UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Polisi Belum Berhasil Mengungkap Pembunuh Pendeta India

Juli 28, 2017

Polisi Belum Berhasil Mengungkap Pembunuh Pendeta India

Anggota organisasi HAM Akhil Bhartiya menyalakan lilin pada 21 Juli di distrik Amritsar, Punjab, setelah pembunuhan pendeta Sultan Masih, 15 Juli. (IANS)

Hampir dua minggu setelah seorang pendeta ditembak mati di negara bagian Punjab, India utara, polisi belum melakukan penangkapan atas pembunuhan yang oleh seorang pemimpin gereja dicurigai bermotif politik.

Dua orang bertopeng dengan sepeda motor menembak mati pastor Sultan Masih dari  neo-Christian Temple of God Church  di kota Ludhiana pada tanggal 15 Juli, kata polisi.  Dia dinyatakan meninggal saat dibawa ke rumah sakit setempat.

“Penyelidikan sedang berlangsung. Kami belum menyelesaikan kasus ini,” lanjut perwira polisi Amandeep Singh, yang memimpin penyelidikan itu kepada ucanews.com pada 25 Juli. Singh mengatakan kecuali jika penjahat tersebut diidentifikasi dan polisi belum menangkap pembunuh karena itu tidak dapat berbicara mengenai motif pembunuhan.

Komisi Minoritas Negara Bagian Punjab dan pejabat gereja dari Keuskupan Jalandhar menolak untuk menghubungkan pembunuhan itu dengan kekerasan yang dilakukan oleh umat Hindu garis keras di bagian lain negara itu.

Pastor Peter Kavumpuram dari Keuskupan Jalandhar mengatakan bahwa komunitas Kristen di distrik ini memiliki hubungan yang sangat baik dengan komunitas mayoritas Sikh dan minoritas Hindu yang menjadi mayoritas di negara bagian lain.

“Kami orang Kristen tidak pernah memiliki masalah terkait ekstremisme agama di sini,” kata Pastor Kavumpuram kepada ucanews.com.

Sekitar 350.000 orang Kristen membentuk 1,2 persen dari 27 juta penduduk Punjab yang 58 persennya adalah orang Sikh. Hindu mencapai 39 persen.

Philip Christy, pemimpin Front Minoritas Kristen India, mengatakan kepada ucanews.com bahwa pembunuhan itu telah “membuat orang-orang Kristen takut di daerah ini.”

Christy mengesampingkan “permusuhan pribadi” sebagai motif pembunuhan. “Orang mungkin tidak mendapat ancaman tapi situasinya tidak bagus untuk di daerah ini,” katanya.

Ketua Komisi Minoritas Munawar Masih mengatakan kepada ucanews.com bahwa mereka belum menerima laporan tentang “ancaman atau pelecehan” terhadap komunitas Kristen di Punjab.

Masih, seorang Kristen, mengatakan bahwa anggota komisi telah bertemu dengan pastor di distrik itu dan berjanji membantu mereka.

“Kami meminta Pastor untuk menjalani hidup mereka dan mengikuti keyakinan mereka dengan kebebasan penuh di negara bagian ini dan jika mereka menghadapi ancaman atau ketakutan, mereka harus melapor kepada kami, kami akan bertindak,” katanya.
‘Terkait secara politis’

Pastor Kavumpuram dari Keuskupan Jalandhar mengatakan bahwa pejabat gereja dan beberapa pemimpin politik mencurigai “ada motif politik” di balik pembunuhan itu yang bertujuan menciptakan gangguan berbasis agama untuk menghancurkan pemerintahan saat ini.

Partai Kongres oposisi mulai berkuasa di Punjab Maret lalu, membuat negara itu berada di bawah lima partai yang dipimpin Kongres. Di sebagian besar di 29 negara bagian India Partai Bharatiya Janata pro-Hindu (BJP) atau koalisi dengan partai itu.

Partai Aam Admi (orang biasa), yang memerintah negara bagian Delhi, melakukan terobosan besar di Punjab selama pemilihan negara bagian awal bulan ini, namun gagal untuk berkuasa.

“Kami memiliki alasan untuk menduga pembunuhan itu memiliki sudut politik,” kata Pastor Kavumpuram. Imam itu mengatakan bahwa setahun yang lalu seorang pemimpin Hindu juga ditembak mati namun polisi tidak dapat melacak para pembunuh.

Sebagai tanggapan atas pembunuhan terakhir, menteri utama negara bagian Kapten Amarinder Singh telah meminta polisi untuk melakukan tindakan tegas terhadap orang-orang yang berusaha memicu ketegangan sektarian di negara bagian mayoritas Sikh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi