UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pengalaman Peserta AYD Selama Mengikuti Live-in di Indonesia

Agustus 5, 2017

Pengalaman Peserta AYD Selama Mengikuti Live-in di Indonesia

Beberapa peserta Asian Youth Day ketika mengunjungi sebuah Sekolah Dasar Katolik di Jakarta. (ucanews.com)

Bagi Grace Nastiti, seorang wanita berusia 28 tahun dari Paroki St. Stefanus-Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, program live-in selalu memiliki cerita yang berbeda.

“Saya telah bergabung dengan program live-in beberapa kali. Tapi yang satu ini sangat berbeda karena kita berasal dari berbagai negara dan memiliki budaya yang berbeda,” katanya.

Nastiti, yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit setempat, berada di antara 31 orang Muda  Katolik  dari Asia Timur, Indonesia dan Filipina yang berpartisipasi dalam program live-in selama tiga hari yang diselenggarakan oleh Dekenat Jakarta Pusat Keuskupan Agung Jakarta dan dikoordinasi oleh  Paroki St. Paskalis  Cempaka Putih.

Program live-in merupakan acara pembukaan Hari Orang Muda Asia ke-7 (AYD), sebelum acara inti yang diadakan pada tanggal 2-6 Agustus di Yogyakarta. Program live-in dimulai 30 Juli dan diisi dengan sharing pengalaman dan paparan dari sekitar 2.000 delegasi dari 21 negara Asia yang tinggal dengan keluarga Katolik di delapan keuskupan agung dan sepuluh keuskupan lain di Indonesia, termasuk Keuskupan Bogor.

Selama program live-in, para peserta berkesempatan mengunjungi penjara, berbagai tempat ziarah, klinik, sekolah dan tempat tinggal orang miskin dan orang sakit yang dikelola oleh paroki tersebut.

“Program live-in benar-benar menakjubkan, saya belajar bagaimana melayani orang lain, membantu orang lain,” katanya.

Selain itu, tinggal bersama keluarga Katolik setempat seperti mimpi yang menjadi kenyataan, kata Nastiti.

“Orang tua saya telah berpisah dan menikah kembali, bahkan masuk Islam, jadi tinggal di keluarga yang begitu lengkap membuat saya gembira, ini menguatkan saya,” kata Nastiti, yang telah tinggal dengan bibinya yang Protestan sejak orang tuanya berpisah pada tahun 2000.

Satu-satunya tantangan adalah hambatan bahasa.

“Saya tinggal dengan peserta lain dari Asia Timur di rumah sebuah keluarga. Kami berdua tidak bisa berbahasa Inggris dengan baik, tapi kami tetap bisa berkomunikasi melalui bahasa tubuh,” kenangnya.

Dia berjanji untuk berbagi pengalamannya dengan orang muda lain di parokinya dan akan membuat tindakan nyata setelah kembali ke rumah.

“Ini adalah komitmen saya,” katanya.

John Kit Bello Estuya, seorang mahasiswa 23 tahun dari Filipina, mengikuti program live-in di Keuskupan Bogor, Jawa Barat. Ia terkesan dengan aktivitas penanaman pohon.

“Ini sejalan dengan ensiklik Paus Fransiskus ‘Laudato si ‘, yang berbicara tentang melindungi bumi. Sebagai orang muda, kita harus menerapkannya,” katanya.

Dalam Laudato si  yang dikeluarkan pada bulan Mei 2015, paus meminta tindakan cepat mengenai perubahan iklim, dan juga isu-isu lainnya.

Program live-in juga memperkaya iman Katoliknya.

“Ini membantu saya memperdalam kualitas hidup saya dan mendorong saya untuk membangun solidaritas dengan orang lain dari latar belakang agama yang berbeda dan untuk membawa kegembiraan kepada orang lain. Terlepas dari perbedaan kami, kami selalu senang menjadi saksi,” katanya.

Menurut Simon Lamakadu, koordinator di Paroki St. Paskalis Cempaka Putih, program live-in bertujuan untuk mendorong kaum muda untuk lebih memperhatikan semua ciptaan.

“Kami ingin mereka peduli dengan orang lain dan lingkungannya. Dengan cara yang konkret, kami ingin mereka terjun ke lapangan, untuk melihat situasi sebenarnya, dan kemudian melakukan sesuatu untuk melayani orang lain dan untuk melindungi alam,” katanya. .

“Seperti Yesus sendiri yang datang untuk melayani umat-Nya,” katanya.

Bersatu

Bagi Uskup Buenaventura Malayo Famadico dari San Pablo Filipina, program live-in mengajarkan orang muda untuk menerima perbedaan mereka.

“Ini adalah kesempatan bagi mereka untuk tinggal dalam keluarga. Ini penting, mereka juga belajar berhubungan dengan orang lain selain anggota keluarga mereka sendiri,” katanya.

Meski ada kendala bahasa, dia yakin kaum muda masih bisa bersatu. “Ini bukanlah penghalang. Apa yang akan terjadi kedepan adalah bahwa mereka memutuskan untuk bersatu,” katanya.

Berbicara atas nama Gubernur Djarot Saiful Hidayat, Wakil Walikota Jakarta Pusat, Bayu Meghantara, mengingatkan kaum muda akan ancaman global.

“Kami tahu bahwa ada ancaman global terhadap kaum muda dan masyarakat, seperti pemanasan global, bencana alam, penyalahgunaan obat-obatan terlarang, kekerasan, terorisme dan radikalisme. Oleh karena itu mari kita bekerja sama untuk kebaikan bersama sehingga tercipta cinta sejati dan kedamaian dalam dunia ini, “katanya.

ucanews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi