UCAN Vietnam UCAN India UCAN China ucanews.com
UCAN Indonesia

Pemimpin Agama Khawatir tentang Perdamaian Dunia

Agustus 9, 2017

Pemimpin Agama Khawatir tentang Perdamaian Dunia

Tokoh agama dunia menjelang pertemuan lintasiman di sebuah tempat ibadah Budha di Tokyo, 3 Agustus

Para pemimpin agama bertemu di Jepang untuk berdoa bagi perdamaian dunia sebagai tanggapan terhadap Paus Fransiskus yang meminta mereka untuk mendorong dialog, persahabatan dan perdamaian.

Perwakilan Buddha, Shinto, Kristen, Islam, Yudaisme, Hindu dan Zoroastrianisme berkumpul di Jepang dalam doa lintas agama untuk perdamaian dunia yang diselenggarakan dari tanggal 3 sampai 4 Agustus.

Pertemuan ini diadakan pada 4 Agustus setiap tahun untuk memperingati “Pertemuan Agama” yang diadakan di Gunung Hiei pada tahun 1987.

Sekitar 2.000 orang, termasuk 24 delegasi dari 18 negara, menghadiri acara tersebut untuk memperingati 30 tahun pertemuan itu.

Pertemuan puncak antar agama diadakan di kota kuil Kyoto dan di Gunung Hiei, tempat suci paling penting untuk denominasi Tenron Jepang.

Paus Fransiskus mengirimkan sebuah surat kepada Koei Morikawa, imam besar Tendai yang sekarang, untuk dibacakan dalam Pertemuan Doa Antaragama tahunan untuk Perdamaian Dunia. Dalam suratnya untuk acara tahun ini di Jepang, Paus Fransiskus meminta peserta untuk bekerja dan berdoa untuk mendorong dialog, persahabatan dan perdamaian.

Pada gilirannya, dapat dikatakan bahwa acara Buddha ini telah mewarisi semangat dialog iman Paus Yohanes Paulus 1986, yakni Hari Doa sedunia untuk perdamaian di Assisi, Italia

Uskup Miguel Angel Ayuso Guixot, sekretaris Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama yang bermarkas di Vatikan, berbicara sebagai satu dari tujuh panelis dalam sebuah simposium mengenai terorisme dan agama.

“Kita harus meningkatkan kesadaran kita bahwa perang apapun tidak sesuai dengan ajaran agama yang benar,” kata Uskup Guixot. Dia menekankan bahwa dialog adalah sebuah kebutuhan dan bukan pilihan.

Uskup Agung Mitsuaki Takami, presiden Konferensi Waligereja Jepang, menyerukan penghapusan senjata nuklir sebagai cara untuk mendorong perdamaian. Ibu uskup agung tersebut selamat dari pemboman Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945 dan pemboman Nagasaki tiga hari kemudian, saat itu dia berada dirahim ibunya.

Sebelumnya, saat menandai peringatan 70 tahun pemboman Hiroshima dan Nagasaki, Paus Fransiskus pada tahun 2015 mengulangi seruan Gereja Katolik untuk melarang senjata nuklir dan semua senjata pemusnah massal.

“Peristiwa tragis ini masih menimbulkan rasa takeout dan rasa ngeri,” kata paus seraya menambahkan bahwa perayaan peringatan yang menyedihkan itu menjadi seruan untuk berdoa dan bekerja same demi perdamaian, untuk menyebarkan ke seluruh dunia sebuah etika persaudaraan dan iklim hidup berdampingan yang tenang di antara sesama manusia.

ucanews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jangan lewatkan

Dapatkan info terbaru secara gratis lewat newsletter UCAN Indonesia disini

© UCAN Indonesia 2017. | Kontak | Syarat Penggunaan | Privasi