UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Paus Fransiskus Akan Melakukan Kunjungan Khusus ke Myanmar Akhir 2017

Agustus 8, 2017

Paus Fransiskus Akan Melakukan Kunjungan Khusus ke Myanmar Akhir 2017

Seorang imam sedang mendengarkan pengakuan di provinsi Shan, Myanmar. Ada sekitar 700.000 Katolik di negara mayoritas Budha tersebut. (ucanews.com)

Paus Fransiskus akan fokus untuk memperbaiki masalah sekitar satu juta Muslim Rohingya saat mengunjungi Myanmar, pada kunjungan kepausan pertama ke negara tersebut, pada minggu terakhir bulan November setelah diundang secara pribadi oleh Presiden Htin Kyaw.

Berita tentang kunjungannya, telah bocor keluar dari Vatikan tetapi diperkirakan tidak akan diumumkan secara resmi sampai bulan depan, telah menarik kemarahan kelompok Buddhis garis keras yang telah melakukan kekerasan sektarian dan demonstrasi, terutama terhadap orang-orang Rohingya dan orang-orang Muslim lainnya, Selama lima tahun terakhir.

“Tidak, tidak, jangan datang,” “jangan berkunjung jika Anda datang ke Myanmar untuk orang Bengali,” dan “kami menentang kunjungan tersebut jika dia menggunakan kata Rohingya,” kata beberapa umat Buddha di halaman Facebook mereka.

Uskup Raymond Sumlut Gam dari Banmaw di Negara Bagian Kachin mengatakan bahwa kunjungan Paus Francis ke Myanmar kemungkinan besar terjadi, meskipun dia mengatakan bahwa dia belum diberitahu secara resmi.

“Para uskup Katolik mengundang Paus Francis sebelumnya pada peringatan 500 tahun Katolik di Myanmar pada akhir 2014,” kata Uskup Gam kepada ucanews.com.

“Beberapa perbaikan telah terjadi seperti hubungan diplomatik antara Myanmar dan Vatikan ditambah dengan penunjukan nuncio apostolik,” katanya.

Paus mengubah programnya di menit akhir dimana pemimpin 1 miliar umat Katolik di dunia tersebut membatalkan sebuah rencana perjalanan ke India setelah diancam oleh pemerintah negara yang sangat pro-Hindu tersebut. Kunjungannya Paus ke Myanmar akan menjadi kunjungan pendahuluan sebelum mengunjungi negara tetangga Bangladesh.

Sumber-sumber Katolik senior mengatakan kepada ucanews.com bahwa Paus Fransiskus tiba di Myanmar pada 27 November untuk empat hari.

Menurut informasi yang dibagikan kepada klerus tingkat atas dua minggu yang lalu, paus berharap untuk mengunjungi pertama ibukota Naypyidaw di mana dia akan bertemu dengan Presiden Htin Kyaw dan pemimpin de facto negara tersebut, Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri Aung San Suu Kyi.

Diharapkan bahwa dia akan mengadakan setidaknya dua Misa sebelum menuju ke kota terbesar dan pusat bisnis Yangon untuk sebuah misa diluar ruangan yang besar. Diharapkan juga bahwa dia akan mengunjungi dan mengadakan Misa di Seminari Tinggi St. Joseph di Yangon.

Ada sekitar 700.000 umat Katolik di Myanmar, dilayani oleh 16 uskup, lebih dari 700 imam dan 2.200 orang religius.

Rohingya

Sebagian besar penduduk Rohingya di Negara Rakhine Myanmar telah ditolak kewarganegaraannya. Sekitar 120.000 di antaranya terjebak dalam kamp pengungsi internal di dekat ibukota negara Sittwe. Sebanyak 400.000 lainnya tinggal di negara bagian utara yang saat ini berada di bawah darurat militer.

Pers dilarang melakukan perjalanan ke wilayah tersebut namun laporan tentang kekejaman oleh militer, termasuk pemerkosaan, pembunuhan dan pembakaran telah bocor sejak tahun lalu. Kemarahan semacam itu telah memicu lebih banyak lagi teroris rumahan yang muncul karena putus asa.

Lebih dari 170.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, Malaysia, Thailand dan Indonesia – dengan kapal yang berisiko – dalam lima tahun terakhir menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Untuk sementara Paus Fransiskus tidak akan mengunjungi Negara Bagian Rakhine, dia akan terbang melewatinya dalam perjalanan ke Bangladesh, kata sumber gereja, dan mungkin menggunakan kesempatan itu untuk membuat semacam pernyataan. Ini adalah taktik paus asal Argentina tersebut, orang pertama dari luar Eropa, pernah digunakan sebelumnya.

“Dorongan utama di balik kunjungan paus adalah untuk mencoba membantu pemerintah berdamai dengan Roghinyas dan memperbaiki keadaan mereka,” kata seorang klerus senior yang mengetahui tentang kunjungan paus namun tidak berwenang untuk membicarakannya. “Ketika paus menerima undangan dari Presiden Htin Kyaw, kami mengerti dia terlibat ke sana,” kata sumber tersebut.

Pengamat percaya bahwa langkah tak terduga oleh pemerint sipil Myanmar untuk mengundang paus, pembelaan tanpa kepada pengungsi, didorong oleh keinginan mereka untuk menyingkirkan militer yang kuat demi memiliki kekuasaan efektif. Di bawah konstitusi Myanmar tahun 2008, militer mempertahankan portofolio pertahanan, perbatasan dan urusan rumah tangga yang penting, serta 25 persen kursi di parlemen.

Aung San Suu Kyi telah banyak dikritik oleh pemerintah demokratis di seluruh dunia karena sikap terhadap krisis Rohingya dan partainya Liga Nasional untuk Demokrasi mendesakan memanggil kelompok itu bukan dengan nama yang ditentukannya sendiri tapi sebagai Bengali.

“Kunjungan Paus mungkin merupakan cara baginya untuk mengubah persepsi bahwa dia mengabaikan situasi orang Rohingya, secara internasional,” kata seorang pengamat.

Nyan Win, anggota komite eksekutif sentral Liga Nasional untuk Demokrasi, tidak akan mengkonfirmasi kunjungan tersebut namun mengatakan bahwa pemerintah akan menyambut paus tersebut jika berkunjung ke Myanmar.

“Tidak ada penganiayaan agama dan kebebasan beragama di Myanmar, semua agama telah hidup bersama secara damai sehingga kami menyambut dengan gembira berita tentang kunjungan paus,” kata Nyan Win kepada ucanews.com.

 

One response to “Paus Fransiskus Akan Melakukan Kunjungan Khusus ke Myanmar Akhir 2017”

  1. Dominikus Lewuk says:

    Terima kasih atas informasinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi