Surat Dari Roma: Menyiapkan Landasan Bagi Desentraliasi Gereja

31/07/2017

Surat Dari Roma: Menyiapkan Landasan Bagi Desentraliasi Gereja thumbnail

Paus Fransiskus menyapa para kardinal saat audiensi mingguan di Basilika St Petrus Vatikan, 28 Juni. (Vincenzo Pinto/AFP)

Sekitar lima tahun yang lalu saya diundang untuk berbicara di City Club of Cleveland, Ohio.

“Sejak 1912, City Club telah menjadi salah satu forum non-partisan tertua (Amerika Serikat) dan terus menyelenggarakan forum kebebasan berekespresi,” kata situs web organisasi tersebut.

Topik pembicaraan saya waktu itu tentang kejatuan Vatikan dan, sebagai akibatnya, keruntuhan bertahap dari struktur pemerintahan monarki dan pelayanan Gereja Katolik.

Saya berpendapat bahwa sebagai monarki absolut terakhir di Barat (dan juga dunia), organisasi Gereja Roma telah menjadi anakronisme. Hal ini masuk akal ketika monarki menjadi ciri mendasar masyarakat manusia. Tapi tidak lagi.

Model struktur Gereja Katolik yang sudah ketinggalan jaman ini tidak lagi menampung realitas pengalaman hidup orang beriman, yang mayoritas tinggal di masyarakat yang dalam beragam tingkatan menjadi masyarakat yang semakin partisipatif dan demokratis.

Sebuah gereja di mana keputusan yang paling penting dibuat hampir secara eksklusif oleh pria selibat, dan di mana para uskup hanya memiliki sedikit atau tidak ada tanggungjawab, tidak dapat dipertahankan di dunia di mana masyarakat patriarkal dan monarkis – yang secara enggan, namun pasti – menyerahkan hak dan kewajiban pada mereka yang bukan bagian dari bangsawan, pastor, atau satu gender tertentu.

Pembicaraan saya di bulan November 2012 terjadi ketika terjadi Skandal VatiLeaks. Selama lebih dari setahun, bocornya dokumen-dokumen sensitif Vatikan dan surat-surat rahasia Benediktus XVI telah menyebabkan rasa malu yang mendalam bagi paus asal Jerman yang masih berkuasa dan pembantu utamanya – terutama Kardinal Tarcisio Bertone SDB, yang saat itu menjabat Sekretaris Negara.

Waktu itu sangat berantakan. Dan hari ini orang bisa melihat ke belakang dan berkata: “Tentu, mudah saja bagi seseorang untuk memata-matai tentang kejatuhan Vatikan.”

Memang, sejak itu beberapa orang sudah mengatakan kepada saya bahwa pemilihan Paus Fransiskus telah mengungkapkan bahwa analisis saya tidak berdasar.

Tapi hampir setengah dekade kemudian, saya yakin bahwa tesis debat pada pagi bulan November di Cleveland itu masih berlaku. Karena tidak didasarkan pada apa yang sudah atau tidak terjadi dalam kepausan Benediktus.

Meskipun kairos – momen spesial dan campur tangan ilahi – yang dipercaya oleh sejumlah besar umat Katolik percaya setelah pemilihan paus Yesuit yang pertama, Gereja Katolik terus berkembang.

Sebenarnya, dalam beberapa hal, Fransiskus tampaknya dengan sengaja mempercepat kejatuhan yang tak terelakkan dengan menerapkan prinsip dan metode yang diuraikan dalam Evangelii Gaudium (EG), visi, dan cetak biru untuk pembaharuan dan reformasi Gereja.

Biar lebih jelas, kita tidak sedang berbicara tentang kematian Gereja Katolik. Tuhan tidak mati dan Roh Kudus tidak akan pernah meninggalkan orang-orang yang setia pada Kristus. Ini yang kita semua percaya.

Tidak, ini tentang runtuhnya struktur pemerintahan dan organisasi yang sekarang, yang terus mencerminkan ciri-ciri tertentu dari Kekaisaran Romawi, lebih dari sekedar mencerminkan model organisasi kehidupan gerejani yang ditemukan dalam Perjanjian Baru atau dialami pada beberapa abad pertama kehidupan Gereja Kristen.

Fransisksus secara efektif meletakkan dasar bagi “dekonstruksi” model saat ini dengan secara sabar menanamkan benih-benih untuk perubahan struktural Gereja, dengan “membaptis” dan menggunakan empat prinsip utama sosiologi (EG 222-237):

– Waktu lebih besar dari ruang
– Kesatuan mengalahkan konflik
– Realitas lebih penting daripada gagasan
– Keseluruhan lebih besar dari bagian

Tujuan utama paus adalah membuat struktur dan mentalitas gereja lebih mencerminkan Injil dan pribadi Yesus Kristus dan untuk membebaskannya dari sistem peraturan yang terkodifikasi dan gagasan filosofis yang masih sangat berakar pada budaya Yunani-Romawi kuno.

Melalui proses sinode, dia membuka ruang untuk dialog dan diskusi yang melibatkan semua Umat Suci Allah dan bukan hanya para pria yang tertahbiskan. Dia tidak mendemokratisasikan Gereja, tapi dia menciptakan sebuah forum besar dan sangat diperlukan untuk semua suara didengarkan melalui penegasan bersama, sebuah proses yang klasik tapi seringkali dilupakan.

Proses ini masih masih muda – dan bagi banyak orang menakutkan- yang dihidupkan kembali dengan persiapan untuk dua pertemuan terakhir Sinode para Uskup tentang pernikahan dan keluarga di mana semua orang Katolik mendapat kesempatan untuk menyampaikan pandangan mereka agar diketahui oleh para gembala gereja tersebut.

Proses penegasan ini telah diperluas lebih jauh menjelang sesi Sinode berikutnya, yang akan diadakan pada musim gugur tahun 2018 untuk merefleksikan orang muda, panggilan, dan iman. Paus sudah memerintahkan agar sebuah survei dibuat secara on-line dimana semua kaum muda – bahkan orang-orang non-Katolik – dapat berbagi harapan dan keprihatinan mereka.

Fransiskus juga mulai meletakkan fondasi untuk desentralisasi Gereja dengan memulihkan wewenang para uskup setempat atau konferensi para uskup regional yang sebenarnya, yang selama berabad-abad telah diambil dari mereka dan diberikan ke kantor-kantor di Kuria Roma.

Misalnya, dia melakukan ini dengan menyederhanakan proses pembatalan pernikahan dan memberikan wewenang pengadilan yang hampir eksklusif kepada keuskupan masing-masing.

Dan dilaporkan bahwa paus juga mempertimbangkan untuk mengadakan Sinode khusus untuk para uskup di wilayah Amazon, yang akan memungkinkan mereka untuk memikirkan solusi pastoral (dan doktrinal) untuk masalah mendesak di wilayah mereka.

Salah satunya, meski bukan hanya masalah bagi Amazon, adalah kurangnya imam yang ditahbiskan. Fransiskus telah mengindikasikan bahwa dia akan memberi wewenang kepada uskup untuk menahbiskan pria yang sudah menikah ke imamat (yaitu mengembalikan tradisi kuno klerus yang sudah menikah) jika mereka menganggap ini yang bisa dilakukan ke depan. Hal ini, pada gilirannya, dapat memberi keberanian kepada para uskup di daerah lain untuk secara serius mempertimbangkan langkah serupa.

Tampaknya semakin jelas bahwa paus berusia 80 tahun itu menyukai kemungkinan para imam yang sudah menikah, setidaknya dalam keadaan tertentu. Satu hal yang pasti, dia yakin ini adalah keputusan yang harus dilakukan oleh para uskup (setidaknya di wilayah tertentu), bukan hanya dia dan kolaboratornya di Roma.

Sebuah perkembangan penting berkaitan dengan ini terjadi pada pertengahan Juni dalam putaran terakhir perundingan mengenai reformasi Vatikan yang diadakan Fransiskus dengan penasihatnya Dewan Kardinal (C9).

Diumumkan bahwa C9 mengusulkan kemungkinan untuk mengizinkan konferensi waligereja nasional, yang sekarang dipegang oleh Kongregasi untuk Klerus, untuk memutuskan apakah perlu atau tidak untuk menahbiskan seorang diakon permanen yang tidak menikah atau yang pasangannya meninggal untuk menjadi imam atau mengizinkan diakon yang pasangannya meninggal untuk menikahi kembali.

Usulan tersebut merupakan langkah awal untuk membuka ruang kecil bagi para uskup sebuah negara atau wilayah untuk memutuskan, tanpa memerlukan persetujuan Vatikan, mengenai dispensasi atas pembatasan tertentu saat ini tentang tahbisan imamat. Ini akan memakan waktu, tapi menjadi awal yang bisa mengarah pada perkembangan lebih lanjut. Prinsipnya ada disana.

Dan jika keseluruhan lebih besar daripada bagian-bagiannya, gereja tidak akan terpecah jika satu bagian darinya harus memutuskan untuk menghidupkan kembali tradisi kuno di mana para imam menikah – atau menahbiskan para diakon wanita atau menemukan solusi pastoral / doktrinal lainnya untuk masalah tertentu.

Masalah yang paling penting adalah bahwa solusi-solusi “kreatif” ini, sebagaimana paus suka menyebutnya, tidak menyimpang dari kerygma – yang menjadi inti dari iman Kristen.

Ironisnya, bukti terbesar bahwa gereja terus menunjukkan gejala keruntuhan adalah oposisi diam dan tidak-begitu-diam terhadap visi reformasi Fransiskus yang ditemukan di kalangan para imam, “baik yang tinggi maupun yang rendah”, seperti disebutkan dalam artikel baru-baru ini di L’Osservatore Romano.

Ini ironis karena para imam dan uskup yang menentang seruan paus Yesuit ini untuk perubahan pastoral dan pertobatan percaya bahwa mereka adalah benteng stabilitas gereja.

Mereka percaya bahwa mereka, dan hanya mereka, dapat menghentikan penggalan dan potongan struktur anakronistik ini dari kejatuhan hanya dengan kepatuhan secara kaku pada norma moral dan rubrik liturgis, sebuah obsesi untuk mengendalikan dan mengatur umat Kristus dan desakan bahwa hanya yang tertahbiskan saja yang dapat memutuskan keteraturan kehidupan gerejani.

Mereka juga mempercepat keruntuhan itu. Dan, dengan cara yang paradoks, mereka mungkin bisa membantu Paus Fransiskus lebih dari yang bisa dibayangkan.

Lagi pula, ini permainan yang panjang. Dan, pada akhirnya, waktu lebih besar dari ruang.

Robert Mickens, Vatikan

2 Comments on "Surat Dari Roma: Menyiapkan Landasan Bagi Desentraliasi Gereja"

  1. Jenny Marisa on Wed, 2nd Aug 2017 9:33 am 

    Harus ada yang mulai membawa perubahan yang sulit ini.. dan Paus Fransiskus yang sanggup.. Semoga tidak “meruntuhkan” gereja.. Para umat awam tentu tidak bisa melihat sejauh itu..

  2. Agustinus Agus Subiyanto, S.S,B.Th on Wed, 2nd Aug 2017 2:58 pm 

    Bapa Paus Fransiskus membawa banyak pembaharuan dalam tubuh Gereja Katolik. Saya bersyukur atas apa yang dilakukan oleh Bapa Suci ini.
    Mengenai semakin kurangnya imam, menurut saya, disebabkan oleh para imam yang kurang setia dan kurang konsisten dalam menjalani panggilannya sebagai imam. Mereka tidak bisa menampilkan dirinya sebagai seorang yang menghayati imamatnya, yang seharusnya bisa menampilkan dirinya lebih suci, lebih ramah, lebih sederhana, lebih bijaksana. Kini banyak imam justru menampilkan dirinya hidup dalam kemewahan, glamour dan seolah-olah ada rivalitas antar imam. Kondisi seperti ini tentu menjadi pemandangan yang tidak menarik bagi umat, dan bagi kaum muda khususnya untuk memberanikan diri menjadi imam-Nya.
    Saya menyarankan agar Bapa Suci sungguh-sungguh mengajak para imam untuk lebih keras lagi menghayati panggilannya sebagai imam.




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup Militer Ajak Anggota TNI/POLRI Katolik Wujudkan Nilai-nilai Kristen
  2. Uskup: Rencana Keterlibatan Amerika Memperburuk Konflik Mindanao
  3. Uskup Korea Mendorong Pihak yang Bertikai Menahan Diri
  4. Renungan Hari Minggu XX Tahun A – 20 Agustus 2017
  5. Caritas Memberi Bantuan kepada Korban Banjir
  6. Timor-Leste Berjuang Membentuk Pemerintahan Baru
  7. Demo Menuntut Keadilan bagi Papua Berujung Penangkapan
  8. PBB Berlaku Tidak Adil Terhadap Pengungsi Kristen di Bangkok
  9. HUT RI Ke-72, Ormas Katolik Ajak Masyarakat Mengamalkan Pancasila
  10. Gereja dan Aktivis Indonesia Prihatin dengan PRT di Bawah Umur
  1. Saya ingin dapatkan versi Bahasa Indonesia buku panduan Legionis Maria( Legion o...
    Said Maria Ithaya Rasan on 2017-08-15 14:22:31
  2. Visitator Apostolik itu tugasnya adalah mengunjungi pihak-pihak yang dianggap me...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-14 11:40:48
  3. Ada asap PASTI karna ada api... Tontonlah film 'Spotlight' yg brdasarkn kisah n...
    Said RESI Kurniajaya on 2017-08-12 22:38:30
  4. Teman-teman saudara-saudariku yang ada di dan berasal dari Keuskupan Ruteng. Saa...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-12 15:12:04
  5. Berita menggembirakan, shg para imam tak memberi eks komunikasi bagi yang berce...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 20:10:43
  6. Permasalahan di Keuskupan Ruteng sampai mencuat seperti ini, tentu tidak main ma...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 16:19:26
  7. Keberadaan uskup bukan seperti presiden hingga kepala desa, yang dilakukan melal...
    Said aloysius on 2017-08-11 10:53:19
  8. sebaiknya umat bersabar dan berdoa agar kemelut ini segera berakhir. kendatipun...
    Said yohanes on 2017-08-11 10:21:16
  9. Pembuktian kebenaran jika ada proses pengadilan/tribunal. Sebagai pemimpin Gerej...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-11 06:54:24
  10. Umat Katholik dimana saja. Jangan bicara tentang uang di Gereja yang anda telah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-11 06:48:21
UCAN India Books Online