UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Aktivis Indonesia Termasuk Penerima Ramon Magsaysay Award

Juli 28, 2017

Aktivis Indonesia Termasuk Penerima Ramon Magsaysay Award

Aktivis Indonesia, Abdon Nababan, menjadi salah satu penerima Ramon Magsaysay Award tahun 2017 atas dedikasinya bagi warga adat di Indonesia

Seorang aktivis hak-hak masyarakat suku Indonesia menjadi salah satu pemenang Ramon Magsaysay Award tahun ini, yang dianggap setara dengan Hadiah Nobel Asia.

Aktivis lainnya adalah seorang wanita Sri Lanka yang telah membantu korban perang saudara, dan seorang pria Jepang yang bekerja untuk pelestarian Angkor Wat di Kamboja termasuk.

Abdon Nababan, aktivis Indonesia, dikenal karena keberanian dan pengorbanannya untuk advokasi demi memberikan suara dan wajah kepada komunitas masyarakat pribumi di Indonesia. Abdon telah melakukan pekerjaan besar yang memiliki dampak yang luas pada kehidupan jutaan orang Indonesia.

Gethsie Shanmugam dari Sri Lanka dikenal karena belas kasih dan keberaniannya bekerja dalam kondisi ekstrim untuk membangun kembali kehidupan yang telah hancur karena perang dan untuk upayanya yang tak kenal lelah dalam membangun kapasitas Sri Lanka. Ia memberikan dukungan psikososial, yang mengilhami kemanusiaan, merawat perempuan dan anak korban perang.

Yoshiaki Ishizawa dari Jepang menerima penghargaan karena tanpa pamrih memberikan pelayanan yang teguh kepada orang-orang Kamboja. Kepemimpinannya yang inspiratif dalam memberdayakan orang Kamboja untuk menjadi penjaga kebanggaan warisan mereka, dan kebijaksanaannya untuk mengingatkan kita semua bahwa monumen budaya seperti Angkor Wat adalah harta bersama yang kelestariannya menjadi tanggung jawab bersama kita semua.”

Dari Filipina, Lilia de Lima diakui karena kepemimpinannya yang terus-menerus dan berkelanjutan dalam membangun zona ekonomi yang kredibel dan efisien, membuktikan bahwa pegawai negeri yang jujur, kompeten dan berdedikasi dapat membawa keuntungan ekonomi riil bagi jutaan orang Filipina.

Penghargaan juga diberikan kepada Tony Tay dari Singapura atas dedikasinya untuk berbagi makanan dengan orang lain. Pengaruhnya menginspirasi orang lain sehingga memperbesar kebaikan sederhana ini menjadi gerakan kolektif, inklusif, sebuah gerakan sukarela untuk memilihara kehidupan banyak orang di Singapura.

Penerima penghargaan tahun ini juga adalah Asosiasi Teater Pendidikan Filipina atas keberanian dan kontribusi kolektif dalam membentuk seni teater sebagai kekuatan untuk perubahan sosial, kerja keras yang tak tergoyahkan dalam memberdayakan masyarakat. Ia menjadi salah satu organisasi terkemuka di Asia yang memberikan contoh yang baik.

Didirikan pada tahun 1957, Ramon Magsaysay Award adalah penghargaan tertinggi Asia yang ditujukan untuk memperingati kepemimpinan presiden Filipina ketiga yang menjadi nama penghargaan ini. Penghargaan ini diberikan setiap tahun kepada individu atau organisasi di Asia yang mewujudkan “pelayanan tanpa pamrih dan pengaruh transformatif.”

Carmencita Abella, presiden Yayasan Ramon Magsaysay Award, mengatakan bahwa penerima penghargaan tahun ini semuanya mengubah masyarakat mereka melalui komitmen nyata  untuk kebaikan yang lebih besar.

“Masing-masing telah memecahkan masalah yang nyata dan kompleks, mengambil tindakan berani dan inovatif yang telah melibatkan orang lain untuk melakukan hal yang sama,” kata Abella.

“Hasil kepemimpinan mereka terasa, menghasilkan keberhasilan individu dan harapan kolektif,” kata Abella dalam sebuah pernyataan.

“Semua tidak takut untuk menghadapi banyak masalah, semuanya menolak menyerah, meski memiliki sumber daya yang terbatas, kesulitan yang berat dan penolakan yang kuat,” tambahnya.

Keenam penerima penghargaan tersebut akan bergabung dalam komunitas 318 orang pemenang lainnya yang telah menerima penghargaan tertinggi Asia sampai saat ini.
Pemenang tahun ini masing-masing akan menerima sertifikat, sebuah medali yang bergambar mirip dengan mendiang presiden Magsaysay, dan hadiah uang tunai. Mereka akan diberi penghargaan secara formal pada upacara presentasi formal di Manila pada 31 Agustus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi