Umat Katolik di Maluku Mengenang 75 Tahun Pengorbanan Misionaris MSC

03/08/2017

Umat Katolik di Maluku Mengenang 75 Tahun Pengorbanan Misionaris MSC thumbnail

Umat Katolik menghadiri Misa dalam rangka mengenang Misionaris MSC yang dibunuh tahun 1942 oleh tentara Jepang di Langgur, Keuskupan Amboina. (Foto:P. Yohanis Mangkey, MSC)

Umat Katolik di Maluku Tenggara, membuat upacara khusus  akhir pekan lalu untuk mengenang para misionaris Belanda yang dibunuh 75 tahun silam.

Mgr Johannes Aerts, Vikaris Apostolik Belanda New Guinea kala itu ditembak bersama lima pastor dan delapan bruder – semuanya dari kongregasi Misionaris Hati Kudus (MSC) -oleh tentara Jepang pada 30 Juli 1942 di Langgur, Key Kecil saat Perang Dunia II.

Acara penghormatan bagi para misionaris itu, dilakukan pada 28-30 Juli, dalam rangkaian acara, termasuk pentas seni yang melibatkan ribuan umat dari 13 paroki di wilayah Key.

Pastor Yohanis Mangkey MSC, sekertaris Provinsi MSC Indonesia mengatakan, pada tanggal 29 malam, diadakan prosesi salib di taman, di mana Mgr Aerts dikuburkan, juga upacara mengenang saat-saat terakhir mereka ditembak.

Salib itu, jelasnya, sebelumnya diarak di daerah Key selama sebulan, sebagai bagian dari proses refleksi memaknai pengorbanan diri Yesus Kristus yang diikuti oleh para misionaris itu.

Misa puncak, diadakan pada 30 Juli, yang dihadiri lebih dari 10 ribu umat dan dipimpin oleh Uskup Manado, Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC Rolly dan Uskup Timika, Mgr John Philip Saklil.

“Tidak hanya umat Katolik, umat agama lain, seperti Muslim dan Protestan ikut hadir,” katanya.

Pastor Mangkey menjelaskan, Uskup Aerts dan rekan-rekannya berjasa besar bagi perkembangan Kekatolikan di wilayah Maluku dan sebagian wilayah Papua.

Salah satu buah dari misi Mgr Aerts, kata dia, adalah Uskup John Saklil.

“Ayah dari Uskup Saklil adalah satu penginjil yang diutus Mgr Aerts ke Tanah Papua,” katanya.

Ia menambahkan, uskup itu juga memberi perhatian bagi dunia pendidikan, dengan membangun sekolah di daerah pelosok.

“Ia juga merintis Tarekat Maria Mediatrix (TMM) pada 1926, yang merupakan kongregasi para suster pribumi tertua di Indonesia,” katanya.

Usulan Menjadi Orang Kudus

Teladan hidup Mgr Aerts dan kawan-kawannya menginsipirasi umat Katolik di Maluku, demikian kata Pastor Mangkey.

Ia menjelaskan, Mgr Aerts telah menunjukkan semangat total sebagai gembala, dengan memilih bertahan di tanah misi, meskipun ia tahu, nyawa mereka terancam.

“Sebelum mereka ditembak, Belanda sebenarnya sudah meminta mereka untuk pindah ke Australia, karena Jepang sudah menguasai Indonesia,” katanya.

Namun, memilih bertahan, hingga akhirnya mereka ditembak.

“Saat itu, sebelum peluru menembus tubuh mereka, mereka meneriakkan kata-kata yang terus didengungkan hingga kini, ‘Untuk Kristus Raja kita, jadilah!’”.

Semangat kemartiran itu, kata dia, memunculkan harapan agar mereka diakui sebagai orang kudus oleh Tanta Suci.

Pada tahun 1952, menurut Pastor Mangkey, kongregasi MSC sudah pernah mengusulkan ke Vatikan agar para Mgr Aerts dan kawan-kawan diberi gelar orang kudus, namun tidak diketahui perkembangan prosesnya.

“Sekarang muncul lagi usulan untuk itu, terutama karena ada dorongan umat,” katanya.

Ia mengatakan, dalam konteks penghayatan iman, umat pada dasarnya mengakui mereka sebagai orang-orang suci.

Bagi Suster Margarethis Kelen, pimpinan Kongreasi TMM, Mgr Aerts adalah “pribadi istimewa”, karena “memiliki iman yang teguh akan penyelenggaraan Ilahi.”

“Iman kepada Allah inilah yang telah memberanikan Mgr Aerts dan kawan kawannya menyerahkan diri secara total dan radikal kepada Allah dan kehendak-Nya,” katanya.

Ia menjelaskan, merea menghayati sungguh akan apa yang dikatakan oleh Yesus, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikuti Aku.”

Suster Kelen menambahkan, Mgr. Aerts telah mewariskan kepada mereka teladan keberanian iman, semangat pengorbanan dan ketaatan kepada Kristus, yang juga terumus dalam motonya, Oportet illum regnare (Dialah yang berkuasa).

Petronella Safsafubun, 56, yang kakeknya adalah salah satu murid didikan Mgr Aerts mengatakan, dari sisi penghayatan iman, para misionaris itu mereka anggap sebagai martir, orang-orang kudus.

“Kami berharap, suatu saat mereka diakui sebagai santo oleh Vatikan,” ungkapnya.

“Yesus mengatakan, tidak ada kasih yang lebih besar, selain gembala yang menyerahkan nyawa untuk domba-dombanya. Para misionaris itu tentu mewujudkan sabda Yesus itu,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, begitu banyak umat yang berdoa di makam para martir ini jika menghadapi kesulitan.

“Kalau saya membutuhkan sesuatu dan saya datang berdoa di sini, maka doa itu tercapai,” kata Safsafubun yang mengimani bahwa Mgr Aerts betul-betul mendoakannya.

Ia menambahkan, sejarah pengorbanan para martir itu tidak bisa dilepaspisahkan dari sejarah umat Katolik di Maluku.

“Karena itu, kami sering mementaskan kembali kisah penembakan mereka, sebagai cara untuk mengenang kembali semangat kemartiran yang mereka tunjukkan,” katanya.

Sementara itu, Rm Berry Rahawarin, Vikaris  Jenderal Keuskupan Amboina mengatakan, pengorbanan Mgr Aerts dan misionaris lainnya adalah sebuah peristiwa yang sangat penting bagi kehidupan imam Katolik di keuskupan itu.

“Pengaruhnya begitu luar biasa bagi perkembangan iman umat. Spirit pengorbanan mereka sungguh-sungguh menginspirasi,” katanya.

“Itulah yang membuat momen untuk mengenang peristiwa penembakan mereka menjadi peristiwa yang selalu menggerakkan banyak umat untuk terlibat,” lanjutnya.

Ia mengatakan, keuskupan sudah membicarakan untuk mengajukan lagi usulan ke Vatikan proses beatifikasi mereka.

“Namun, tentu proses adminstratif itu juga membutuhkan syarat konkret, yakni, bagaimana umat secara spontan dan simultan terus berdoa agar harapan itu terwujud,” katanya.

“Keuskupan pada dasaranya terbuka untuk itu,” lanjut Rm Rahawarin. (Ryan Dagur)




Jangan lewatkan
Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini
Invite a Friend
  1. Uskup Militer Ajak Anggota TNI/POLRI Katolik Wujudkan Nilai-nilai Kristen
  2. Uskup: Rencana Keterlibatan Amerika Memperburuk Konflik Mindanao
  3. Uskup Korea Mendorong Pihak yang Bertikai Menahan Diri
  4. Renungan Hari Minggu XX Tahun A – 20 Agustus 2017
  5. Caritas Memberi Bantuan kepada Korban Banjir
  6. Timor-Leste Berjuang Membentuk Pemerintahan Baru
  7. Demo Menuntut Keadilan bagi Papua Berujung Penangkapan
  8. PBB Berlaku Tidak Adil Terhadap Pengungsi Kristen di Bangkok
  9. HUT RI Ke-72, Ormas Katolik Ajak Masyarakat Mengamalkan Pancasila
  10. Gereja dan Aktivis Indonesia Prihatin dengan PRT di Bawah Umur
  1. Saya ingin dapatkan versi Bahasa Indonesia buku panduan Legionis Maria( Legion o...
    Said Maria Ithaya Rasan on 2017-08-15 14:22:31
  2. Visitator Apostolik itu tugasnya adalah mengunjungi pihak-pihak yang dianggap me...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-14 11:40:48
  3. Ada asap PASTI karna ada api... Tontonlah film 'Spotlight' yg brdasarkn kisah n...
    Said RESI Kurniajaya on 2017-08-12 22:38:30
  4. Teman-teman saudara-saudariku yang ada di dan berasal dari Keuskupan Ruteng. Saa...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-12 15:12:04
  5. Berita menggembirakan, shg para imam tak memberi eks komunikasi bagi yang berce...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 20:10:43
  6. Permasalahan di Keuskupan Ruteng sampai mencuat seperti ini, tentu tidak main ma...
    Said Tono Tirta on 2017-08-11 16:19:26
  7. Keberadaan uskup bukan seperti presiden hingga kepala desa, yang dilakukan melal...
    Said aloysius on 2017-08-11 10:53:19
  8. sebaiknya umat bersabar dan berdoa agar kemelut ini segera berakhir. kendatipun...
    Said yohanes on 2017-08-11 10:21:16
  9. Pembuktian kebenaran jika ada proses pengadilan/tribunal. Sebagai pemimpin Gerej...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-11 06:54:24
  10. Umat Katholik dimana saja. Jangan bicara tentang uang di Gereja yang anda telah ...
    Said Matheus Krivo on 2017-08-11 06:48:21
UCAN India Books Online