapun undang-undangnya, soal perbuatan baik dalam hal ini gereja bebas korupsi...
    Said Alexander on 2017-07-23 07:02:14
  8. Good morning...
    Said Bienvenhu on 2017-07-23 05:19:23
  9. Pandangan yg rasional bila keterbukaan itu di mulai dari Gereja Katolik seperti ...
    Said Matias on 2017-07-22 21:51:12
  10. Sudah saatnya gereja accountable. https://www.naulinovation.com:8443/onebody/...
    Said Leonard on 2017-07-22 17:15:48
UCAN India Books Online