Pastor dan aktivis Papua ajukan judicial review atas pasal makar

14/07/2017

Pastor dan aktivis Papua ajukan judicial review atas pasal makar thumbnail

Polisi menahan demonstran Papua dalam sebuah aksi protes di Jakarta. Aktivis mengatakan tuduhan pengkhianatan sering diarahkan kepada orang Papua yang melakukan demonstrasi menentang pelanggaran hak asasi manusia dan meminta layanan sosial dasar. (Romeo Gacad / AFP)

Romo John Djonga dan sejumlah aktivis hak asasi manusia telah mengajukan judicial review atas pasal dalam undang-undang yang berkaitan dengan makar ke Mahkamah Konstitusi.

Mereka mengatakan hak kebebasan berekspresi dikekang oleh pihak berwenang dengan melemparkan tuduhan pengkhianatan atau makar terhadap orang-orang yang bahkan hanya ikut mengambil bagian dalam demonstrasi damai.

Para aktivis menginginkan agar pengadilan mengklarifikasi ketentuan dalam undang-undang yang membenarkan tuduhan tersebut dan apakah itu konstitusional.

Undang-undang tersebut digunakan sebagai alat oleh pemerintah untuk menekan suara orang-orang Papua yang melakukan demonstrasi menentang ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia, kata Pastor John Djonga.

“Orang-orang Papua biasa melakukan demonstrasi untuk memprotes pelanggaran oleh aparat negara, juga kurangnya layanan kesehatan dan pendidikan, namun kemudian mereka ditangkap dan dikenai tuduhan makar,” katanya kepada ucanews.com pada 13 Juli.

Pengacara Yusman Conoras yang mendamping mereka mengatakan pemerintah menerapkan undang-undang tersebut dengan cara yang sangat diskriminatif.

“Di Jakarta, setiap hari ada orang yang berdemonstrasi dan perlakukan biasa saja. Namun, jika di Papua orang mengadakan demonstrasi, mereka dianggap separatis,” katanya.

Tindakan-tindakan yang terlalu represif berbahaya karena memicu dan mendorong kebencian, katanya.

Menurut Setara Institute for Democracy and Peace, 2.214 warga sipil dan 489 aktivis politik di Papua menjadi korban pelanggaran hak asasi manusia tahun lalu, banyak di antaranya ditangkap saat demonstrasi.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Delegasi India ingin berbagi pengalaman iman di AYD Yogyakarta
  2. Surat Dari Roma: Pemecatan prefek Kongregasi Ajaran Iman
  3. Aktivis kecam Jokowi terkait perintah menembak penyelundup norkoba
  4. PM Singapura ingatkan ancaman kelompok ekstrimis
  5. Warga Timor-Leste inginkan koalisi pemerintahan yang pro-rakyat
  6. Kardinal Zen kritik pengadilan yang mendiskualifikasi anggota parlemen
  7. Pendukung Mgr Hubertus Leteng meminta umat membela uskup
  8. Paus sumbang €25.000 untuk membantu warga di Afrika Timur
  9. Setelah kelompok teroris, ini target serangan Duterte berikutnya
  10. India memberikan pelatihan bagi jutaan PRT
  1. Setuju Aurel....Gereja semestinya menjadi teladan dalam transparansi dan akuntab...
    Said puji astuti on 2017-07-26 15:28:50
  2. Biarin aja dah bapak pastor terhormat. Gk usa ikut campur. Langakh yang bagus ka...
    Said Narfin on 2017-07-26 15:12:19
  3. Sebagai awam Katolik saya sangat prihati dengan kemelut yang tengah terjadi di ...
    Said Bernardus Wato Ole on 2017-07-26 07:00:27
  4. Syalom, semua saudara. Tolong baca baik-baik, Pal Alex Marwata tidak mengatakan ...
    Said Aurel on 2017-07-24 16:04:09
  5. KPK ingin audit Gereja ? Gak salah, ada udang dibalik batu, ada unsur politik bs...
    Said Bonbon on 2017-07-23 21:19:37
  6. KPK tentunya tak berwenang mengaudit keuangan lembaga agama seperti gereja karen...
    Said Willy Nggadas on 2017-07-23 16:22:59
  7. Apapun undang-undangnya, soal perbuatan baik dalam hal ini gereja bebas korupsi...
    Said Alexander on 2017-07-23 07:02:14
  8. Good morning...
    Said Bienvenhu on 2017-07-23 05:19:23
  9. Pandangan yg rasional bila keterbukaan itu di mulai dari Gereja Katolik seperti ...
    Said Matias on 2017-07-22 21:51:12
  10. Sudah saatnya gereja accountable. https://www.naulinovation.com:8443/onebody/...
    Said Leonard on 2017-07-22 17:15:48
UCAN India Books Online